DP Turun, Pembelian Rumah Segmen Menengah ke Atas Diprediksi Meningkat

PADANG – Pembelian rumah segmen menengah ke atas diprediksi bakal meningkat, menyusul kebijakan penurunan uang muka atau down payment (DP) untuk pembelian rumah pertama.

Penurunan DP ini adalah salah satu langkah Bank Indonesia melakukan pelonggaran aturan untuk beberapa kategori kepemilikan rumah.

“Soalnya dua tahun terakhir permintaan masyarakat di segmen ini mengalami penurunan signifikan. Kebijakan Ini berdampak positif untuk daya beli konsumen, meski harusnya juga diikuti dengan penurunan suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA),” ungkap Presiden Direktur PT Riyadh Group, Belly Saputra, Rabu (14/9).

Mantan Ketua Realestat Indonesia (REI) Sumbar ini menegaskan mayoritas pembeli rumah di segmen menengah biasanya menggunakan kredit bank, namun karena adanya ketentuan ketat uang muka, sebagian menunda pembelian atau beralih ke pembayaran secara tunai. Sekarang, dengan kebijakan tersebut, tentu konsumen kembali berminat.

Sebelumnya, Peraturan Bank Indonesia (PBI) yang terbaru, menyebutkan uang muka untuk rumah pertama yang tadinya ditetapkan 20 persen, kini diturunkan menjadi 15 persen. Demikian juga dengan rumah kedua turun dari 25 persen turun menjadi 20 persen.

“Uang muka rumah pertama 15 persen itu sudah ideal. Di satu sisi uang muka juga merupakan bentuk komitmen dan keseriusan pembeli untuk membayar KPR,” terangnya.

Selain itu, banyak pengembang yang juga menawarkan diskon uang muka, sehingga sangat meringankan beban pembeli. Riyadh Group misalnya masih menawarkan uang muka nol persen untuk unit ready stock di Apartemen Pancoran Riverside guna menarik minat konsumen.

Meski, penurunan uang muka diprediksi akan berdampak kepada pembelian rumah segmen menengah ke atas meningkat Belly justru berharap penurunan suku bunga KPR dan KPA ketimbangg pemerintah menurunkan lagi besaran uang muka.

“Idealnya, suku bunga KPR dan KPA bisa single digit yakni 5 persen-7 persen. Tidak seperti sekarang yang masih tinggi di kisaran 9 persen-12 persen, padahal bunga acuan BI kini sudah berada di level 7 persen dan cenderung terus menurun. Pada 2011-2012 suku bunga KPR pernah 8 persen, dan waktu itu properti booming,” terang alumnus Fakultas Pertanian Unand yang sejak mahasiswa sudah bergelut dengan dunia properti ini.(pen)