Jangan Bicara Kopi Kalau tak Kenal dengan Koto Tuo

Dua pekerja sedang mengayak kopi bubuk sebelum dikemas, di Nagari Kototuo, Kecamatan Sungai Tarab.(Musriadi Musanif)
Dua pekerja sedang mengayak kopi bubuk sebelum dikemas, di Nagari Kototuo, Kecamatan Sungai Tarab.(Musriadi Musanif)

BATUSANGKAR – Inilah nagari dengan sejuta kenikmatan, penyedia kelezatan tiada tara. Namanya Kototuo. Berada dalam wilayah Kecamatan Sungai Tarab. Janganlah bicara soal nikmatnya kopi, bila Anda tak kenal nagari yang terletak di pinggang Gunung Marapi tersebut.

Kalau nikmatnya datang dari bubuk kopi, hasil olahan masyarakat Koto Tuo, maka lezatnya juga tersedia di sini, beraneka jenis bumbu masakan diracik oleh anak nagari, dikemas dalam berbagai ukuran, lalu dipasarkan ke berbagai kota di Sumbar, Riau, Jambi, Kepulauan Riau, Sumatera Utara hingga Kalimantan.

Di Koto Tuo yang hanya punya tiga kejorongan, sekitar 75 persen warganya hidup dari pengolahan kopi, sejak dari merendang, menggiling, mengemas, hingga pemasarannya.

Sekretaris Nagari Koto Tuo Herlina dan salah seorang pemilik usaha kopi bubuk setempat Nofiarman menjelaskan, sejak 1986 hingga saat ini, sedikitnya telah tercatat 177 merek dagang kopi bubuk hasil olahan masyarakat Koto Tuo. Satu merek, biasanya menguasai satu hingga beberapa wilayah pemasaran.

“Usaha pengolahan bubuk kopi ini menyerap banyak tenaga kerja. Setiap unit usaha mempekerjakan antara lima hingga 20 orang. Itu belum dihitung para pedagangnya,” ujar Herlina kepada Singgalang, kemarin, di kantor walinagari setempat.

Dijelaskan, sekitar 80 persen warga Kototuo menggantungkan hidup dari usaha perendangan kopi. Tidak kurang dari 10 ton kopi bubuk diproduksi setiap minggu. Sayangnya, karena terbatasnya kebun kopi di Tanah Datar, pemilik usaha perendangan kopi terpaksa mendatangkannya dari provinsi tetangga, misalnya Jambi dan Bengkulu.
Dikatakan, usaha rendang dan penggilingan kopi untuk kemudian dikemas jadi kopi bubuk di Kototuo sebenarnya telah berkembang turun-temurun. Kendati demikian, tidak ada usaha berskala menengah dan besar tumbuh di nagari itu. Umumnya masuk kategori industri rumah tangga.

Menurut dia, untuk menghasilkan bubuk kopi beraroma luar biasa memancing selera, warga umumnya merendang menggunakan kayu bakar khusus, yakni batang kulit manis. Bila menggunakan kayu jenis lain, jelasnya, aroma dan cita rasanya pasti berbeda dari yang dikenal selama ini.

Setelah direndang, katanya lagi, umumnya warga mengupahkan penggilingannya ke usaha penggilingan yang kini telah menggunakan mesin.

Berkembangnya usaha perendangan dan penggilingan kopi bubuk di Koto Tuo, ternyata mampu pula merangsang lahirnya unit usaha lain, yakni sablon. Kemasan kopi produksi Koto Tuo sudah diberi merek yang pengerjaannya dilakukan para tukang sablon yang ada di nagari itu sendiri.

“Tukang sablon merek kemasan kopi bubuk itu, berasal dari pemuda yang menganggur. Mereka dilatih menyablon oleh pemerintah lewat program PNPM dulu. Kini, mereka tak pernah sepi order menyablon kemasan kopi bubuk yang diproduksi,” terangnya.

Selain usaha perendangan dan penggilingan kopi bubuk, Nagari Kototuo dikenal pula sebagai daerah penghasil bumbu masak dalam kemasan yang pemasarannya juga menjangkau banyak daerah di Sumbar, Jambi dan Riau. Sama halnya dengan kopi, bahan bakunya pun didatangkan dari daerah lain.

Ada banyak jenis bumbu masak kering yang sudah dikemas warga, kemudian dipasarkan ke berbagai daerah. Ada bumbu sup, rendang, tempayang dan beragam bumbu masak lainnya. Bumbu racikan ahli masak Kototuo, terbukti banyak dicari konsumen berselera khas Minang di luar Sumbar.(Musriadi Musanif)