Toko Taki
Menu Click to open Menus
Toko Taki
Home » Komentar » Bangkit Memilih Pemimpin Profetik

Bangkit Memilih Pemimpin Profetik

(83 Views) May 21, 2013 7:25 am | Published by | No comment

PARNI HADI — Pada 20 Mei, kita peringati sebagai Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) untuk mengingat arti penting berdirinya organisasi Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 bagi perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda. 

Peristiwa itu kita peringati karena itu menandai timbulnya kesadaran anak bangsa Indonesia untuk berorganisasi, menyatukan diri, untuk melawan penjajahan dengan menggunakan kemampuan intelektual.
Sejak itu disadari, perlawanan terhadap penjajah secara sendiri-sendiri di berbagai daerah dengan kekuatan senjata tidak berhasil, maka perlu ditempuh cara lain, dengan bersatu dan mengutamakan kemampuan akal-budi.
Sesuai dengan semangat dan perkembangan jamannnya, Harkitnas 2013 yang berlangsung sekitar setahun sebelum Pemilihan Umum 2014 perlu kita maknai secara khas. Pemilu adalah peristiwa sangat penting yang akan menentukan nasib bangsa Indonesia ke depan.
Maraknya praktik politik transaksionalisme atau politik uang (money politics), yang menyuburkan praktek korupsi di hampir semua urat nadi pranata birokrasi dan sosial sejak gerakan reformasi harus segera kita akhiri.
Harkitnas 2013 perlu kita maknai sebagai kebangkitan nasional untuk menyatukan semua kekuatan pro-Indonesia yang lebih baik dengan menggunakan kekuatan akal-budi (intelektual dan spiritual) dan menempuh cara-cara yang lebih cermat, tepat, hemat, bermanfaat dan bermatabat, sehingga kita selamat di dunia dan akhirat.
Kita hindari cara-cara kekerasan, kita utamakan intelektualitas dan spiritualitas dengan merujuk kearifan-kearifan yang bersumber pada khasanah nilai-nilai luhur budaya bangsa peninggalan bapak-bapak dan ibu-ibu pendiri bangsa (the founding fathers and mothers).

Salah satu cara itu, menyadarkan para calon pemilih untuk tidak memilih orang-orang yang telah terbukti mempunyai rekam jejak dan kecenderungan berperilaku korup untuk menjadi pemimpin di segala cabang dan lini kekuasaan legislatif dan eksekutif.
Bersamaan dengan itu, mereka yang mencalonkan diri perlu kita ingatkan dan sadarkan untuk bercermin kepada perilaku luhur dari para pejuang bangsa yang telah mendahului kita.

Pemimpin kenabian
Ciri menonjol perilaku luhur para pejuang bangsa kita, laki-laki maupun perempuan, adalah semangat kerelawanan, berjuang secara sukarela, tanpa pamrih demi kemerdekaan dan kemajuan bangsa.
Semuanya diabdikan untuk tujuan mulia dan sekaligus beribadah kepada Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa. Sifat-sifat utama seperti itu lah yang kami rangkum dalam istilah profetik atau kenabian.
Singkat kata, bangsa Indonesia, saat ini dan seterusnya, melalui mekanisme yang telah kita sepakati, memerlukan pemimpin yang meneladani sifat-sifat para nabidan orang-orang suci dari lintas agama dalam menjalankan kekuasaannya atau pemimpin profetik (prophetic leader).
Bagi umat Islam, pemimpin profetik tentu saja pemimpin yang berusaha meneladani dan menjalani akhlak mulia Nabi Muhammad SAW dalam tugasnya sehari-hari, sidiq (benar), tabligh (menyampaikan kebenaran dengan cara mendidik), amanah (dapat dipercaya) dan fathonah (penuh kearifan).
Semuanya dilakukan secara sukarela, ikhlas, tanpa pamrih, selalu siap membantu siapa saja dengan dan karena Cinta sebagai ibadah kepada Allah, sang Maha Pecinta. Bukan kekuasaan, harta dan pujian yang diharapkan, melainkan ridha Allah semata.
Bangsa Indonesia telah melahirkan sejumlah putera/i terbaiknya yang layak disebut tela menjalankan kepemimpinan kenabian karena pengabdian dan pengorbanannya yang telah terbukti besar, tak ternilai demi bangsa dan negara.
Tentu tiada manusia yang sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Terlepas dari kekurangannya sebagai manusia, di antara mereka yang layak disebut telah menjalankan tugas pemimpin kenabian termasuk dwi tunggal proklamator, Soekarno-Hatta, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Panglima BesarSudirman, Haji Agus Salim dan para penerima gelar pahlawan nasional lainnya.
Khusus untuk almarhum Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Raja Yogyakarta dan mantan Wakil Presiden RI, yang tahun ini genap 101 tahun, Ikatan Relawan Sosial Indonesia (IRSI) telah menerbitkan buku berjudul Sultan Hamengku Buwono IX: Inspiring Prophetic Leader.
Beliau rela menyerahakan kerajaan Yogyakarta yang berdaulat menjadi bagian Republik Indonesia sehari setelah Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan. Ketika ibukota Jakarta tidak aman karena ancaman tentara NICA dan Belanda, Sultan HB IX mengundang ibu kota pindah ke Yogyakarta, segala keperluan pemerintahan, termasuk dana disediakan keraton.
Ketika pimpinan tentara Belanda ingin menggeledah keraton karena diduga tempat persembunyian gerilyawan, Sultan menjawab: “Langkahi dulu mayatku sebelum Anda masuk keraton.”
Ia sangat peduli pendidikan dengan mendirikan Universitas Gajahmada. Ia menyumbangkan enam juta Gulden (uang Belanda) pada tahun 1949 untuk modal pemerintah Indonesia. Ia sangat merakyat, suka blusukan ke daerah-daerah dengan mengemudi mobilnya sendiri, hingga sering tidak diketahui rakyatnya.
Pernah menolong menangkut dagangan penjual perempuan. Ketika penjual itu mau membayar ongkos dan uangnya ditolak, si pedagang marah-marah. Tapi, begitu tahu si sopir adalah Sri Sultan, rajanya, si pedagang langsung jatuh pingsan. Masih banyak kisah lain untuk diteladani.
Untuk menunjukkan semangat kerelawanannya, ketika semua kisah itu mau dibukukan, Sultan menjawab: “Untuk apa? Saya hanya melaksanakan pesan para leluhur saya. Kalau rakyat tidak tahu atau dan tidak ingat, tidak apa-apa.”
Benar-benar, ia menyerahkan tahta untuk rakyat, bukan seperti sekarang rakyat untuk tahta.

