Industri Kreatif Maju Bersama JNE

Industri Kreatif dan Gaya Hidup

Industri kreatif dan belanja online, akan menjadi gaya hidup bangsa Indonesia di masa datang. Hal itu dibuktikan pada kegiatan tahunan bernama Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) yang diselenggarakan pada 10–12 Desember 2015 lalu seperti dikutip dari kompasina.com yang mampu menyedot triliunan rupiah dana transaksi.

Panitia memperkirakan, angkanya mencapai antara 3–5 juta dolar Amerika Serikat. Sementara Nielsen menelurkan estimasi, selama tiga hari tersebut, terjadi transaksi sebesar Rp2,1 triliun.

Adapun komoditi yang paling dicari selama Harbolnas adalah fashion (65%), gadget (44%), produk elektronik (41%), dan travel (31%). Harbolnas 2015 diikuti 140 peserta, naik hampir dua kali lipat dibandingkan peserta tahun sebelumnya yang hanya 78 peserta.

Untuk 2015 jauh-jauh hari panitia sudah mengimingi bahwa, terdapat tawaran total diskon mencapai sekitar Rp120 miliar. Nielsen juga mencatat bahwa para konsumen Harbolnas menggunakan laptop dan smartphone, sebagai perangkat yang banyak dipergunakan.

Sebanyak 85% diantaranya melakukan transaksi di rumah, dan umumnya atau sekitar 50% dari konsumen sudah pernah melakukan belanja daring sebelumnya.

Berkaca pada hasil menggembirakan yang diraih sepanjang Harbolnas 2015, tidak berlebihan apabila Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF), Ricky Pesik memasukkan sektor digital developers dalam fokus kerja instansinya.

BEKRAF menetapkan 16 sektor yang akan terus ditangani secara terfokus hingga 2019. Seluruh sektor tersebut adalah digital developers, arsitektur, desain interior, visual communication design, desain produk, fashion, film – animasi dan video, fotografi, craft, kuliner, musik, publishing, advertising, performing art, fine art, dan televisi – radio.

Menurutnya, di 2005, peran Ekonomi Kreatif sudah sangat signifikan mempengaruhi perekonomian dunia dengan mengambil peran sebanyak 6,1%. Sedangkan untuk di Indonesia, kontribusi Ekonomi Kreatif berdasarkan data BPS pada 2014, sudah melebihi angka 6% juga.

Paling menarik, sejak ditracking BPS terkait kontribusi Ekonomi Kreatif terhadap sektor perekonomian, maka pertumbuhan Ekonomi Kreatif adalah yang selalu stabil pertumbuhannya pada setiap tahun, bahkan manakala perekonomian Indonesia tengah dirundung perlambatan.

Itulah sebabnya, BEKRAF dituntut selalu meraih pertumbuhan selalu diatas rata-rata hingga 2019 nanti, yaitu dari 9,7% menjadi 13% dalam kontribusinya terhadap produk domestik bruto nasional.

Tingginya pengguna smartphone, merupakan barometer gaya hidup masyarakat yang ingin segala sesuatu hanya dengan sentuhan jari. Bahkan kalau bisa apapun pesanannya dari belahan dunia mana saja bisa dipesan hanya dengan duduk di rumah, pasti mereka lakukan jika sedang lagi dan mampu untuk mendatangkannya.

Makin maju dunia, maka tingkat ketergantungan pada layanan online juga semakin meningkat. Majalah Marketeers edisi Oktober 2015 pernah merilis tipikal koneksi internet yang semakin menjadi trend belakangan di kalangan Youth, Women, Netizen (YWN).

Menurut data tersebut, Koneksi Seluler terbanyak terjadi pada kalangan Netizen (70,2%), Youth (64,1%) dan Women (63,7%). Untuk penggunaan Wireless atau WiFi, lagi-lagi Netizen menjadi yang terbanyak dengan (39,9%), disusul Youth (37,2%) dan Women (35,2%).

Netizen juga mendominasi dengan (7,1%) untuk penggunaan Fixed Line, disusul bersamaan atau 6,2% untuk Youth dan Women. Sementara penggunaan Modem, Youth tercatat (3,1%), Women (3%) kemudian Netizen (2,9%)

Sementara CEO Provetic, Iwan Setiawan yang juga tampil sebagai pembicara Kompasiana Nangkring bersama JNE, pada Jumat, 11 Desember 2015, di Gedung Pusat JNE Express, Jalan Tomang Raya No. 11, Jakarta Pusat mengatakan, jumlah Kelas Menengah akan mengalami ledakan di Indonesia.

Hal itu sejalan dengan sebuah hasil riset yang menyoroti pelanggan di Indonesia dan dunia. Pada 2020 nanti, diperkirakan bakal ada 1 miliar pelanggan baru yang berasal dari kalangan Kelas Menengah secara global.

Dari jumlah itu, sebanyak 30%-nya berasal dari negara-negara maju di Asia, seperti China, India dan Indonesia. Padahal, ketika 2009, Kelas Menengah justru dikuasai negara-negara dari Amerika Utara, Eropa, Amerika Selatan, Asia Pasifik, Timur Tengah dan Afrika,” jelasnya seraya menegaskan bahwa pada 2020, para consumers di Indonesia akan hidup dalam dunia digital (living in digital world).

Gambaran Kelas Menengah di Indonesia, dapat dilihat perkembangannya melalui keriuhan ‘narsis’ mereka di media sosial. “Pertama, menggunakan global brand, contohnya berbagai merek busana asal mancanegara yang makin digemari.

Kedua, semakin peduli pada kesehatan, misalnya dengan semakin maraknya penyelenggaraan ajang lari marathon. Ketiga, senang melakukan traveling, termasuk acara-acara televisi yang semakin banyak menayangkan program traveling. Keempat, gemar melakukan wisata kuliner, terbukti sekitar sepuluh tahun lalu kita akan kesulitan mencari French Restaurant, Italian Food, Japanese Food dan sebagainya.

Kelima, budaya minum kopi yang semakin menjamur. Keenam, mulai memperhatikan sophisticated sampai pada tingkat packaging (kemasan) barang. It’s all about image. It’s all about packaging. Jeleknya suatu produk, bisa ditutup oleh kemasan yang bagus. Ketujuh, compact television, yang antara lain didorong oleh semakin merebaknya gaya hidup tinggal di apartemen.