Arsip | Opini

Stop Bullying Verbal pada Anak

Posted on 15 April 2014

Zeni Eka Putri–(Mahasiswa Pascasarjana Unand)–Bullying merupakan sebuah kata serapan dari bahasa Inggris. Berasal dari kata bully yang artinya penggertak, orang yang mengganggu orang yang lemah.
Korban bisa saja dari berbagai usia. Akan tetapi, yang terparah adalah apabila bullying yang diterima dari masa anak-anak. Apalagi kalau perilaku bullying telah diterima berkali-kali, sudah tentu membawa efek negatif bagi perkembangan si anak. Baca Selengkapnya

Comments (0)

Guru dan Payahnya Kualitas Pendidikan

Posted on 15 April 2014

HENDRIZAL–Dosen PPKn
Universitas Bung Hatta–Salah satu masalah pelik di negeri kita selama ini adalah tentang kesejahteraan guru yang berakibat pada payahnya kualitas pendidikan. Bagi guru berstatus PNS, apalagi sudah mendapat sertifikasi, masalah kesejahteraan tidak menjadi soal. Tapi bagi guru honorer, kesejahteraan menjadi masalah sangat besar.
Bagi guru honor ataupun guru bantu, mereka mengalami kesulitan bagaimana menyukupkan gaji Rp450 ribu untuk biaya hidup sebulan. Di Sumatera Barat ini, guru honorer di SD bahkan ada yang bergaji Rp150 juta eh ribu per bulan, diterima sekali dalam tiga bulan.
Tentu saja gaji guru tersebut dipandang masih terlalu rendah untuk tanggung jawab yang begitu besar. Apalagi di SD, seorang guru (termasuk guru honorer ataupun guru bantu) bertanggung jawab atas suatu kelas yang diasuhnya.
Bagaimana mungkin seorang guru honor ataupun guru bantu bisa maksimal mengajar dan mendidik siswanya satu kelas, sementara perutnya sendiri sering keroncongan bahkan dangdutan karena menahan lapar. Cukupkah gaji Rp450 ribu per bulan itu untuk memenuhi kebutuhan makan seorang guru sebulan? Apalagi gaji Rp150 juta eh ribu per bulan itu? Hal ini tentu berakibat terjadinya kemerosotan kualitas guru dan pendidikan kita.
Kualitas pendidikan, dalam hal ini kualitas pelajar, tentu juga bergantung pada kualitas sumber daya manusia guru. Lingkaran setan masalah kualitas SDM dan kesejahteraan guru menunjukkan selama ini komitmen pemerintah terhadap pendidikan masih rendah.
Ditambah pula, di tengah upaya peningkatan kualitas SDM dan kesejahteraan, kerap kita temui di tengah masyarakat, sebagian besar guru masih banyak yang berkesan memiliki sindrom/nostalgia masa lalu perihal pendidikan di Indonesia.
Bagaimana pada era 1950-an, Indonesia selain banyak mengekspor guru ke Malaysia, negara kita juga menjadi tempat pelatihan guru-guru negeri jiran itu. Sementara saat ini, selain kualitas SDM kita berada di peringkat ke-119, jauh di bawah Malaysia/peringkat 61 (Unesco), standar kesejahteraan guru di Malaysia pun jauh dari standar kesejahteraan guru di Indonesia.
Standar gaji guru di Malaysia konon Rp6 juta/orang/bulan. Sebuah angka yang terbilang fantastis bagi guru di Indonesia. Sedangkan di negara kita, masih banyak guru honorer, guru bantu, guru swasta ataupun wiyata bakti yang digaji amat rendah. Bahkan ada yang memplesetkan status guru bantu sebagai guru pembantu: stan dar gajinya sama dengan standar gaji pembantu.
Karena itu, bila konsekuen dengan peningkatan kesejahteraan guru, kita juga harus memperhatikan kesejahteraan guru di berbagai sektor, baik negeri maupun swasta. Jangan-jangan suatu saat nanti guru-guru swasta melakukan demo menuntut penyetaraan standar gaji mereka dengan PNS.
Sindrom hampir sama juga muncul berkaitan soal penghormatan terhadap guru. Konon pada era 1950-an, guru begitu dihormati karena punya standar kehidupan relatif mapan. Tapi perlu dicatat, khususnya oleh para guru, apakah penghormatan terhadap seseorang semata dari sisi material? Kita juga harus introspeksi soal kualitas guru pada masa itu dan saat ini.
Pada era 1950-an, guru-guru selain menguasai ilmu yang diajarkan, juga punya penguasaan bahasa asing seperti Inggris dan Belanda. Belum lagi sikap dan ketulusan pengabdian mereka, dapat menjadi teladan. Patut direnungkan, alangkah ironis jika di tengah krisis pendidikan, kita justru terjebak dalam romantisme kejayaan pendidikan pada era 1950-an dan melupakan peningkatan kualitas pendidikan.
