Jelang 2 Desember, Pengusaha Mulai Tinggalkan Jakarta

Unjukrasa umat Islam di Jakarta (okezone)
Unjuk rasa di Jakarta. (okezone) 

JAKARTA –  Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ade Sudrajat mengatakan, di tengah kondisi perekonomian yang belum sepenuhnya pulih saat ini, jika ada aksi unjuk rasa yang terus terjadi, tak bisa dipungkiri dapat menganggu perekonomian.

“Berkaca pada 4 November lalu, dimana banyak kinerja industri yang terganggu. Demo pada 4 November lalu melahirkan kekhawatiran dan menimbulkan efek trauma sangat besar,” ujar Ade Sudrajat.

Ade menyatakan, sekitar 100 ribu pengusaha diperkirakan akan keluar Jakarta jelang 2 Desember. Bahkan saat ini para pengusaha tersebut mulai meninggalkan ibu kota. “Mereka ambil sikap keluar dari Jakarta, ada sekitar 100 ribu pengusaha. Sekarang sudah ada yang jalan,” ujarnya dalam diskusi publik  ‘Dampak Ekonomi Demo 411’ yang diselenggarakan pada Rabu (30/11) di Warung Daun, Jakarta Pusat.

Dia menyatakan, para pengusaha tersebut pergi ke daerah-daerah yang relatif lebih tenang dan tidak memiliki potensi kerusuhan pada 2 Desember mendatang. Bahkan ada juga yang pergi keluar negeri. Pengusaha memilih tidak di Jakarta tapi  ke Bali, Manado, Yogya, yang relatif tidak terjadi kerusuhan. Ada juga yang keluar negeri ke seperti ke Singapura.

“Mereka wait and see. Mereka persiapkan 15 hari-20 hari. Tapi kalau 1 hari ini beres mereka kembali lebih cepat untuk kembali beraktivitas. Karena bunga kredit itu tinggi kalau usaha mereka lama tidak jalan,” tandas dia.

Akademisi Tito Rizal mengatakan, kerugian akibat demo 411 ditaksir mencapai Rp4 triliun. Dihitung dari jumlah toko yang tutup di pusat perbelanjaan yang mencapai 20 ribu toko dengan omzet minimal Rp25 juta per toko.

Belum lagi, berbagai agenda bisnis, pertemuan, dan operasional perkantoran di kawasan pusat bisnis tutup, terutama dekat istana.

“Pusat perdagangan seperti Tanah Abang, Glodok, Mangga Dua, Pasar Pagi, ITC, sebagaian besar tutup. Transaksi distribusi barang juga tertunda, dengan taksiran kerugian Rp1,6 triliun. Kemudian, penjaga toko, karyawan konveksi, buruh angkut, mencapai 150 ribu orang terpaksa diliburkan,” tegas alumni Universitas Kebangsaan Malaysia ini.

Dari sisi investasi, akibat demo dan tidak ada kepastian hukum, terkait kasus sangkaan kasus penistaan agama yang dilakukan Calon Gubernur Petahana Basuki Tjahja Purnama, berdampak negatif terhadap penundaan masuknya dana investasi USD4,17 miliar. Juga ada daerah yang rencana investasinya terhambat.  Rinciannya, Jawa Timur USD182 juta, Jawa Tengah USD73 juta, Jawa Barat USD217 juta, dan Banten USD111 juta.

Yopie Hidayat, kolumnis ekonomi yang juga mantan Juru Bicara Wapres Boediono, menegaskan, saat ini, kondisi ekonomi global tengah dalam kondisi sangat tidak bagus, bahkan bisa dikatakan sudah ‘megap-megap’. Dampak bagi Indonesia pun sudah terasa dengan melemahnya nilai tukar Rupiah. Situasi bisa makin memburuk kalau situasi politik tak kunjung stabil seperti maraknya demonstrasi.

Salah satu penyebab ketidakpastian itu lantaran belum pastinya kebijakan ekonomi Presiden AS Terpilih Donald Trump. Selain itu, pelemahan ekonomi sudah terasa juga di India dan Cina. Kedua negara itu adalah pasar ekspor terbesar Indonesia.

Kata Yopie, ada krisis di luar yang tidak bisa dikendalikan. Situasinya akan makin runyam jika ditambah demo yang tidak berkesudahan.  “Pergulatan politik dengan pengerahan massa akan memperburuk persepsi tentang keamanan dan stabilitas. Ini akan melemahkan kesiapan menghadapi krisis,” tegas Yopie.

Jika kondisi politik ekonomi tidak stabil, demo terus berkelanjutan, bukan tidak mungkin rupiah ikut terpukul, meskipun relatif lunak jika dibandingkan dengan mata uang negara berkembang lain. (aci)