Awak Nan Badarah-darah, Urang Nan Makan Dagiang

Sepengetahuan saya, Nasrul Abit tipikal politikus suka pindah Partai. Awalnya bergabung di PAN, setelah itu Demokrat dan sekarang Gerindra.
Saya kasihan melihat kader Gerindra Sumbar, mereka yang berdarah-darah tapi orang baru menikmati hasil.

Dan besar keyakinan saya kalau kader Gerindra sebenarnya tidak ikhlas dan batin mereka menolak. Wajar saja seperti itu, karena mereka juga ingin mendapatkan kesempatan dan kepercayaan. Paling tidak kandidat diusung adalah saudara seperjuangan, yang sama-sama berdarah-darah memajukan partai. Bukan kandidat yang baru hitungan bulan menjadi kader sudah mendapatkan mandat.

Kalau DPP Gerindra tetap memaksakan kehendaknya menduetkan kandidat diluar Gerindra, atau kader dadakan. Maka prediksi saya Gerindra akan menjadi partai cepat naik, dan cepat juga turunnya. Karena besarnya partai, tidak terlepas dari solid dan kerjakeras kader, jika kader sudah tidak memiliki loyalitas tentu partai akan sulit mendapatkan simpati rakyat.
Jika dikembalikan kepada diri saya sendiri, jujur juga tidak bisa menerima dengan ikhlas, hasil perjuangan kita yang didapat dengan susah payah namun dinikmati orang lain. Sama pribahasanya ‘Awak nan Badarah-darah, urang nan makan dagiang (Kita yang berdarah-darah, orang lain yang menikmati)’.

Prabowo sendiri saya yakin tidak akan menjual keringat kadernya demi kekuasaan atau uang. Karena dalam mata saya Prabowo punya komitmen memajukan partai, dan menghargai jerih payah keluarga besarnya di Gerindra. (*)