Berita Singgalang | Utama

Enaknya Kue, tak Seenak Kehidupan Rusda

Tanggal 27 December 2012

Pengantar: Memaknai HUT Singgalang ke-44 dan Hari Ibu, Dompet Dhuafa Singgalang berusaha menghimpun modal usaha untuk ibu-ibu tangguh yang berjuang sendiri menjadi tulang punggung keluarga dan menanggung biaya hidup lebih dari 3 anak. Mulai hari ini profil mereka diturunkan satu persatu. Jika Anda terketuk untuk turut membantu, dapat menyalurkannya ke Graha Kemandirian Dompet Dhuafa Singgalang, Jl.Juanda No.31 C Pasar Pagi, Padang atau melalui rekening a/n Dompet Dhuafa Singgalang : BNI Syariah : 234.66666.6. (Red)

IBU TANGGUH

Di pinggiran Kota Padang, tepatnya di Koto Panjang, Limau Manih, Rusda (49) hidup bersama suaminya yang sakit-sakitan serta ketiga anaknya. Rumah peninggalan mertuanya itu amat sederhana. Dindingnya kayu, atapnya seng. Di dapur hanya kayu bakar menjadi alat memasak, tak ada kompor. Tapi di rumah itu, semangat hidup tak pernah padam. Rusda sebagai satu-satunya tulang punggung keluarga saban hari bergiat membuat kue.
Bertahun-tahun ia membiayai pengobatan suami juga sekolah anak-anaknya dengan uang hasil menjual kue. Kini ia ingin menabung untuk biaya kuliah anak tertuanya.

Macam-macam kue dibuat Rusda. Ada bakwan, tahu isi, risoles, lapek nagosari dan berbagai penganan kecil lain. Ia menitipkannya di pedagang kaki lima dan kafe-kafe kecil di Universitas Andalas.
“Kadang dapat banyak, kadang sedikit namanya juga berdagang. Sebulan rata-rata dapat Rp500 ribu,” kata Rusda berbagi cerita hidupnya, Rabu (26/12).
Di zaman sekarang, uang Rp500 ribu untuk menghidupi lima kepala, tentulah amat sulit. Apalagi harus disisihkan pula untuk obat suaminya yang sakit paru-paru. Belum lagi untuk biaya pendidikan ketiga anaknya. Rusda sudah sejak lama kelabakan karena uang yang tak seberapa itu. Terkadang ia terpaksa berhutang kiri-kanan.
Tapi Rusda membuktikan jika tak menyerah, akan ada saja jalan. Walau terkadang harus berhutang dengan pola ‘gali lobang tutup lobang’. Buktinya sampai sekarang ketiga anaknya tak ada yang putus sekolah.
Anaknya, Mayra sekarang duduk di bangku SD, Safitri SMP, sedang Pitri baru saja lulus SMA. “Anak-anak tak boleh ada yang putus sekolah. Hidup mereka harus lebih baik dari amak abaknya,” kata Rusda bertekad.
Tekad itulah yang menjadi pelecut bagi Rusda. Tiap hari tekad itu membuatnya tak pernah berleha-leha. Saban hari, jauh sebelum subuh, Rusda sudah berpeluh di dapurnya. Memasak kue-kue dengan kayu bakar. Pagi-pagi kue-kue itu sudah dibungkus rapi, siap dijajakan untuk para mahasiswa di Unand. Jika mahasiswa libur, Rusda menitipkan kue-kue itu di warung-warung seputar tempat tinggalnya. Kadang juga ia berkeliling menjajakannya.
Saat ditanya apakah lelah, perempuan paruh baya ini tersenyum kecut. Raut wajahnya menggambarkan jelas bagaimana kesulitan hidup membentuknya untuk tak mengeluh.
“Ndak ado nan paralu dilatiahan diak. Karajoan se, ikhlas untuak anak-anak,” kata Rusda sambil tersenyum.
Rusda bercerita, sekarang ia punya tekad lain. Ada janji yang ia tanamkan untuk dirinya sendiri. Janji untuk menguliahkan anaknya, Pitri. Anak perempuannya itu kata Rusda sudah lulus SMA beberapa tahun lalu. Rusda amat bangga padanya, nilai sekolah Pitri walaupun memang tak selalu juara kelas, Rusda bangga. Ia ingin Pitri melanjutkan pendidikan di bangku kuliah. Rusda tahu, diam-diam Pitri sejak lama juga memimpikan berkuliah.
“Anak itu punya cita-cita tinggi. Ingin kerja kantoran,” cerita Rusda.
Untuk Pitri-lah akhir-akhir ini Rusda membanting tulang lebih keras. Bagi dirinya yang hanya tamat SD dan merasakan pahitnya hidup karena tak sekolah tinggi, pendidikan anak-anaknya akan diperjuangkan Rusda mati-matian. Rusda tak ingin, anak-anaknya juga menjalani pahitnya hidup dalam kemiskinan seperti dirinya.
Rusda tahu benar, biaya pendidikan di bangku kuliah tidak sedikit. Mengingat penghasilannya lebih sering hanya Rp500 ribu, Rusda tahu mewujudkan mimpi Pitri berkuliah taklah mudah. Ibarat mendaki gunung tinggi berbatu. Anaknya yang dua lagi harus dipenuhi pula biaya pendidikannya, obat suaminya pun tak bisa diabaikan. Mau tak mau Rusda pusing dibuatnya.
Sebenarnya Rusda punya rencana. “Ingin buka usaha kue. Ajak beberapa tetangga supaya lebih banyak yang bisa dijual,” kata Rusda. Rencana itu muncul setelah ia menyadari kue-kue buatannya tak kalah enak dari buatan-buatan orang lain, atau buatan pengusaha kue yang sudah mapan sekalipun. Rusda sejak kecil memang hobi memasak, sering membantu amaknya di dapur.
Sayangnyam rencana ini tak bisa jalan tanpa modal. Lagi-lagi orang kecil seperti Rusda memang tak kuasa bergerak apalagi menjalankan rencana karena tak adanya uang. Jika saja modal itu ada, Rusda bisa membayangkan dirinya melihat Pitri pergi kuliah setiap hari, wisuda lalu bekerja. “Mungkin Pitri bisa jadi orang kantoran, orang kota yang banyak uang,” kata Rusda berharap. (*)

Leave a Reply

 
Advertise Here
Advertise Here

Pojok

  • + SBY terkejut, BCA digeledah
    - Capek minum aia putiah pak…
    + Badan atletis tapi bisa kesurupan
    - Iko bamandian jo aia dingin ubek-e mah…