Toko Taki
Menu Click to open Menus
Home » Opini » Jokowi Berfilosofi Minang

Jokowi Berfilosofi Minang

(59 Views) September 9, 2013 7:25 am | Published by | No comment

ALFIAN JAMRAH – JOKO Widodo atau Jokowi semakin menarik, makin banyak orang yang kesengsem melihatnya dan selalu menjadi bahan pembicaraan.  Sementara itu dia semakin merendah, makin murah senyum dan makin halus tutur katanya. 

Jokowi benar-benar fenomenal, tidak hanya orang dewasa bahkan anak kecilpun mengenal nama dan wajahnya. Pers juga suka memberitakannya karena semua pertanyaan wartawan dapat dijawabnya dengan tenang dan tidak emosional. Maka tiap hari nyaris seluruh stasiun televisi dan koran memajang wajah Jokowi yang terlihat ikhlas apa adanya.
Menurut pengamatan saya, ternyata Jokowi telah dapat memanfaatkan situasi dan kondisi yang berkembang. Ketika banyak orang ingin jadi luar biasa, maka dia melawan arus menjadi biasa-biasa saja. Ketika orang lain saling berebutan ingin jadi Presiden, maka ketika itu pula Jokowi semakin menahan diri.
Jokowi tidak pernah menyatakan diri ingin jadi Presiden apalagi beriklan, ketika ditanya iapun mengelak mengalihkan pembicaraan. Tapi orang lain semakin bernafsu memunculkannya, terakhir ada pula rencana menyandingkannya dengan Jusuf Kalla.
Contoh kecil lain, ketika orang berlomba ingin berpenampilan terbaik dengan pakaian batik sutera mahal yang berkilat-kilat, tapi Jokowi terlihat tiap hari memakai kemeja putih yang sangat sederhana.
Dia lain dari yang lain sehingga makin tinggi daya tariknya, prinsipnya seperti padi makin barisi samakin marunduak. Apalagi masyarakat juga sudah kian bosan dengan tingkah yang berlebihan, bermewah-mewah, pemborosan dan mengumbar nafsu untuk kekuasaan.
Pada bagian lain saya melihat bahwa sebenarnya Jokowi telah mengamalkan berbagai filosofi yang ada di Minangkabau. Banyak nilai-nilai dan ajaran yang lahir di ranah bundo ini yang telah dipakai Jokowi dalam hidup nya.
Misalnya seorang pemimpin didahulukan salangkah ditinggikan sarantiang, tidak seperti menara gading yang susah dijangkau. Maka terlihat nyata bahwa Jokowi sangat dekat dengan rakyat, kemanapun dia pergi selalu dikerubungi rakyat tanpa protokoler yang ketat.
Banyak yang ingin berfoto dan bersalaman. Dengan blusukan nampak Jokowi bisa berkomunikasi dengan rakyat dan rakyat bisa menyampaikan aspirasinya. Melihat kakobehnya kita jadi ingat mantan Walikota Padang Bang Syahrul Ujud yang sudah melaksanakannya puluhan tahun lalu.
Kemudian Jokowi juga berfilosofi mandi di hilie-hilie bakato di bawah-bawah yang terlihat dari sikapnya melayani siapa saja dengan lembut. Tidak meninggi dan terkendali, kecerdasan emosionalnya menonjol.
Dia juga tidak menanggapi berlebihan ketika ada orang yang mnghujatnya sehingga suasana mencair. Bukti lainnya terlihat ketika dia berhasil memboyong PKL Tanah Abang dari pinggir jalan ke Blok G tanpa banyak ribut-ribut. Suatu kerja besar yang belum berhasil dilakukan oleh pemimpin sebelumnya. Hal ini pernah dilakukannya ketika boyongan pasar di Solo.
Dalam kepemimpinannya juga nampak tidak kaku, tagang bajelo-jelo lamah badantiang-dantiang sehingga bisa keras dan bisa pula lunak. Namun gadang indak maimpok gapuak indak manjua lamak sehingga tidak berbuat semena-mena, tidak mentang-mentang atau aji mumpung, mengalir apa adanya.
Jokowi bagai mamandikan kabau, dia ikut berkubang dan kapan perlu masuk got dalam setiap kegiatan sehingga kehadirannya dapat dirasakan masyarakat. Hebatnya semua itu terlihat tidak dibuat-buat, ikhlas apa adanya.
Dari banyak peristiwa terasa rakyat kini membutuh kan profil unik dan langka seperti Jokowi yang merakyat, yang meletakkan hatinya di dasar laut tetapi tetap tegas. Sikap Jokowi juga lebih menonjol sebagai pelayan dan abdi masyarakat dibandingkan sebagai seorang penguasa.
Bahkan rakyat antusias sekali seakan-akan menjadikan Jokowi bagai baringin gadang di tangah padang, batangnyo tampek basanda, daunnyo untuak bataduah dan akanyo tampek baselo, yaitu lambang kepemimpinan di Minangkabau. Rupa nya masyarakat Indonesia sudah rindu dengan tipe pemimpin yang dingin seperti Jokowi. Dan apakah Jokowi pernah mendalami ajaran-ajaran serta filosofi kepemimpinan Minangkabau? (*)

Categorised in:

No comment for Jokowi Berfilosofi Minang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>