Toko Taki
Menu Click to open Menus
Home » Komentar » Kebesaran Jiwa Sang Pemimpin

Kebesaran Jiwa Sang Pemimpin

(19 Views) January 9, 2013 7:10 am | Published by | No comment

M. Ichlas El Qudsi

Mengungkap dua penggalan kata ini, kebesaran jiwa memang cukup mudah. Kebanyakan dalam realitas keseharian di berbagai bidang profesi yang digeluti atau suatu kompetisi sering terucap, “Mari kita tunjukan dan perlihatkan kebesaran jiwa.”
Dalam mengimplementasikan dalam tindakan nyata, tak semudah mengucapkannya dan malah kebanyakan masih belum mampu menjalankannya. Tapi, bukan berarti tidak dapat dilakukan dan malahan bisa mengembangkan kebesaran jiwa sepanjang ada kemauan dan ketekunan membawa diri untuk belajar.
Mengembangkan kebesaran jiwa tentu dilakukan dalam tindakan nyata keseharian, mulai dari kita berani mengakui kesalahan yang diperbuat, karena orang yang kerdil yang selalu menyembunyikan kesalahan dan suka kambing hitam.
Kemudian belajarlah memaafkan kesalahan orang lain, karena orang yang lemah akan cenderung menyimpan kesalahan dan membenci orang lain.
Berani bertanggung jawab atas apa yang dikatakan dan dilakukan atau kata lain minta maaf, jangan sering melempar tanggung jawab. Tentu banyak lagi persyaratan yang harus dipenuhi diri seseorang untuk mengembangkan kebesaran jiwa.
Sederatan persyaratan bagi seorang pemimpin dari berbagai literatur, bahwa kebesaran jiwa merupakan salah satu yang mutlak harus melekat dalam diri.
Seorang pemimpin harus punya kebesaran jiwa atau ksatria dalam menjalankan amanah yang dipercayakan karena akan menjadi spirit bagi anggota, komunitas dan masyarakat yang dipimpinnya.
Kebesaran jiwa seorang pemimpin akan dapat lihat, jelaslah bukan sekadar keberaniannya dalam membuat terobosan dan menghadapi situasi-situasi sulit saja.

Namun, seorang pemimpin yang punya kebesaran jiwa, siap untuk mengakui suatu kesalahan atau kekeliruan yang dilakukannya. Apakah, itu terhadap bawahannya maupun mitra dan relasi serta masyarakatnya sendiri.
Wujud dari ketulusan kebesaran jiwa seorang pemimpin, berani menyampaikan kata-kata maaf bilamana dalam tindakan kurang tepat atau tidak pas. Bukan sebaliknya, bertahan dengan sikap ego kalau sudah jelas-jelas dipandang salah langkah dan tindakan tersebut.
Suatu hal yang wajar saja, banyak orang yang berbangga kepada sosok pemimpin yang berani mengatakan suatu yang benar dan menyatakan dirinya bersih dari upaya yang merugikan masyarakat, bangsa dan negara.
Yang telah ditunjukkan pejabat publik, seperti Dahlan Iskan dipenghujung 2012. Datang ke Padang, mengkhususkan diri untuk menyampaikan kata-kata maaf secara langsung kepada keluarga besar kami sebagai bentuk kebesaran jiwa dan ketulusan sebagai seorang pemimpin dan pejabat publik.
Jika pun sebelumnya sudah menyampaikan ucapan maaf ke publik melalui media massa cerat dan elektronik kepada sejumlah anggota dewan yang dituding melakukan pemerasan terhadap BUMN, PT Merpati Nusantara Airlines.
Ternyata bagi seorang Dahlan Iskan merasa belum cukup, bila belum mendatangi rumah-rumah anggota dewan yang keliru dilaporkannya ke Badan Kehormatan DPR tersebut.
Kekeliruan yang terjadi sepenuhnya kelalaian dan kesalahan dari bawahannya memberikan informasi yang tak berdasarkan data dan fakta. Namanya seorang pemimpin harus memikul kesalahan dari bawahan.
Tindak yang diperlihatkan seorang Dahlan, tentu bukan sebatas untuk menanggung kesalahan dari bawahannya semata, tapi pantas dan patut untuk diapresiasi serta dijadikan contoh. Kebesaran jiwa yang penuh dengan ketulusan dan keikhlasan mesti melekat dalam diri seorang pemimpin hari ini dan masa mendatang.
Pemimpin
Melihat definisi tentang pemimpin, tergantung sudut pandang dan masih banyak yang lebih pada pekerjaan seorang pemimpin. Penulis cenderung melihat substansi dari pemimpin bukan kepada pekerjaannya. Sebagian dan bahkan kebanyakan orang melihat pemimpin pada aspek pekerjaannya.
Esensi dari pemimpin adalah seseorang yang mampu memberi makna dan nilai bagi orang lain dengan keberadaannya, bukan hanya sebatas pekerjaan.
Maka pemimpin harus memenuhi beberapa syarat, pertama; harus memiliki karakter yang positif, karena merupakan sifat dasar untuk bertindak dimanapun berada. Sifat dasar ini akan membentuk atau jalan untuk mengembangkan kebesaran jiwa tersebut.
Jadi karakter seseorang akan menjadi penentu dalam pola kepemimpinannya atau dalam mengemban tugas yang diamanahkan kepada dirinya.
Kedua, pemimpin harus punya cita-cita, nah tergantung dimana posisi yang ditempati masing-masing.Apabila seorang pemimpin tak memilikinya maka akan sia-sia. Ketiga, pemimpin harus mampu memotivasi bawahannya dengan ketulusan dan ikhlas.
Keempat, pemimpiN harus mampu menjadi tauladan atau sosok yang pantas untuk dicontoh dalam kehidupannya sehari-hari, artinya apa yang diucapkannya dan itu pula yang dilakukan atau dijalankan dalam tindakan.
Kelima, pemimpin harus mampu menjadi sumber inspirasi bagi bawahan dan lingkungannya. Dan persyaratan keenam, pemimpin harus cepat tanggap atau responsif untuk mencarikan jalan keluar terhadap suatu persoalan yang terjadi. (*)

Categorised in:

No comment for Kebesaran Jiwa Sang Pemimpin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>