Toko Taki
Menu Click to open Menus
Home » Komentar » Banjir Ulah Manusia

Banjir Ulah Manusia

(32 Views) January 19, 2013 7:13 am | Published by | No comment

SAWIR PRIBADI

Sebelum masuk waktu Shalat Jumat kemarin, seorang teman memberikan sebuah pernyataan yang membuat saya termangu. Menurut dia, banjir yang terjadi di Jakarta dan di mana-mana adalah ulah manusia yang merusak keseimbangan alam. Padahal, jumlah air yang ada di atas bumi ini tidak berubah.
Artinya keberadaan air tidak bertambah dan tidak berkurang. Hujan yang berketerusan juga bermula dari penguapan air di laut, lantas menggumpal menjadi awan dan jatuh ke bumi, lanlu diserap lagi oleh tanah. Begitu seterusnya.
Banjir yang terjadi di daerah selama ini adalah ulah manusia yang tanpa dosa menebang pepohonan. Manusia sangat bernafsu untuk membabat hutan, lantas dibiarkan begitu saja setelah kayu-kayunya dibawa dan dijadikan dolar, tanpa mau menanam kembali. Sebagian lagi dijadikan lahan dan kawasan perumahan. Padahal akar-akar kayu berfungsi menyerap air.
Lantas bagaimana dengan banjir yang terjadi di kota besar seperti Jakarta sekarang? Jawabnya juga ulah manusia. Tanpa sadar, tanah yang selama ini berfungsi sebagai resapan air, telah berganti dengan aspal dan beton. Air dengan lancarnya mengalir di atas beton-beton licin. Bahkan aliran air bisa dengan kecepatan tinggi, tanpa mau mampir ke dalam tanah, lantaran memang tak ada celah untuk masuk ke bumi.
Sifat air tentu saja mencari tempat yang rendah. Maka marasailah penduduk yang tinggal di kawasan kerendahan itu. Apakah ini terpikirkan oleh pemerintah dan oleh kita selama ini?
Ya, Jakarta sekarang tentu bukan Jakarta puluhan tahun silam. Jika tiga puluh atau empat puluh tahun lalu masih ada ruang-ruang kosong di Jakarta yang bisa sebagai daerah resapan, sekarang justru telah berganti dengan gedung-gedung tinggi. Gedung itu terbikin dari beton, mulai dari halaman sampai ke puncaknya.
Halaman dan pekarangannya terlihat bersih tanpa tanah. Bahkan, untuk membuang sampah saja nyaris tak ada tempat. Akibatnya sebagian di antara warga terpaksa membuangnya di sungai atau di selokan. Sampah-sampah yang hanyut, nyangkut di mana saja dan akhirnya menghalangi air. Semakin lama, sampah kian menumpuk, lantas air naik ke daratan. Banjir!

Apalagi, bantaran sungai di Jakarta sudah menjadi rimba bangunan, kian mempersempit permukaan sungai. Ketika debit air bertambah, ditampung oleh permukaan sungai yang kecil atau sempit jelas akan merambat ke daratan. Banjir lagi.
Inilah kelalaian manusia itu. Semua tanah dilantai beton dan aspal. Tak ada lagi celah bagi air untuk kembali masuk ke dalam tanah. Kalaupun dibuat gorong-gorong, ukurannya sempit. Jangankan bisa menampung air dari hujan berhari-hari, untuk hujan dua atau tiga jam saja sudah sulit. Akibatnya beginilah, Jakarta berubah menjadi lautan.
Jalanan yang selama ini macet oleh kendaraan bermotor, berubah menjadi sungai, areal parkir, halaman mall, dan tempat-tempat lain berubah menjadi danau. Bahkan, bangunan apa saja dimasuki oleh air. Jakarta benar-benar menjadi lautan.
Dengan kondisi begini, setahun, dua tahun bahkan sampai sepuluh tahun ke depan, Jakarta tidak akan pernah bebas dari banjir, kecuali memang dibuatkan daerah resapan, riol bebas dari sampah dan normalisasi sungai yang terencana.
Di Padang juga begitu. Banjir yang terjadi selama ini adalah ulah manusia. Daerah resapan air sudah semakin berkurang. Tanah yang selama ini diharapkan menyerap air telah berganti perumahan. Sialnya perumahan banyak yang tidak dilengkapi dengan sistem drainase yang memadai.
Belum lagi, kebiasaan warga yang membuang sampah di sembarang tempat, semakin menambah potensi banjir di kala hujan lebat melebihi dua atau tiga jam.
Apakah kita tidak juga sadar? (*)

 

Categorised in:

No comment for Banjir Ulah Manusia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>