Toko Taki
Menu Click to open Menus
Toko Taki
Home » Daerah » Cerai Gugat Jadi Trend

Cerai Gugat Jadi Trend

(72 Views) March 13, 2012 6:55 am | Published by | No comment

PADANG — Jumlah kasus penceraian di Sumatra Barat meningkat tiap tahun. Sekitar 75 persen, kasusnya cerai gugat atau pihak istri yang menggugat cerai suami.

“Kami telah melakukan penelitian terkait cerai gugat dan cerai talak. Kondisi memang seperti itu, ada tren peningkatan setiap tahun. Kita memang miris melihatnya. Kendati perceraian itu dalam hukum Islam halal, tetapi dibenci Allah SWT,” ujar pakar hukum Islam dari IAIN Imam Bonjol, Prof. Dr. H. Asasriwarni pada Singgalang di kantornya, Senin (12/3).
Asasriwarni yang juga Pembantu Rektor III IAIN Imam Bonjol mengatakan, berdasarkan data dan hasil penelitian cerai gugat yang dilakukan para istri tersebut karena suami melalaikan kewajibannya mencari nafkah dan berselingkuh. Selain itu, para istri juga semakin tahu hak-haknya.
Selanjutnya, cerai talak penyebabnya didominasi suami tak dilayani secara maksimal, masuk pihak ketiga seperti mertua. Lalu, ditemukan sang istri berselingkuh. Dalam hukum Islam, bila istri minta cerai itu berdosa. Jangankan masuk syorga, bau syorga saja tak dapat bila suaminya baik dan menyelesaikan kewajibannya.
Namun, bila suami telah menyalahi aturan dalam hukum Islam dan Undang-undang Perkawinan tak menjadi masalah bila meminta cerai gugat.
Kendati demikian, dalam hukum Islam sebelum masalah rumahtangga tersebut berujung ke perceraian dan dibawa ke pengadilan, seharusnya melalui berbagai tahap. Bila dikhawatirkan istri nusus (durhaka), kewajiban suami memberikan bimbingan. Setelah diberi bimbingan, baru masuk tahap pisah ranjang. Dikatakan, pisah ranjang ini bisa diartikan pisah ranjang masih dalam satu rumah atau pisah ranjang tak tinggal dalam satu rumah lagi.
Kalau tak juga mempan, baru diberi sanksi dipukul. Namun sifatnya tak merusak, tapi hanya sebagai bentuk memberi pelajaran saja. Kemudian, bila tak berubah, lanjut masuk tahap terakhir dengan diselesaikan utusan masing-masing pihak. Seandainya tak ada juga perdamaian, baru boleh masuk Pengadilan Agama.
Ditambakan, poligami yang dilakukan pihak laki-laki tak melalui prosedur, maka istri kedua atau seterusnya tak akan dapat apa-apa. Guna meminimalisir terjadinya kasus perceraian, maka Undang-undang Perkawinan No.1 tahun 1974 mengatakan, pasangan calon suami istri yang diizinkan menikah tersebut umur 23 tahun untuk laki-laki dan 21 tahun untuk perempuan. Bisa juga laki-laki 19 tahun dan perempuan 16 tahun kalau usianya di bawah tersebut, harus dapat ada izin dari pengadilan. (SYAWALDI)

Categorised in:

No comment for Cerai Gugat Jadi Trend

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>