Energi Gas Bumi PGN Solusi Menaikkan Daya Beli Masyarakat

Para sopir bajaj, siap bertarung mengais rezeki di belantara kota. (hendri nova)

PADANG – “Sayang anak…sayang anak… dua Rp15.000… siapa cepat dia dapat,” teriak seorang pedagang kaki lima yang sedang menjajakan dagangannya pada warga yang berlalu lalang di Pasar Belimbing Padang.

Pedagang itu terus bersorak meski banyak kaum ibu yang memilih tidak singgah ke lapaknya berada.  Meski begitu ada juga satu dua ibu-ibu yang mau singgah. Itu pun tidak pasti membeli. Kadang mereka hanya melihat-lihat saja, lalu kemudian berlalu pergi.

“Daya beli masyarakat saat ini benar-benar jeblok. Biasanya jelang Shalat Zuhur, dagangan saya sudah terjual ratusan. Sekarang belum sampai puluhan,” keluh Joni, si pedagang obral.

Tak hanya Joni, rekannya yang menjual barang pecah belah, juga hampir senasib. Padahal biasanya, dia sudah bisa pulang lebih cepat, karena kaum ibu dengan cepat memborong dagangannya.

“Tertutup biaya sehari-hari saja saat ini sudah bersyukur saya,” kata Niko, pedagang pecah belah.

Ia mengaku sering rugi, karena biaya transportasi sangat mahal. Apalagi dengan bawaan pecah belahnya yang banyak, membuat ia kadang harus menelan kerugian.

“Harga-harga naik karena biaya transportasi tak juga turun. Di sisi lain, harga listrik terus naik sampai tiga kali lipat. Disitu kadang masyarakat tak bisa berbuat banyak, selain melakukan pengiritin untuk belanja mereka,” tuturnya.

Masyarakat dalam amatannya, saat ini lebih suka mendahulukan kebutuhan pokok daripada keperluan pelengkap. Bisa makan saja dengan lauk seadanya, bagi mereka sudah sangat disyukuri.

 

Daya Beli Menurun

 

Apa yang dirasakan pedagang dan masyarakat secara umum, pada keterangan Lembaga riset global, Nielsen yang banyak dibagikan di grup-grup media sosial dan diberitakan media online seperti detikfinance, memang mencatat melemahnya daya beli masyarakat di level menengah ke bawah.

Rata-rata penghasilan masyarakat menengah ke bawah tak banyak berubah, sementara biaya hidup terus melonjak. Hal itu membuat masyarakat di tingkat ini mengubah pola konsumsinya menjadi lebih irit.

Hasil riset Nielsen menyebutkan, bahwa masyarakat saat ini lebih memilih untuk membeli produk dalam kemasan yang lebih kecil. Seperti untuk produk sampo, deterjen, kopi dan lainnya.

Hal itu lantaran produk dengan kemasan lebih kecil atau saset lebih mudah dikontrol pemakaiannya atau tidak boros.

“Mereka sangat memikirkan seberapa banyak yang akan dipakai. Bahkan menggunakan sendok untuk mengukur penggunaan deterjen,” bunyi hasil riset Nielsen.

Perubahan pola konsumsi itu membuat beberapa penjualan produk mengalami penurunan kuartal III-2017. Untuk sampo volume penjualan turun 2,6%, nilainya juga turun 3,4%.

Lalu volume penjualan deterjen turun 1,8% secara nilai turun 0,8%, penjualan sabun toilet turun 2% nilainya naik 1,2%. Volume penjualan kopi juga menurun 1,5%, tapi secara nilai naik 3,8%. Namun penjualan pasta gigi masih naik 0,9% dan secara nilai naik 4,1%.

 

Tak Mau Jajan

 

Nielsen mencatat, industri ritel di Indonesia memang tengah lesu. Hingga September 2017, industri Fast Moving Consumer Good (FMCG) hanya tumbuh 2,7%, jauh lebih rendah dari rata-rata pertumbuhan tahun sebelumnya 11%.

Hasil riset Nielsen menemukan adanya penurunan daya beli masyarakat khususnya di kelas menengah ke bawah. Rata-rata penghasilan masyarakat menengah ke bawah tak banyak berubah, sementara biaya hidup terus melonjak.

Hal itu membuat masyarakat di level ini mengubah pola konsumsinya menjadi lebih irit. Salah satunya kini kebanyakan masyarakat lebih senang untuk membuat makanan sendiri di rumah ketimbang membeli makanan jadi dari luar.

“Sekarang untuk keluarga belanja bahan makanan sehari-hari butuh Rp50 ribu, sementara jika beli makanan jadi dari luar rata-rata membutuhkan Rp100 ribu,” menurut riset Nielsen itu.

