BPJS Ringankan Beban Nagita Oktavia

PADANG – Di awal 2016, seorang bocah bernama Nagita Oktavia, (15 bulan) divonis dokter menderita meningitis. Meningitis, infeksi pada meninges (selaput pelindung) yang menyelimuti otak dan saraf tulang belakang. Ketika meradang, meninges membengkak karena infeksi yang terjadi.

Nagita, tercatat sebagai pasien umum di RSUP M. Djamil Padang. Biaya pengobatan, yang derita gadis mungil itu mencapai puluhan jutaan rupiah. Sebuah angka yang cukup besar bagi ayahnya Rekza, yang bekerja sebagai buruh serabutan dengan penghasilan, dapat pagi habis petang hari.

Selama dirawat beberapa hari, biaya obat dan perawatan mencapai Rp8 juta lebih. Ketika Nagita dirawat, orangtuanya hanya berbekal uang ratusan ribu. Uang itu pun, sumbangan keluarga, tetangga dan karib kerabat mereka. Saat itu Nagita, dirawat di HCU. Tarif ruangan semalam R400 ribu. Risaulah hati orangtua Nagita.

Guna memecahkan persoalan keuangan yang melanda keluarga Nagita, pihak RSUP M. Djamil Padang menyarankan keluarga Nagita mendaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan.

Saran itu dijalani Ketty, (33) ibunda Nagita. Dia mendaftarkan anaknya sebagai peserta BPJS Kesehatan. Sayangnya, karena dirawat sebelum punya kartu BPJS Kesehatan, kartu hebat itu tak bisa dipergunakan. Mengingat kartunya belum keluar dan baru bisa dipakai setelah 14 hari pendaftaran. Nagita, kata ibunya peserta mandiri, yang mengambil kelas 2.

Ketty, kepada wartawan ketika itu mengatakan, awalnya dia tidak begitu “ngeh” akan pentingnya sebuah kartu BPJS Kesehatan. Meski dia pernah mendengar tentang BPJS Kesehatan. Setelah anaknya sakit dan butuh uang banyak untuk berobat, barulah dia sadar, akan manfaat kartu hebat dari pemerintah tersebut.

“Awalnya saya tidak pernah peduli. Walau saya sudah dengar iklan, lihat spanduk yang promosi agar ikut peserta. Tapi saya tidak pernah tertarik. Sekarang baru saya sadar,” ujarnya.

Setelah mengingat dan menimbang kondisi keuangan mereka, akhirnya Ketty, memutuskan anaknya dirawat di rumah. Jika tetap bertahan di rumah sakit, butuh puluhan juta rupiah untuk menyedot cairan di kepala Nagita.

Nagita ketika itu dianggap pulang paksa oleh pihak rumah sakit, sebab dokter tidak memberi izin untuk pulang. Tapi, kedua orangtuanya tetap bersikeras dan berjanji membawa anaknya kembali ke rumah sakit, ketika kartu BPJS nya keluar.

Menurut Ketty, apa yang dia alami merupakan pengalaman berharga bagi dirinya. Diharapkan jadi pelajaran bagi masyarakat ekonomi ke bawah, yang belum menjadi peserta BPJS Kesehatan.

“Pesan saya cuma satu. Buat yang belum jadi peserta BPJS Kesehatan, segeralah mendaftar. Kita baru akan tahu manfaat BPJS Kesehatan, kalau sudah sakit, sedangkan uang tidak ada. Seperti saya sekarang, benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan,” ujar Ketty, ketika itu.

Ketika itu, Ketty, berjanji akan kembali membawa anaknya ke rumah sakit. Tentunya berbekal kartu hebat dari pemerintah, yang dari tahun ke tahun meningkat jumlah pesertanya.

“Kartu BPJS Kesehatan, benar-benar membantu orang seperti saya. Terima kasih BPJS Kesehatan, terutama pada pemerintah yang sudah membuat program ini,” ujar Ketty.

Informasi dari Pejabat Pemberi Informasi dan Dokumentasi RSUP M. Djamil Padang, Gustafianof, pada Singgalang, banyak pasien umum yang mereka sarankan menjadi peserta BPJS Kesehatan. Kebanyakan dari para pasien umum tersebut banyak yang tidak tahu manfaat BPJS Kesehatan, bagi keluarga mereka.

Berdasarkan hasil survei nasional, yang dilakukan Survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS) dirilis Selasa (13/9-2016). Kepuasan publik terhadap program strategis pemerintah pusat, khususnya layanan kesehatan oleh BPJS Kesehatan 80,3 persen. Angka itu naik dibanding 2015, dengan persentase 62 persen.

Sebuah angka yang terbilang sempurna untuk ukuran kinerja sebuah lembaga atau instansi. Data dari hasil survei nasional itu, masyarakat yang paling merasakan kepuasan terhadap BPJS Kesehatan, mereka yang berada di pedesaan.

Data dari infobpjs.net hingga Maret 2016, jumlah peserta BPJS Kesehatan secara nasional 163.327.183 jiwa. Sedangkan di Kantor BPJS Cabang Padang-Sumatera Barat, jumlah peserta BPJS Kesehatan dari tahun ke tahun juga meningkat. Hingga September ini pesertanya 715.801 jiwa.(Yuke)