BI Jual Cadangan Devisa untuk Selamatkan Rupiah

Ilustrasi (antara foto)
Ilustrasi (antara foto)

JAKARTA – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan Jumat pgi sempat anjlok hampir 4%. Bahkan rupiah sempat menembus level Rp13.731 per USD.

Ekonom Maybank Indonesia Myrdal Gunarto mengungkapkan, hal ini merupakan dampak dari pemilihan presiden Amerika Serikat beberapa waktu lalu. Selain itu, juga terdapat sentimen dari pasar obligasi AS yang berdampak pada pasar obligasi di Indonesia.

“Pelemahan Rupiah hari ini yang sempat melonjak hingga Rp13.800 dipicu oleh kenaikan nilai NDF (non-deliverable forward) rupiah terhadap dolar semalam karena pelaku pasar melakukan aksi hedging besar-besaran mengantisipasi faktor ketidakpastian global yang tinggi pasca-terpilihnya Trump jadi Presiden,” kata Myrdal dalam pesan singkatnya kepada Okezone di Jakarta, Jumat (11/11).

“Aksi jual obligasi AS juga berdampak terhadap penjualan di pasar obligasi lokal,” imbuhnya.

Keadaan ini pun direspons oleh Bank Indonesia (BI) secara cepat. BI pun melakukan intervensi dengan cara melepas sebagian cadangan devisa untuk kembali memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

“Hal tersebut kemudian direspons oleh Bank Indonesia untuk intervensi di pasar keuangan dengan cara menjual cadangan devisanya untuk dikonversi ke obligasi pemerintah. Langkah intervensi tersebut kemudian membuat pasar keuangan domestik menjadi lebih stabil,” tuturnya.

Intervensi tersebut telah berdampak pada stabilnya Nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS. Rupiah pada jeda siang kali ini bergerak di kisaran Rp13.200-an per USD.

Berdasarkan data Bloomberg Dollar Index, rupiah pada perdagangan Spot Exchange Rate di pasar Asia melemah 148 poin atau 1,12% ke Rp13.285 per USD. Adapun pergerakan harian Rupiah berada di level Rp13.238-Rp13.873 per USD.

Sementara Yahoofinance mencatatrupiah berada di level Rp13.270 per USD atau melemah 170 poin (1,60%). Dalam pergerakannya terlihat rupiah bergerak dalam kisaran Rp13.250 hingga Rp13.723 per USD.

Menurut Myrdal, nilai tukar rupiah ini akan bertahan cukup lama pada level Rp13.300. Salah satu penopangnya adalah adanya aliran dana masuk dari program tax amnesty hingga akhir tahun 2016.

“Dana repatriasi dari tax amnesty juga diproyeksikan akan tetap menjaga kestabilan Rupiah di kisaran level 13.300 pada akhir tahun. Rupiah yang lemah akan menjadi daya tarik bagi wajib pajak yang ingin merepatriasi dananya ke dalam negeri,” tutupnya. (aci)