DITAHAN DI MESIR; Pak, Tolong Lepaskan Anak Kami…

Muharnis dan Murtalinda, kedua orangtua Nurul Islami dan Muhammad Hadi, mahasiswa Al Azhar University Mesir yang ditangkap pihak keamanan negara setempat, mengadu ke Pemkab Limapuluh Kota, Kamis (10/8). (bayu)
Muharnis dan Murtalinda, kedua orangtua Nurul Islami dan Muhammad Hadi, mahasiswa Al Azhar University Mesir yang ditangkap pihak keamanan negara setempat, mengadu ke Pemkab Limapuluh Kota, Kamis (10/8). (bayu)

SARILAMAK – Langkah Muharnis (48) terhenti di anak tangga kantor bupati Limapuluh Kota, di IKK Sarilamak, Harau, Kamis (10/8) pagi. Wanita asal Jorong Koto, Situjuah Batua, Situjuah Limo Nagari itu, sibuk mengangkat telepon. Menjawab panggilan masuk.

“Sejak kemarin, tak putus-putus telepon ke kami,” kata Muharnis, orangtua dari Nurul Islami, satu dari dua mahasiswa asal Sumatera Barat yang dilaporkan ditahan oleh pihak kepolisian Mesir di Samanud, Selasa dini hari (1 Agustus), atau 10 hari lalu.

Muharnis sendiri, sudah putus kontak dengan anaknya sejak tanggal penangkapan tersebut. “Pada 2 Agustus, saya tidak bisa lagi hubungi Nurul Islami. Kemarin (Rabu) saya baru dapat kabar, kalau Nurul ditahan sama temannya yang asal Payakumbuh, Muhammad Hadi,” sebut Muharnis. Matanya berkaca-kaca. Lalu menangis.

Muharnis, begitu mendapat kabar itu, mengalami shock berat. Dia sempat menutupi infrmasi tersebut. Alasannya, tidak ingin kabar penahanan anak kandung yang dia besarkan dengan kehidupan ekonomi pas-pasan ini, justru membuat tanda tanya di tengah warga.

Namun, kabar penangkapan Nurul Islami dan temannya satu kuliah di
Al-Azhar University Mesir, tetap mengalir deras juga. Pada Rabu (9/8) malam, sejumlah perantau Situjuah Batua yang tergabung di grup WA Ikatan Keluarga Situjuah Batua (IKSB) Nusantara, mendiskusikan jalan keluar agar membantu Muharnis.

Suaminya yang merupakan tukang jahit pakaian kecil-kecilan, juga tidak tahu cara, bagaimana menyelamatkan anak mereka. Kasus tak jelas, tapi anak ditahan. Orangtua mana nan tak akan cemas. Singkat cerita, lewat anggota grup IKSB ini pula, akhirnya Muharnis diarahkan melapor ke Pemerintah Kabupaten.

Jadilah, pada Kamis (10/8) pagi, Muharnis pergi ke kantor Bupati Limapuluh Kota di Sarilamak. Selain dia, ikut pula orangtua dari Muhammad Hadi, yakni Murtalinda (47) asal Kelurahan Tigo Koto Diateh, Kecamatan Payakumbuh Utara, Kota Payakumbuh.

Datang mengadu ke kantor bupati, Muharnis dan Murtalinda disambut Wakil Bupati Ferizal Ridwan dan Kepala Bagian Humas Jhoni Amir. “Pak, tolong lah anak kami, pak. Mambona kami,” pinta Muharnis dan Murtalinda, lirih. Mereka kembali menangis berdua. Dunsanaknya yang ikut mendampingi, juga sabak hatinya.

Menurut Muharnis, beberapa hari sebelum anaknya dilaporkan ditahan kepolisian otoritas Mesir, dia masih sempat berkomunikasi. “Masih teleponan. Saya tanya, bagaimana kabar. Kata Nurul Islami, dia sehat. Alhamdulillah nak, jaga diri di sana,” tutur Muharnis, menirukan pembicaraannya dengan sang anak.

