Kandidat ‘Tiarap’, Pilkada Payakumbuh Lesu

Ilustrasi (net)
Ilustrasi (net)

PAYAKUMBUH – Sempat menghangat beberapa waktu lalu, dinamika politik di Paayakumbuh jelang Pilkada serentak 2017 cendrung lesu. Pengamat politik Luak Limopuluah menduga, ini juga diakibatkan beberapa faktor.

“Pertama, tersitanya perhatian publik terhadap Pilkada DKI yang salah satu kontestan, jadi tersangka penista agama. Kedua, ada kecendrungan, cawako-cawawako tiarap dalam tanda kutip,” kata Okta Vider, dari Luak Limopuluah Coruption Watch.

Tiarap yang dimaksud Vider, kandidat wako maupun wawako lebih banyak memilih bergerak di “bawah tanah”. “Tentu, juga disebabkan, dengan tingginya cost yang dihadapi. Artinya, secara finansial, ketiga pasang calon belum terlihat saling bersaing,” jelasnya.

Padahal, cost politik dalam Pilkada, tidak akan bisa dilepaskan. “Mustahil, kalau tidak ada cost, bisa bergerak. Semati-mati angin, membayar kopi warga di warung, itu juga butuh cost,” tutur dia, dalam diskusi terbatas di warung kopi Ani bersama tokoh muda Luak Limopuluah, Ronald Akhyar.

Pantauan Singgalang, ketiga pasang cawako-cawawako Payakumbuh, sesuai nomor urut Wendra Yunaldi-Ennaidi Dt Angguang, Riza Falepi-Erwin Yunaz dan Suwandel Mukhtar-Fitrial Bachri, lebih memilih jalan sendiri-sendiri beberapa hari terakhir. (bayu)