Masyarakat juga kini lebih senang untuk membuat camilan sendiri di rumah. Selain lebih higienis, mereka juga bisa lebih berhemat.

Hasil riset Nielsen juga menyebutkan masyarakat kini tak lagi belanja di malam hari, mengurangi belanja camilan.

Selain itu rata-rata masyarakat kini lebih senang membawa bekal makanan dari rumah. Lalu makan di pusat perbelanjaan kini rata-rata hanya sebulan sekali dan tak lagi antusias untuk berburu mencari tempat makan yang baru.

Industri ritel juga tengah menghadapi masa sulit, terjadi perlambatan industri ritel Indonesia, khususnya untuk fast moving consumer goods (FMCG). Hal itu disebabkan oleh turunnya daya beli masyarakat di kelas menengah ke bawah, membuat pelaku usaha ritel harus putar otak hingga memaksa menutup beberapa gerainya.

Tekanan terjadi bukan hanya pada pelaku ritel fesyen saja, beberapa peritel makanan juga menunjukan gejala yang sama. Seperti misalnya PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) yang kini membatasi pembukaan cabang lantaran utangnya membengkak.

 

Gas dan Daya Beli

Turunnya daya beli masyarakat, selain karena menurunnya kemampuan, juga karena harga produk yang mahal dan akhirnya tak terjangkau oleh mereka. Tingginya ongkos produksi karena memakai listrik dengan harga mahal, membuat terjadinya pembengkakan ongkos produksi.

Belum lagi pembengkakan biaya transportasi karena mahalnya harga BBM yang tidak merata di seluruh Indonesia. Makin tinggi ongkos angkut barang, maka makin tinggi pula harga produknya.

Untuk bisa keluar dari jeratan ongkos produksi yang mahal dan ongkos angkut yang naik terus, maka energi gas bumi Perusahaan Gas Negara (PGN) bisa menjadi solusi untuk menaikkan daya beli masyarakat. PGN bisa memasok gas murah pada industri maupun Usaha Kecil Menangah (UKM) dan juga bisa melayani transportasi umum dengan Bahan Bakar Gas (BBG).

Tingginya perbedaan antara harga BBG dengan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan gas tabung, bisa menekan ongkos produksi dan ongkos transportasi. Jika keduanya sudah berhasil ditekan, maka dengan sendirinya harga jual produk yang dihasilkan bisa semakin murah dan ongkos angkut juga bisa jauh lebih murah.

Menurut pengakuan Gino, salah seorang sopir bajaj yang sudah beralih ke BBG mengatakan, kehidupan perekonomiannya jadi terangkat sejak tak lagi pakai BBM. Jika dulunya dengan premium ia harus merogoh kocek Rp70-90.000 per hari, maka dengan gas cukup Rp17-20.000 per hari.

Uang Rp50.000 selisih dari BBM dalam sebulan dikumpulkan, ia sudah bisa menabung sebanyak Rp1.500.000. Itu berarti dalam setahun ia sudah sukses mengumpulkan uang sebesar Rp18 juta. Jika dibelikan satu buah motor, ia sudah bisa mendapatkannya atau beli kebutuhan yang lain.

Hal yang sama juga diakui Anita, salah seorang ibu rumah tangga yang sudah tiga tahun memakai gas PGN. Ia maksimal hanya mengeluarkan Rp50.000 per bulan, untuk semua keperluan memasak.

Bandingkan dengan harga gas tabung yang ia keluarkan kadang sampai di atas Rp200.000 per bulan. Itu berarti ia bisa menabung sebesar Rp150.000 per bulan.

Maka dalam satu tahun ia sudah mendapatkan uang Rp1.800.000. Jika uang itu diambil untuk keperluan hari raya, maka ia sudah berhasil mendapatkan baju baru sekeluarga dan juga kebutuhan lainnya.

Oleh karena itu, PGN harus mempercepat pemerataan penyaluran gas di seluruh Indonesia. Pemerintah juga harus menyokong PGN dengan mewajibkan transportasi umum menggunakan gas PGN, sehingga regulasi ongkosnya bisa diatur pemerintah. Dengan demikian harga-harga bisa kembali jadi murah.

Jika harga-harga kembali murah, maka daya beli masyarakat dengan sendiri membaik. Turunnya ongkos produksi dan ongkos angkutan, akan menimbulkan multiplier effect yang dahsyat, sehingga mempengaruhi segala sendi kehidupan.

Disanalah kita dengan bangga bisa mengatakan, ‘Energi gas bumi PGN membangun negeri menjadi lebih baik dan sejahtera. Untung ada gas PGN, sehingga daya beli masyarakat kembali bangkit dan pulih seperti sedia kala. (Hendri Nova)