Di sisi lain, kita patut prihatin, berkaitan perbandingan antara Indonesia dan Malaysia dalam hal penggajian, standar profesionalisme guru-guru di Indonesia juga terus menurun. SDM guru yang rendah sering dikaitkan dengan masalah penghasilan dan penguasaan mereka terhadap teknologi, seiring perkembangan zaman.
Dengan tingkat kesejahteraan seperti sekarang, sukar dimungkinkan guru berlangganan majalah, koran, menjelajah internet, atau rutin membeli buku-buku bermutu untuk mengembangkan diri. Jika itu problem utamanya, masalah peningkatan gaji tidak bisa berjalan sendiri.
Pola perekrutan calon guru, pelatihan, atau peningkatan SDM bagi guru dalam wujud beasiswa ataupun pelatihan/diklat juga perlu diprogramkan. Jika hanya menitikberatkan peningkatan kesejahteraan tanpa mau berupaya meningkatkan kemampuan, justru bisa menjadi bumerang bagi dunia pendidikan.
Bisa saja kita bertanya, apakah ada jaminan jika pemerintah meningkatkan gaji guru, dana itu akan digunakan untuk berlangganan koran/membeli buku, dengan asumsi selama ini para pendidik menyatakan untuk makan saja sudah kekurangan?
Gambaran tingkat kesejahteraan guru di Malaysia yang selama ini banyak dijadikan acuan, juga perlu dicermati. Tidak semata pada masalah standar penggajian yang jauh di atas guru-guru kita. Jika di Indonesia, kita menemukan banyak sekali lembaga les/bimbingan belajar, jangan harap di negeri jiran tadi kita akan menemukan lembaga seperti itu.
Sebagai konsekuensi besarnya gaji yang mereka terima, masalah pendidikan bagi peserta didik merupakan tanggung jawab guru sepenuhnya. Siswa tak perlu lagi mencari tambahan les, apalagi bimbingan ujian untuk menembus perguruan tinggi negeri.
Rendahnya kemampuan siswa merupakan tanggung jawab guru sepenuhnya untuk memberikan tambahan pelajaran. Siswa tak perlu lagi les di luar sekolah untuk pelajaran yang sudah diterima di sekolah. Jikapun kita jumpai lembaga les, paling banyak berkaitan dengan kesenian, olahraga dan agama.
Tentu saja ongkos yang mesti dibayarkan pemerintah amat besar untuk menjamin pendidikan terpadu seperti itu. Sebagai gambaran, anggaran pendidikan di Malaysia adalah 20 persen dari APBN-nya. Sementara di Indonesia, pemerintah RI cuma menyisakan 15 persen APBN-nya untuk anggaran pendidikan. Baru pada pidato kenegaraannya pada 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meningkatkan anggaran pendidikan hingga 20 persen dalam APBN. Tapi alokasi  itu termasuk penggajian guru dan tenaga kependidikan.
Tanpa bermaksud menghalangi upaya peningkatan kesejahteraan guru, saya hanya berharap agar kita semua mau instrokpeksi bahwa betapa besar masalah dalam dunia pendidikan kita. Kemerosotan kualitas pendidikan tak semata-mata tanggung jawab guru di sekolah.
Pemerintah juga perlu membuat kerangka kebijakan ke depan yang lebih men jamin peningkatan kualitas pendidikan dengan sarana dan prasarana lebih memadai.
Dalam konteks ini, peningkatan anggaran pendidikan merupakan tugas utama yang mesti dirumuskan secara kongkrit. Upaya meningkatkan kesejahteraan guru juga mesti disertai peningkatan partisipasi masyarakat di dunia pendidikan. Kita perlu turut peduli pada kesejahteraan guru. Masa depan anak-anak kita bergantung pada mereka. (*)

Comments (0)

Pangkal Kerusakan Bangsa

Posted on 11 April 2014

Al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman, meriwayatkan hadis berbunyi, Hubbuddunya ra’su kulli khathi’ah (cinta dunia adalah biang semua kesalahan).
Maksud istilah cinta dunia di sini adalah kondisi seseorang mencintai kesenangan dunia baik berupa harta, wanita, atau tahta sehingga membutakan hatinya dan lalai terhadap akhirat. (Lihat QS Al Ala 16-17, Al qiyamah 20-21).
Cinta dunia yang sudah membutakan hati, mendorong seseorang berani korupsi, merampok, berjudi, dan melakukan kemaksiatan lainnya. Baca Selengkapnya

