Hanif Thamrin Urang Awak di Manchester City Football Club

Hanif Thamrin (ist)
Hanif Thamrin (ist)

PAYAKUMBUH – Bicara Kota Manchester, bagi sebagian orang di Indonesia yang menggandrungi sepakbola pasti pikiran mereka akan tertuju kepada duo klub sepakbola yang sukses.  Bagaimana tidak, dari kota itu berasal ada dua klub yang pernah merajai panggung sepakbola. Di salah satu klub ternama itu, yakni Manchester City ada peran serta orang Indonesia untuk kesuksesannya.

Adalah Hanif Thamrin, putra seorang tokoh pendidikan di Payakumbuh, almarhum Thamrin Manan, menjadi satu-satunya orang Indonesia yang bekerja di Manchester City Football Club. Dirinya bekerja sebagai International Content Producer pada klub sepakbola yang sudah berdiri sejak tahun 1880 itu.

Kisah petulangannya bersama salah satu klub sepakbola terkaya di dunia itu dituangkannya dalam sebuah buku yang diterbitkan oleh Gramedia. Buku tersebut berjudul Pemburu di Manchester City. Buku tersebut di-launching di kota asalnya, Payakumbuh.

Pria kelahiran Jakarta, 31 Maret 1986 ini memilih Kota Payakumbuh sebagai salah satu lokasi soft launching, karena ikatan batin yang kuat dengan kota itu.

Pada saat soft launching buku yang dilaksanakan Kamis (4/8) sore, Editor Senior Gramedia Pustaka Utama Mirna Yulistianti mengatakan, buku yang di terbitkan Gramedia Pustaka Utama ini sangat inspiratif dan cocok sebagai salah satu buku motivasi bagi pembaca.

“Buku novel ini diterbitkan karena kisahnya yang inspiratif tanpa menggurui. Buku ini berisi bukti bahwa orang Indonesia punya kualitas untuk bersaing di dunia kerja Internasional. Bukti inilah yang penting disebarkan, agar bisa menular dan dapat dijadikan sebagai pemicu semangat oleh pembaca dalam meraih cita-cita,” ujarnya.

Soft launching ini dikemas dengan tajuk Laga Anak Rantau Menembus Dunia, digelar di Medan Nan Bapaneh Ngalau Indah, bersama Walikota Payakumbuh Riza Falepi, Kepala Dinas Pendidikan Hasan Basri dan Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga, Syahnadel Khairi.

Sedikit gambaran, Hanif Thamrin merupakan alumnus FH Unpad dan pernah bekerja di tiga stasiun TV nasional dan dua instansi pemerintahan, sebelum hijrah ke London.

Bermodalkan sebuah tekad yang nekat dan ingin bisa kuliah serta kerja di luar negeri, dia berangkat ke London hingga akhirnya mencicipi kehidupan keras menjadi tukang cuci mobil, kuli angkut, door to door sales, pelayan restoran dan kasir.

Namun dengan tekad kuat dan kegigihan yang dimilikinya, ia pun bisa menyelesaikan pendidikan Master TV Journalism di Goldsmith University of London dan mendapat kesempatan magang di BBC. Pendidikan inilah yang mengantarkan Hanif menjadi jurnalis di Manchester City Football Club.

“Saya menulis buku ini untuk mengubah paradigma orang tua tentang karir anaknya. Pasti setiap orang tua ingin terbaik untuk anaknya. Tapi terkadang orang tua cenderung mendorong tanpa mempertimbangkan apa yang disukai oleh anaknya,”

“Sedikit bercerita, ketika ayah saya masih hidup, Uni saya Ratih didorong untuk menjadi seorang diplomat, sehingga mengambil jurusan Hubungan Internasional dan saya menolak. Belakangan di dunia kerja, saya merasakan begitu banyak tantangan dan percayalah tantangan ini lebih ringan untuk dihadapi, ketika kita mengerjakan bidang yang kita cintai,” katanya.

Menurutnya, pada masa awal dirinya bekerja di Manchester City, tidak mudah dan penuh rintangan. Selama mengawali karir di sana, tidak ada yang mengajaknya berbicara, duduk bersama saat makan siang, serta kegiatan lainnya. Tapi dengan kegigihan yang dimilikinya, ia pun kini menjabat sebagai International Content Producer.

Kini, meliput Pep Guardiola dalam setiap konferensi pers, melaporkan laga kelas dunia di Etihad Stadium, wawancara Les Chapman, membuat video dengan Kelechi Iheanacho untuk fans Indonesia menjadi pengalaman berharga yang dirasakannya.

Ia mengatakan buku Pemburu di Manchseter Biru ini juga sebagai penyampaian cerita luar biasa kepada pendukung City, agar mereka paham bahwa mereka tidak mendukung klub yang salah. (bule)

Loading...