Toko Taki
Menu Click to open Menus
Toko Taki
Home » Serbaneka » Budaya Minang Bisa Jadi Asing di Negeri Sendiri

Budaya Minang Bisa Jadi Asing di Negeri Sendiri

(92 Views) January 10, 2013 6:15 am | Published by | No comment

PADANG — Kendati secara faktual, Hanung Bramantyo dan Raam Punjadi pantas diduga melukai kebudayaan lokal Minangkabau. Namun di sisi lain, orang Minang juga pantas berterima kasih kepada sutradara dan produser itu, karena telah menegur agar waspada terhadap ancaman budaya asing.

“Kami mengajak kepada seluruh orang Minang, khususnya yang punya konsen di bidang seni, agar membuat karya-karya semisal film yang dapat mengangkat budaya Minangkabau sebagai bagian tak terpisahkan dari budaya nasional,” ujar ketua dan sekretaris Dewan Pengurus Pusat Ikatan Pemuda Pemudi Minangkabau Indonesia (DPP IPPMI), Muhammad Raffik dan Dedi Warman, dalam pernyataan tertulisnya yang disampaikan kepada Singgalang, Rabu (9/1).
Menurut Dewa, sapaan akrab Dedi Warman, selain ditujukan kepada segenap lapisan masyarakat Minangkabau, pernyataan sikap itu juga disampaikan kepada Lembaga Sensor Film (LSF) dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).
Dikatakan, bila tak dapat disikapi dengan bijak, DPP IPPMI khawatir, lambat-laun budaya asing akan menjajah budaya luhur kita, sehingga budaya Minang akan dianggap asing oleh bangsa sendiri.
Dalam hal ini, tegas Dewa yang berasal dari Padang Pariaman itu, DPP IPPMI berterima kasih (dalam tanda kutip) kepada Hanung dan Raam, karena telah menggugah orang Minangkabau untuk sadar, bahwa budayanya dalam ancaman agen-agen budaya asing.
Adalah fakta yang tak bisa diingkari, menurut Dewa, Hanung dan Raam telah dengan sengaja atau tidak melukai kebijaksanaan lokal suku bangsa Minangkabau yang bersafah adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah (ABS-SBK).
Falsafah ini, tandasnya, sekaligus menjadi pandangan hidup orang Minangkabau yang memiliki konsekuensi logis dalam bentuk hukum adat.
“Jika ada orang Minang yang keluar dari Islam akan mendapatkan sanksi adat tertinggi, dibuang sepanjang adat. Artinya tidak diakui lagi sebagai orang Minang.
“Dalam film Cinta tapi Beda, sebut dia, dengan jelas menyampaikan pesan orang Minang bukan hanya beragama Islam. Ini jelas informasi yang nyata-nyata bohong dan tak akan diterima,” sebutnya.
Ditegaskan, besar dugaan Hanung dan Raam dengan telah melukai bangsa Indonesia yang berideologikan Pancasila dengan sembiyan Bhinneka Tunggal Ika, bukan pluralisme. Dalam film Cinta tapi Beda dengan gamblang malah mempromosikan paham pluralisme yang menganggap semua agama sama benarnya.
Padahal, ujarnya, negara Pancasila adalah negara yang mengakui dan melindungi keberadaan semua agama, tetapi bukan mengakui semua agama sama benarnya.
Seiring dengan munculnya kasus film Cinta Tapi Beda, DPP IPPMI mendesak pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan agar bisa berusaha maksimal menjunjung tinggi nilai-nilai budaya luhur bangsa yang berideologikan Pancasila, bukan pluralisme. Karena itu, menurut Dewa, perlu segera dirumuskan langkah-langkah konret untuk melindungi budaya nasional agar tidak jadi pecundang di hadapan budaya global.
“Kami menuntut Hanung dan Raam agar meminta maaf kepada seluruh orang Minang, karena telah teledor menyampaikan informasi yang tidak benar tentang Minang,” katanya.
Juga mendesak LSF agar menghentikan segenap upaya penayangan film Cinta Tapi Beda, karena bertentangan dengan UU Nomor 33 Tahun 2009 tentang perfilm, khususnya pasal 2 dan pasal 6 huruf C, D, E dan F. (211)

Categorised in:

No comment for Budaya Minang Bisa Jadi Asing di Negeri Sendiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>