2 Rumah Tabuik Gelar Ritual Maambiak Batang Pisang

 Hulubalang Tabuik Subarang melaksanakan ritual Maambiak dan Manabang Batang  Pisang di Simpang Kampuang Kaliang, Pariaman Tengah. (tomi syamsuar)

Hulubalang Tabuik Subarang melaksanakan ritual Maambiak dan Manabang Batang Pisang di Simpang Kampuang Kaliang, Pariaman Tengah. (tomi syamsuar)

PARIAMAN – Prosesi kedua Pesta Budaya Pesona Hoyak Tabuik Piaman 2017 yakni ritual Maambiak Batang Pisang dilaksanakan dua pengikut Rumah Tabuik, Senin (25/9).

Pengikut Rumah Tabuik Subarang melaksanakan ritual di Simpang Kampuang Kaliang, Kelurahan Lohong sore. Sedangkan pengikut Rumah Tabuik Pasa melaksanakan ritual Maambiak Batang Pisang di Simpang Galombang, usai Salat Magrib.

Jelang pelaksanaan ritual, dua rombongan pengikut melakukan arak-arakan dari Rumah Tabuik masing- masing. Arak-arakan diikuti ratusan orang dan dimeriahkan dengan parade gandang tasa serta hoyak
Tabuik Lenong.

Tetua Tabuik Subarang, Syafruddin Cu’uang mengatakan, ritual Maambiak Batang Pisang merupakan ritual kedua dari serangkaian ritual prosesi Pesta Budaya Tabuik. Sebelumnya telah dilaksanakan ritual
Maambiak Tanah oleh kedua pengikut Rumah Tabuik.

Dijelaskan, ritual Maambiak Batang Pisang menggambarkan tajamnya pedang yang digunakan musuh yakni Raja Yazid Bin Umaiyah saat bertempur dan akhirnya membunuh Hussen Bin Ali cucu Nabi Muhammad SAW saat perang di Padang Karbala.

Batang pisang yang diambil kemudian diarak kembali oleh pengikut ke Daraga (simbol atau replika kuburan Hussen) di Rumah Tabuik masing-masing. Rumah Tabuik Subarang di Gelombang dan Rumah Tabuik Pasa di Karan Aur.

Pada malam harinya, arak-arakan kedua pengikut yang usai melaksanakan ritual Maambiak Batang Pisang dan hendak kembali ke Rumah Tabuik masing-masing akan berselisih di Simpang Tabuik, Kampuang Cino. Saat berselisih, kedua pengikut terlibat saling ejek yang berujung huru-hara dan bentrokan.

Setelah Maambiak Batang Pisang, ritual selanjutnya yakni Maatam (pengikut Rumah Tabuik berkeliling Daraga) yang merupakan simbol kesedihan atas wafatnya Hussen, dan dilanjutkan dengan ritual Maarak Jari-jari. (tomi)