Mengarusutamakan peranan perempuan
Peringatan Harkitnas 2013 juga harus mengarusutamakan peranan perempuan, karena Ibu adalah pelaku penyadaran pertama anak-anak yang dilahirkan dan diasuhnya akan lingkungan, sesama hidup, ilmu pengetahuan dan Ketuhanan.
Ibu adalah pembangkit pertama kesadaran akan baik dan buruk, benar dan salah, utama dan hina. Sebagai pembangkit, penumbuh dan penyubur nilai-nilai, perempuan adalah ibu dari kebudayaan dan bahkan Ibu dari peradaban.
Dalam konteks menuju Indonesia yang lebih baik, perempuan adalah Ibu yang melahirkan, membangkitkan kesadaran, mendidik, menyiapkan dan sekaligus memilih dengan suara terbanyak dalam pemilu untuk memunculkan pemimpin kenabian.
Begitu pentingnya peranan perempuan dalam kehidupan keluarga, masyarakat dan bangsa, dan tentu saja kehidupan politik, maka pemberdayaan perempuan dan pengarusutamaan peranan perempuan untuk kebangkitan nasional menuju Indonesia yang lebih baik mutlak hukumnya.
Untuk itu, IRSI akhir-akhir ini bersama mitra kerjanya, antara lain Dompet Dhuafa, Yayasan Indocare dan Radio Republik Indonesia, telah mencoba membuat langkah-langkah kecil seperti gerakan sejuta kacamata untuk perempuan Indonesia.
Terakhir, bersama Muslimat Nahdlatul Ulama, IRSI memulai Gerakan Perempuan Indonesia Menulis (GPIM). Perempuan yang berdaya antara lain harus bisa membaca dan menulis untuk mengekspresikan aspirasinya.
Untuk memberi makna khas Harkitnas, IRSI bersama PT Mustika Ratu, produsen obat komestik tradisional, Minggu (19/5) dan para mitra kerja mengadakan diskusi buku Sri Sultan Hamengku Buwono IX: Inspiring Prophetic Leader dan nilai-nilai luhur Paku Buwono X, raja Surakarta, yang telah mendapat gelar pahlawan nasional.
Semua pemibicaranya perempuan, Mooryati Soedibyo, pendiri PT Mustika Ratu, Dewi Motik Pramono, Ketua Umum Kowani, dan Niken Widiastuti, Dirut RRI.
Saya sebagai editor buku itu, hanya memberi pengantar singkat. Semua pembicaraan diarahkan untuk melengkapi upaya demi kebangkitan nasional untuk Indonesia yang lebih baik dengan cara memilih pemimpin profetik. (*)

Categorised in:

No comment for Bangkit Memilih Pemimpin Profetik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>