Terakhir kali, Nurul Islami pulang ke Situjuah saat libur kuliah, sebelum Idul Fitri 1438 Hijriyah. “Dua bulan lalu, dia ada di sini. Di Situjuah. Lalu pergi lagi,” urai Muharnis. Wanita tersebut, bak si bisu bermimpi. Niatnya sesegera mungkin anak bisa lepas, tapi jalan itu benar yang tak ada. Luluh.

Selain meminta bantuan Pemerintah Kabupaten, Muharnis juga berharap, agar Pemprov Sumbar dan Pemerintah Republik Indonesia melalui KBRI di Mesir, segera membantu persoalan yang dialami anaknya.

Presiden Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir Pangeran Arsyad Ihsanul Haq membenarkan, penangkapan terhadap dua mahasiswa asal Payakumbuh dan Limapuluh Kota itu.

“Benar, ada dua orang mahasiswa asal Indonesia yang ditangkap pihak kepolisian Mesir di Samanud, Selasa dini hari (1 Agustus),” ujar Arsyad Ihsanul Haq.

Penangkapan kata Pangeran, bermula saat kedua mahasiswa itu pergi ke rumah yang pernah ditempatinya di kawasan Samanud untuk mengambil barang-barangnya yang masih tertinggal. Sebab, mereka sudah pindah ke Kairo karena Pemerintah Mesir menetapkan Samanud sebagai daerah terlarang.

Saat keluar rumah untuk membeli air minum pada Selasa dini hari, mereka tiba-tiba ditangkap pihak keamanan. Kedua mahasiswa itu langsung ditahan hingga hari ini. “Mereka tidak terlibat apapun. Ataupun melakukan tindakan kriminal,” ujarnya.

Menurut dia, kemungkinan ini berkaitan dengan situasi politik dalam negeri Mesir. Saat ini PPMI telah berkoordinasi dengan Konsuler KBI Kairo.

Ibu kandung Muhammad Hadi, mahasiswa yang ikut ditangkap asal Payakumbuh, Murtalinda mengaku terpukul atas kabar tersebut. “Pertama kali saya mendapat kabar ditangkapnya Muhammad Hadi oleh keamanan Mesir diperoleh dari temannya panggilan Datuak, warga Situjuah yang anaknya sama-sama kuliah di Mesir,” kata dia.

Diakui Murtalinda, sejak tamat Sekolah Dasar anaknya Muhammad Hadi sudah berkeinginan untuk sekolah di Mesir.

Diungkapkan Murtalinda, sebagai keluarga tergolong tidak mampu, tentu tidak mudah baginya untuk menyekolahkan Muhammad Hadi di Mesir. Namun, karena keinginan anaknya sangat besar, setelah tamat Madrasyah Aliyah Negeri (MAN) di Payakumbuh, Muhammad Hadi, lulus juga di sana.

“Untuk memenuhi biaya Muhammad Hadi selama kuliah di Mesir, saya tidak mampu mengirimi biaya yang cukup untuknya. Menghadapi kenyataan ini, sebagai seorang ibu, bathin saya menanggis menghadapi ketidak mampuan ekonomi ini,” tukuknya.

Murtalinda juga menyebutkan, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya serta biaya kuliah selama berada di Mesir, Muhammad Hadi, ternyata ikut membanting tulang.

“Dia bekerja apa saja dan bahkan berjualan martabak di Mesir untuk memenuhi biaya hidup dan kuliahnya,” sambung Murtalinda.

Bahkan, beberapa waktu lalu, Muhammad Hadi berpesan kepada dang ibu, jika tidak punya uang, maka tidak perlu harus mengirim.

Disebutkan Murtalinda, sudah lama dia tidak pernah mengirimkan uang untuk anaknya Muhammad Hadi, kecuali Muhammad Hadi yang berkirim uang untuk membantu ekonomi keluarga dan biaya pendidikan adik-adiknya.

Wakil Bupati Ferizal Ridwan didampingi Kabag Humas Jhoni Amir berjanji, akan memanfaatkan seluruh potensi untuk mengurus kedua mahasiswa asal Luak Limopuluah yang ditangkap itu, baik melalui KBRI, Himpunan Keluarga dan Mahasiswa Minang yang ada di Mesir, PCNU dan semua pihak yang ada jaringannya di Mesir. (bayu)