41 Tahun Jadi Guru, Nenek Cici: Saya ke Tanah Suci Sama Allah

(Nenek Cici bersama para petugas haji Indonesia. Foto Okezone/Rani Hardjant)
MAKKAH – Ketika para jamaah hiruk pikuk mencari koper dan sebagian besar sudah di kamar hotel, Nenek yang satu ini tampak tenang duduk di lobi hotel.

“Nenek ke sini sama siapa?” tanya Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Kementerian Agama Sri Ilham Lubis, yang saat itu tengah meninjau kedatangan jamaah di Hotel Timaa Al-Shisha, Kota Makkah, Rabu (9/8/2017) pukul 22.30 WAS atau Kamis (10/8/2017) atau sekira pukul 02.30 WIB.

Dengan nada pelan Nenek itu menjawab, “Saya ke sini sama Allah.”
Meski pelan, namun jawaban Nenek itu mencerminkan prinsip Tauhid yang sangat mendalam.

“Subhanallah Nenek, ke sini sama Allah,” ujar ibu Sri dengan nada terkejut. Orang di sekeliling pun langsung bersimpati kepada sang Nenek.

“Nama saya Cici Sunarsih dari Tasikmalaya,” ujar Nenek.

Petugas kesehatan yang sudah bersiaga pun langsung melayani Nenek Cici.

“Kaki saya agak sakit, tadi di dalam perjalanan kaki saya nggantung (tidak menginjak lantai bus),” ujarnya sambil diperiksa tim kesehatan dan pendampingan dari rombongan.

Meski raganya berusia 75 tahun, namun sorotan matanya penuh semangat dan tidak tampak kelelahan. Padahal Nenek Cici baru saja menempuh perjalanan sekira 6 jam dari Kota Madinah.

Nenek itu mulai bercerita bagaimana dirinya bisa sampai ke Tanah Suci.

“Saya dibiayai sama anak-anak saya,” tutur Nenek yang juga ibu 4 anak ini.

Melanjutkan cerita, ternyata semasa hidupnya dia mengabdi sebagai guru. Bahkan, dia adalah seorang mantan Kepala Sekolah di SDN Sukawiyana, Tasikmalaya.

“Saya sudah mengajar 41 tahun. Tapi saya sekarang sudah tidak mengajar. Dulu saya mengajar matematika,” ujar Nenek Cici.

Ditanya lebih dalam, ternyata sang suami juga seorang Kepala Sekolah. Lokasinya tidak jauh dari SD Sukawiyana. “Bapak sudah meninggal 16 tahun lalu,” imbuhnya.

Nenek Cici menceritakan, untuk bisa sampai ke SD Sukawiyana dirinya harus mengayuh sepeda sekira 3 km. Penghasilannya sebagai guru pun belumlah mencukupi untuk berangkat haji kala itu.

Setelah pensiun, dia justru diberi jalan untuk menginjakkan kakinya ke Tanah Suci. Anak-anaknya, yang juga berprofesi sebagai guru, sepakat untuk membuatkan tabungan haji.

Setelah uang terkumpul, lalu Nenek Cici mulai mengantre selama 6 tahun. Alhamdulillah, perjuangan panjangnya berbuah manis. Kini Nenek Cici sudah berada di Kota Makkah.

Lalu doa apa akan dipanjatkan Nenek Cici di depan Kakbah?

“Saya cuma ingin berdoa, supaya anak-anak dan cucu-cucu saya bisa ke sini juga. Itu saja,” ujar Nenek 9 cucu ini. (aci)

agregasi okezone1