Brussel Kota Tua yang Gagah

brusselBRUSSEL kota tua, salah satu kaki dari sejarah uang di dunia, tempat awal sejarah bertolak di Eropa bersama kota-kota penting lainnya. Siang, menyambut kami di bawah guyuran hujan dan angin kencang.

Jalan kecil dengan bangunan tua di sisi-sisinya. Inilah kota tua yang gagah. Kafe dengan kursi-kursi tertata sepanjang trotoar di sana romantisme dan senda gurau kehidupan kota dapat disaksikan. Saya hadir di situ bersama rombongan nun jauh dari Indonesia.

Minggu (2/10) pukul 05 sore (22.00 WIB) suhu di luar ruangan 14 derajat celcius. Ditambah angin yang bertiup kencang. Lengkap sudah. Saya melangkah di trotoar basah. Saya tenggelam di antara orang-orang berhidung mancung.

Saya dan rombongan distributor Semen Padang berjalan kian menjauh dari hotel kami, Warwick tak jauh dari Grand Place, alun-alun paling tua di sini. Hotel dengan tarif terendah 525 Euro per malam atau sekitar Rp7,5 juta, mahal. Meski hujan, tak soal sebab Brussel adalah kota dengan jalan yang kecil, khas kota tua Eropa.

Banyak sekali jalan yang hanya untuk pejalanan kaki, hanya mobil polisi yang boleh masuk. Di jalan itu gadis-gadis Eropa lalu lalang berpeluk manja pada pasangannya. Yang lain bergegas membawa koper besar menuju hotel. Entah dari mana dia.

Semua orang berjaket tebal tapi belum setebal musim dingin. Waktu terus bergerak menuju senja. Saya, Desri Ayunda, Asri Mukhtar dan kemudian bergabung Benny Wendry mencicipi kopi pada sepotong waktu di Kafe Delirium di Jalan Rue Des Brussel, terpaut 13 ribu Km lebih dari Padang tapi beberapa langkah saja dari alun-alun tua kota itu.

Dari kami datang ke patung perak, anak lelaki itu terus-menerus pipis. Inilah tempat wisata incaran turis. Terletak di Jalan Rue Du Cene, di sisi toko cokelat terkenal Rudolf Braun yang didirikan pada 1899. Cokelat hangat itu membuat antre yang panjang.

Di Manneken Pis, jalan bersimpang empat. Si kecil antik itu merupakan landmark yang menjadi tempat wisata terkenal di Brussel. Manneken Pis dirancang Hieronymus Duquesnoy Elder antara 1618 hingga 1619. Dikira besar rupanya patung kecil saja.

Atomium
Kemarin tatkala bus memasuki Belgia dari Belanda, saya seperti melihat dua orang kembar. Satu Belanda satu lagi Belgia. Bus terus melaju di jalan mulus menuju sebuah tempat wisata, Atomium.

Ini sebuah taman yang luas dengan median jalan taman yang luas dan sebuah air mancur. Di pangkal taman ini ada bangunan bernama Atomium, seperti rangkaian atom, tapi sebesar gaban.

Inilah ikon yang menampilkan sembilan bola baja tahan karat. Bola-bola itu dihubungkan dengan tabung metal besar untuk menyerupai sebuah kristal besi. Awalnya dibuat sebagai atraksi utama untuk World Expo 1958 Belgia. Pengunjung dapat memasuki empat bola teratas Atomium yang salah satu bola berisi restoran, sedangkan bola-bola lainnya memajang pameran permanen.

Operator wisata yang membawa kami, Antavaya Surabaya menceritakan detail bangunan itu. Tak lama di sini bus bergerak di jalan mulus menuju jantung kota.

Hard Rock
Kami sudah lupa patung kecil. Lupa Atomium. Yang teringat baju Hard Rock. Bukankah lagak orang suka raun-raun harus membeli baju Hard Rock seperti saya ini. Di atas itu tak terbeli. Ini pun sehelai saja sebagai syarat. Syarat lainnya berfoto-foto dengan berbagai gaya dan tentunya berkacamata hitam.

Hard Rock ada di jalan kecil di salah satu sudut Grand Place. Grand Palace, sejarah yang sudah kelelahan. Tua. Alun-alun generasi pertama di Eropa ini selalu siap menunggu tamu. Dikelilingi tujuh bangunan tua bertingkat-tingkat dengan restoran di dalamnya. Lapangan besar di tengah-tengah bagai pentas sejarah dan bak latar depan pelaminan. Orang ramai berfoto dengan gaya apa saja, terutama gaya universal, berkodak selfie.

Kami pun melakukan hal sama. Alun-alun ini bagai nenek yang baik dan ramah. Kami di sini mampir ke sebuah restoran yang berusia lebih 100 tahun.

Inilah Brussel ibukota Uni Eropa ini, sejak Perang Dunia Kedua berakhir, menjadi pusat politik internasional. Ke sinilah politikus dunia, diplomat dan orang-orang penting lainnya.

Malam telah rebah. Tak ada rembulan di langit, yang ada kafe-kafe hangat dengan orang berkisah satu sama lain. Kisah tentang apa saja. (kj)