Ke Dinding Langit Toba, ke Perut Sigura Gura

Berfoto di dinding langit Danau Toba. (*)

PAGI telah sempurna, sejumlah pria di Desa Hutaginjang, Kecamatan Muara di Tananuli Utara itu, sedang menikmati kopi pada sebuah kedai. Jauh di bawah, Danau Toba terbentang menyambut siapa saja yang datang.

“Ayo ngopi, ” kata salah seorang dari pemuda itu sembari membetulkan jaket dan kain sarungnya. Mereka anak-anak alam yang dibesarkan dengan panorama terbaik.

Di sini Hutaginjang merupakan dinding langit  Toba, danau vulkanik purba itu. Panjangnya 100 Km dan lebar 30 Km dengan dalam 505 meter. Di tengahnya ada Pulau Samosir, yang belakangan beberapa situs dan objek wisata di pulau istimewa itu dipermak jadi rancak oleh PT. Pelindo I.

Rombongan BUMN Expo, Expert Visit tak hendak berkata apa kala Sabtu 9 Desember lalu sampai di desa nan sejuk itu. Mereka berfoto, memoto, terdiam. Berdecak dan membeli kacang goreng yang dijajakan seorang nenek nan ramah. Nenek seperti hendak menceritakan,” saya hidup di sini sudah puluhan tahun, Danau Toba adalah halaman jauh rumah saya.”

Pemuda di kedai kopi menikmati lagi tegukan dari gelasnya. Saban pagi mereka duduk di kedai itu, menatap jauh ke bawah pada sejarah tanah mereka pada hamparan keindahan dan masa depan pariwisata Toba.

Samosir

Sehabis makan siang di restoran terbuka Hotel Niagara kami beranjak ke Samosir. Hotel itu berada pada titik yang tepat. Beberapa dari kami duduk pada meja pada lantai paling atas. Lagi-lagi Toba seperti novel yang terbuka. Kedua titik itu Hotel Niagara dan Desa Hutaginjang mengalahkan posisi Embun Pagi dan Puncak Lawang spot terbaik untuk menatap Danau Maninjau di Sumatera Barat. Meski begitu kabut pagi nan tipis bagai selendang di Embun Pagi terbaik yang pernah saya saksikan.

Ke Samosir naik kapal melaju konstan dari pelabuhan milik Hotel Inna terasa nyaman tapi tak senyaman kapal di kanal-kanal Leiden yang pernah saya naiki. Di kapal terlihat pebukitan sekitar dan riak danau yang memukul-mukul. Sebuah drone milik anggota rombongan melayang tak jauh dari kapal mengabadikan perjalanan ini.

Di Samosir seperti dulu banyak pedagang berjualan tanda mata untuk pelancong. Kami melewatinya karena harus menyaksikan sebuah pertunjukan tradisional di Desa wisata Tomok Parsoaran, Kecamatan Simanindo. Di sinilah karya Pelindo I itu saya lihat. Perseroan ini merehab rumah adat ada balai-balai, ada lapangan terbuka dan toilet serta gerbang desa.

Prof Rhenald Kasali dan kami disambut dengan tarian adat. Yang menurut pemilik Rumah Perubahan itu, suguhan tari tersebut “amat mewah” secara kultural dan wisata.

Desa Tomok gerbang  Pulau Samosir ini, menjadi ujung tombak pariwisata Danau Toba.

Toba dan Samosir nyaris lenyap dari daftar travel biro, tetiba bangkit menyusul dibukanya Bandara Silangit oleh Angkasa Pura II.

Desa Tomok, salah satu desa dari 104 desa di Pulau Samosir. Pelindo lantas mengerjakan apa lagi di sana?

Yang pertama kali dibangun mental masyarakat Desa Tomok melalui pelatihan seperti pelayanan, keramahtamahan, packaging pariwisata, mengirim langsung para pemuda desa untuk belajar melayani dan membangun desa wisata di Yogyakarta.

“Saya Batak tapi sejak belajar memandu wisata saya ramah di luar lembut di dalam, ” kata pemandu kami di kapal. Maka wajah wisata Samosir pun berubah. Tetamu yang datang disambut tarian adat. Ada Jumat bersih dan warga membuang sampah yang tersisa. Bahkan kini ada homestay.

Setelah tarian dan jamuan ringan, kepala desa menyerahkan ulos kepada Rhenald Kasali, sebagai sebuah penghormatan. Setelahnya kami singgah di makam Raja Sidabutar.  Malam telah datang, Toba berselimut gelap. Kami pun menuju ke mess Inalum.

PLTA Sigura Gura

Jika tadi di dinding langit, kini rombongan masuk perut bumi di gugusan Bukit Barisan. Menusuk turun sejauh 200 meter. Di perut bumi itulah terletak turbin, persis PLTA Singkarak. Bedanya, Singkarak milik PLN, ini milik Inalum. Kapasitas terpasang 4 turbin 71 MWx4

” Listriknya kita kirim ke pabrik di Kuala Tanjung,” kata Humas Inalum Fajri Ramadhan pada Singgalang. Dari lembah-lembah rimba Bukit Barisan listrik dikirim sejauh 120 Km ke pabrik peleburan aluminium itu.

Sebelum masuk perut bumi kami mendatangi bendungan Sigura  Gura yang terkenal itu. Bendungan ini menghampang aliran Batang Asahan yang berhulu di Toba. Jaraknya ke danau 23 Km. Di zamannya 1982, inilah bendungan terbesar di Indonesia, namun kini direbut bendungan PLTA Koto Panjang di Riau/Sumbar.

Bandara Silangit

Apa pula ini? Lapangan terbang kecil tapi berstatus internasional. Sepanjang 2017 pesawat silih berganti mendarat, dua penerbangan dari Medan, lima kali sehari dari Jakarta. Total 7x sahari dengan penumpang (pp) sekitar 1.000 orang. Setidaknya 50 persen adalah wisatawan. Sisa yang lain?

“Penduduk sini ke Jakarta lebih senang hatinya sebab lebih cepat,” kata GM bandara itu, Hotasi Manalu.

Ia benar sebab di sekitarnya ada 8 kabupaten. Jika mereka naik pesawat di Medan maka harus jalan darat dulu 6 jam. Maka sejak Silangit dibuka, segalanya jadi mudah. Wisatawan mau ke Toba tak perlu ke Medan. Lama terbangnya hanya lebih cepat 10 menit jika ke Silangit, 2 jam 10 menit, tapi tersiksa 6 jam Medan -Toba siapa yang kuat?

Bahkan kini ada penerbangan direct dari Malaysia dan Singapura. Itu ikut berkontribusi bagi kenaikan jumlah penumpang di semester 1/2017 mencapai 304 persen dibanding periode yang sama di tahun lalu. Kebahagiaanpun terpancar di wajah Hotasi Manula.

Dan pesawat Sriwijaya Air siap terbang, suami istri nan bahagia naik. Pasangan ini hendak ke Jakarta, mungkin menemui anak dan cucunya. Sebelum duduk, berfoto dulu dengan Ustad Yusuf Mansyur yang duduk di depan saya.

Pesawat menusuk langit, ustad kita ini lantas membaca Quran di telepon genggamnya. Tanpa suara. (kj)