Comments (0)

Pelukan Rasulullah

Posted on 11 April 2014

Pada saat thawaf (mengelilingi Kabah), Rasulullah SAW bertemu seorang pemuda yang pundaknya terlihat lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasul menghampiri pemuda itu dan bertanya, Kenapa pundakmu seperti itu?
Pemuda itu menjawab, Ya Rasulullah, saya berasal dari Yaman. Saya mempunyai seorang ibu yang sudah uzur (tua renta). Saya sangat mencintainya. Saya selalu menggendongnya, dan tidak pernah melepaskannya. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, sedang shalat atau saat istirahat. Di luar itu saya selalu menggendongnya. Baca Selengkapnya

Comments (0)

Menyantuni Anak Yatim

Posted on 11 April 2014

HENDRIZAL SIP MPD–Menyayangi dan menyantuni anak yatim merupakan perbuatan mulia. Terlebih mengingat, akibat bencana di berbagai daerah Indonesia, makin banyak jumlah anak yatim muncul dalam bangsa kita.Biasanya selama ini kita cenderung memperhatikan anak yatim ketika menjelang akhir bulan Ramadhan saja. Di saat itu banyak umat Islam meningkatkan amal shalehnya, mulai ibadah yang bersifat vertikal hingga horizontal, di antaranya menyantuni anak yatim. Di luar momen itu, jarang kita memperhatikan anak yatim.

Baca Selengkapnya

Comments (0)

Hirau Syamsu Rahim pada MTTS

Posted on 10 April 2014

Rusmel Dt. Sati – Memperingati hari ulang tahun, seyogyanya dapat merepresentasikan banyak hal. Ada pesan-pesan yang terkandung di balik suatu perayaan.  Baca Selengkapnya

Comments (0)

Satu Desa Satu PAUD Untuk Kejayaan Indonesia

Posted on 08 April 2014

Hendri Nova–Indonesia kaya akan Sumber Daya Alam (SDA) dan juga kaya akan Sumber Daya Manusia (SDM). Indonesia termasuk salah satu negara di dunia yang sangat beruntung, karena memiliki dua keunggulan yang tidak dimiliki secara utuh oleh bangsa lain.–Sayangnya, hampir kedua potensi ini belum terolah secara baik. SDA saja misalnya, bukan diolah oleh anak negeri, malah dikuasai asing. Baca Selengkapnya

Comments (0)

Menepis Galau Menuju PAUD Berkualitas

Posted on 07 April 2014

Gusnaldi–Warga Peduli Pendidikan–Menjamurnya PAUD di satu sisi merupakan kabar gembira guna menggenjot keterserapan anak usia emas di lembaga tersebut, namun di sisi lain justru memunculkan kegalauan karena ada yang tumbuh tanpa arah dan perhatian. Makanya, misi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI) guna meningkatkan ketersediaan dan keterjangkauan layanan PAUD bermutu, harus disikapi setiap daerah dengan berbagai regulasi.Pemerintah pusat melalui Kemdikbud, yang telah menjadikan layanan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebagai salah satu upaya pemenuhan hak anak guna medapatkan pendidikan sejak dini, perlu diapresiasi karena geliatnya sudah dirasakan masyarakat hingga ke pelosok tanah air. Betapa tidak, booming pendirian lembaga PAUD sejak lima tahun terakhir, begitu hebat. Tidak perlu diragukan lagi. Baca Selengkapnya

Comments (0)

Menumbuhkan Budaya Sekolah

Posted on 03 April 2014

YUSRIJAL DT. MAKHUDUN–(Dinas Pendidikan Tanah Datar)

Sekolah tidak hanya berfungsi  sebagai wadah untuk meningkatkan kemampuan kognitif semata, tetapi juga membentuk manusia yang berbudaya dan bermartabat. Baca Selengkapnya

Comments (0)

Politik Absurd Indonesia

Posted on 03 April 2014

Okki Trinanda Miaz

Sesekali coba hidupkan televisi Anda di rumah, kemudian perhatikan berbagai tayangan yang berhubungan dengan politik.Coba perhatikan, dalam waktu dua jam saja berapa kali Anda dapat menghitung aksi-aksi konyol politisi (atau orang yang ingin jadi politisi) muncul di televisi? Saya pernah mencoba, dan hasil pengamatan yang saya dapatkan ternyata lucu-lucu sekali. Baca Selengkapnya

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here

Pojok

  • + Gagal pemilu,
    Caleg diceraikan isteri
    - Malang bana nasib, kursi empuk ndak dapek, bini cigin lo
    + Anang tak ambil pusing soal
    perolehan suara
    - Bini si nan dek lai tantu iyo. Kok indak cigin lo mah