Investasi Menggiurkan, Tanam Jabon Bisa Jadi Jutawan

Pohon jabon. (*)
Pohon jabon. (*)

LUBUK BASUNG – Pilihan investasi sektor kehutanan belum banyak dilirik masyarakat luas. Termasuk investasi menanam pohon jabon. Padahal jika ditekuni, hasil investasi jabon ini tak kalah menggiurkan dan memperoleh keuntungan yang bukan sedikit.

Syafruddin, pensiunan instansi kehutanan di Jakarta saat ditemui Singgalang di Sigiran Rabu (9/8) menuturkan, istilah jabon itu mulai familiar di kalangan masyarakat beberapa tahun terakhir. Kepopuleran jabon seakan menenggelamkan pohon sengon yang sebelumnya sudah banyak dikembangkan.

Jabon sering diplesetkan dengan istilah ‘jati bonsor’ (jabon) yaitu jenis pohon yang mirip jati dengan kemampuan tumbuh yang sangat cepat. Sehingga tak heran jenis pohon ini cocok juga sebagai pohon yang kayunya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri kayu seperti plywood maupun industri pulp maupun kertas.

Lebih dikenalnya pohon jabon karena sebagai salah satu pohon yang bernilai ekonomis tinggi, juga telah diakui Kementerian Kehutanan. Harga jual kayu jabon cukup tinggi sehingga cocok untuk investasi masyarakat.

Satu kubik pohon jabon sekarang mencapai Rp2 juta, beberapa tahun lagi dipredikasi akan lebih mahal. Jabon dapat dipanen dalam kurun waktu 6-7 tahun paling lama.

Modal bibit jabon siap tanam hanya Rp 2.000-2.500, sementara dengan perhitungan harga untuk satu kubik pohon jabon Rp2 juta dengan catatan, setiap pohon jabon umur 6 tahun itu dapat diperoleh dua kubik, sudah terbayangkan berapa margin yang akan diperoleh.

“Bayangkan saja keuntunganya luar biasa dari modal Rp 2.500 per pohon menjadi Rp 3 juta”, ujar Syafruddin.

Yang menarik, dari informasi yang hingga kini, jabon belum ada penyakitnya. Di Jawa sudah banyak penampungnya untuk industri plywood.

Jabon cocok ditanam di Agam. Ia menghitung, nilai ekonomis penanaman jabon bisa diperoleh dari penanaman pohon sedikitnya setengah hektar.

Kalau sudah ada lahan milik sendiri, cukup setengah hektar lumayan, sudah 200 pohon dapat ditanam.

Menurut Syafruddin lagi, jabon memiliki dua jenis yaitu jabon merah dan jabon putih, dua-duanya memiliki keunggulan masing-masing. Misalnya jabon merah memiliki karakter kayu yang keras sedangkan jabon putih sebaliknya. Untuk urusan bibit, Syafruddin, menuturkan informasi soal bibit bisa diperoleh di pusat-pusat persemaian yang dibangun Kementerian Kehutanan.

Soal pemasaran, menurut Syafruddin, yang telah menanam jabon di Sigiran, Kecamatan Tanjung Raya cukup mejanjikan pertumbuhan bagus. Hal ini untuk Sumatera dapat mendukung industri-industri kayu maupun kertas.(lukman)