Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Sumbar Meningkat

Ilustrasi. (*)
Ilustrasi (net)

PADANG – Kekerasan terhadap perempuan dan anak di Sumbar meningkat setiap tahun. Selama 2016 hingga November tercatat 800 kasus yang dilaporkan. Jumlah ini meningkat dibanding tahun lalu.

“Banyaknya laporan kasus menandakan para perempuan di daerah kita makin berani dan ingin mendapatkan perlindungan,” kata Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Limpapeh Rumah Nan Gadang Sumbar, Ny. Nevi Irwan Prayitno, usai menghadiri pelatihan peningkatan produktivitas ekonomi perempuan korban kekerasan dan rawan ekonomi angkatan I di Asrama Haji Padang, Kamis (17/11).

Dilihat dari sisi lain, meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak membuat P2TP2A Sumbar khawatir, karena itu mereka harus mendapatkan pendampingan.

“Meningkatnya kasus sangat menjadi perhatian serius bagi kami. Namun saat ini kami tidak bisa berbuat banyak, ketika membantu dan memfasilitasi para korban. Ini karena keterbatasan anggaran dan tidak adanya hibah bansos,” ujarnya.

Meski begitu sebutnya, P2TP2A Sumbar tetap optimis dan semaksimal mungkin memberikan yang terbaik untuk kaumnya. Salah satunya, dengan merekomendasikan korban kekerasan ke Badan Pemberdayaan Perempuan untuk ditindaklanjuti.

Tahun ini, P2TP2A juga menyediakan layanan rumah aman untuk para korban yang merasa terancam oleh pelaku dengan menyediakan layanan dan pendampingan untuk korban.

Tidak hanya itu, saat ini juga ada layanan telephone sahabat anak untuk memfasilitasi anak bercerita, atau curhat masalah kekerasan yang dialami di lingkungannya.

“Kami akan sosialisasikan ini, baik ke SD, SMP, maupun SMA agar mereka tidak merasa sendiri. Selain itu, kami juga akan berusaha berkoordinasi dengan berbagai pihak guna memberikan rasa nyaman dan aman bagi korban,” ujarnya. (yuke)