Budayawan dan DPRD Sumbar Setuju Pembentukan Dinas Kebudayaan

Gedung DPRD Sumbar (net)
Gedung DPRD Sumbar (net)

 

PADANG – Budayawan dan Ketua DPRD Sumbar sepakat tentang pentingnya pembentukan Dinas Kebudayaan. Bidang Kebudayaan dinilai penting untuk dibuat lembaga sendiri. Terutama dalam menguatkan kebudayaan Minangkabau di tengah masyarakat. Bukan hanya sekadar sebagai adat istidat dan seni, tapi juga sebagai pembentukan akal budi dan marwah Sumbar.

Seperti diketahui, DPRD dan Pemprov Sumbar saat ini sedang membahas perubahan organisasi perangkat daerah (OPD). Dari total 41 OPD (dinas/SKPD) yang ada saat ini rencana akan tinggal 37 saja. Ada OPD yang dipisah, digabungkan bahkan dihapuskan. Salah satu yang rencananya dipisah adalah Dinas Pendidikan Kebudayaan menjadi dua dinas, yakni Dinas Pendidikan dan Dinas Kebudayaan.
Pengesahan perubahan OPD rencananya dilaksanakan hari ini, Selasa (3/10) dalam rapat paripurna di DPRD Sumbar. Pengesahan dalam bentuk peraturan daerah (Perda). Setelah pengesahan perda itu, perubahan ini akan diimplementasikan mulai Tahun 2017 mendatang.
Membahas tentang pembentukan Dinas Kebudayaan ini, sejumlah budayawan sudah bertemu langsung dengan Ketua DPRD Sumbar, Hendra Irwan Rahim. Hendra sependapat dengan para budayawan tentang pentingnya Dinas Kebudayaan.
Selama ini, bidang kebudayaan digabungkan pada bidang lain. Semisal dulu pernah dengan bidang pariwisata menjadi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Lalu sekarang bergabung dengan bidang pendidikan menjadi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Sekarang, Hendra menilai sudah saatnya bidang kebudayaan didirikan dalam lembaga sendiri agar bisa lebih fokus dan total pengurusannya.
Budayawan Sumbar, Darman Moenir mengatakan Sumbar sudah saatnya punya Dinas Kebudayaan. Bagaimana pun, kebudayaan adalah penting sebagai pembentukan jiwa dan akal budi. Selain juga jati diri ranah Minang. Namun, kenyataannya sekarang terjadi kesalahpahaman atau anomali. Masyarakat menilai kebudayaan hanya sekadar kesenian dan adat istiadat saja. Padahal lebih dari itu. Salah satunya tentang makna adat basandi Syara’, Syara’ basandi kitabullah (ABS-SBK). Di sana adalah kebudayan pula, adalah makna dan pedoman hidup pembentuk jiwa. (titi)