Dijamu Orang Muaro Labuah di Honolulu

 

 Lina dan suaminya foto bersama dengan tamunya dari kampung halaman. (*)
Lina dan suaminya foto bersama dengan tamunya dari kampung halaman. (*)

HONOLULU – Sehabis pelangi kembar, sore berlabuh di Honolulu, mobil yang membawa rombongan Gubernur Irwan Prayitno melaju ke perumahan Halseyterre, di bagian kota itu.

Kami Shalat Asar di satu-satunya masjid di Honolulu tak jauh dari rumah sakit Obama dilahirkan. Namanya Kapiʻolani Maternity & Gynecological Hospital (sekarang Kapi’olani Medical Centet for Women and Children).

“Kita makam malam di rumah warga Indonesia, namanya Ibu Lina,” kata Rai pemandu wisata kami dari Happy Journey Tour& Travel.

Lina dan Jacob. (*)
Lina dan Jacob. (*)

“Dia orang Muaro Labuah,” kata Irwan.

Bus berhenti di depan sebuah rumah besar. Penghuninya seorang wanita berhijab tersenyum lebar menyambut.

Urang awak itu namanya Lina Jacob. Punya seorang putri duduk di bangku SMA. Suaminya Jacob seorang senior chief di Angkatan Laut Amerika yang berposko di Honolulu. Ibu Lina namanya Halimah.

“Umi ada di Jakarta beliau sehat, kampung kami Muaro Labuah, suku Durian, “kata Lina.

Lina bekerja di Convention Center Hawaii. Ia sudah 25 tahun di Amerika sejak remaja ketika ia kuliah di Connecticut jurusan akunting. Dari Muaro Labuh pada Agustus 1992 bertolak ke Amerika lima  remaja. Lina malah tinggal dan menikah di sana

Suaminya menyambut kami dengan hangat sehangat bakso yang dihidangkan istrinya. Ia memotret kami dengan berkata, “satu dua tiga.” Tak banyak kata- kata Indonesia yang hapal olehnya.

“Suami, istri, makan, selamat pagi bisa,” kata dia tersenyum.

Kami memang dijamu dengan nasi dan bakso hangat serta steak daging sapi yang empuk. Kentang yang gurih, buah nan segar. Lengkap sudah dan semua ludes

Lina berbinar bercerita. Melayani dan menyalami tamunya satu persatu. Bersama istri dan gubernur, walikota Payakumbuh dan anggota DPRD serta para penari dari Syofyani grup,Lina terlihat senang.

Magrib pun datang. Ia bergegas menyiapkan tikar dan sajadah. Di rumah itu kami shalat berjemaah. Diimami Irwan Prayitno dan rombongan berikut diimami Prof Herman Mawardi.

Seusai shalat kami pamit di bawah hujan yang tak lebat. Bus membelah malam dan Lina tinggal bersama suami dan anaknya dengan piring-piring kotor bekas kami santap tadi.

Honolulu, kota asal mula sarawa hawaii itu sempurna dibungkus malam. Di bus kami bercerita tentang kebaikan Lina. Tentang orang Minang yang suka merantau ke mana saja. Jumat di sini. Sabtu (18/11) di Tanah Air.

Kami ke Padang menggunakan maskapai China Air dari Honolulu menuju Taiwan dan kemudian ke Jakarta. Oleh-olehnya lelah tak terperi. (*)