Program Tanaman Kehidupan, Akasia Jadi Pilihan Warga

Bupati Kepulauan Meranti, Irwan Nasir saat melakukan penanaman pertama Program Pohon Kehidupan di Pulau Padang. (ist)
Bupati Kepulauan Meranti, Irwan Nasir saat melakukan penanaman pertama Program Pohon Kehidupan di Pulau Padang. (ist)

MASYARAKAT  Desa Tanjung Padang, Kabupaten Meranti, Riau awalnya menjatuhkan pilihan untuk bertanam pohon karet. Namun setelah diteliti ternyata kondisi kepadatan tanah tak begitu menunjang. Masa panen karet juga relatif panjang yakni mencapai 6 sampai 7 tahun. Sementara warga butuh sumber penghasilan relatif cepat.

Hal ini sejalan dengan masukan dari seorang pakar tanaman karet, Bolot Santoso. Ia juga menyarankan agar dilakukan penanaman tanaman non-karet untuk satu daur, sebelum selanjutnya ditanami karet. “Akhirnya kami memilih akasia,” ujar Kepala Desa Tanjung Padang, Abu Sufian.

Ia menyatakan, keadaan ekonomi masyarakat harus segera ada solusi. Hal itulah yang membuat warga segera merespon ketika pihak PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) datang menanam investasi. Warga berharap akan muncul semacam multiplier effect di bidang perekonomian dan tentu saja akan membuka banyak lapangan pekerjaan baru.

Namun dari dua obsesi itu paling menarik adalah ketika perusahaan juga menawarkan Program Tanaman Kehidupan. “Tanaman kehidupan ini telah membawa berkah bagi kami. Menjelang lebaran lalu kami sudah memperoleh kompensasi meski tahun 2016 ini baru tercatat sebagai tahun awal program dijalankan,” ujar Abu Sufian.

Tanaman yang dimaksud adalah akasia. Dikatakannya, pilihan akasia dirasa tepat, meski PT RAPP tidak memaksa harus menanam akasia namun menyerahkan pilihan pada warga. Belakangan atas penelitian yang dilakukan ahli pertanian memang kondisi tanah kurang baik untuk bertanam karet.

“Pada awal program, warga bermusyawarah dengan melibatkan tokoh termasuk mendatangkan pihak perusahaan. Rupanya akasia memang paling tepat. Waktu panen lebih cepat yakni lima tahun dan kita dibimbing PT RAPP yang pastinya sudah sangat berpengalaman di bidang akasia ini,” lanjutnya.

Kegembiraan warga bertambah ketika perusahaan memberikan bantuan seolah dari beragam lini. Disepakati, warga bisa mulai memetik keuntungan dari hasil tanaman akasia bahkan di tahun pertama. Jadi tidak menunggu lima tahun. Pada 2016 sebanyak 30 persen keuntungan sudah bisa diterima dan tahun berikut akan diserahkan ke masyarakat melalui desa.

Community Development Officer (CDO) RAPP di Estate Pulau Padang, Yandi Masnur menyampaikan, Program Kehidupan itu bukan semata mencari keuntungan, namun lebih banyak ditujukan sebagai upaya membuka peluang usaha dan kesempatan kerja bagi masyarakat setempat.

Ia menyebutkan program itu bentuk kepedulian ril perusahaan kepada warga. Tanaman kehidupan yang dibangun perusahaan di Pulau Padang mencapai seribu hektare lebih dan nantinya akan dikelola sebuah lembaga atau Koperasi. Usai enam tahun maka seluruh kebun akan diserahkan kepada warga melalui desa.

Disebutkannya, program itu bersumber dari kepedulian perusahaan dan didukung pemerintah setempat. Sebelumnya penanaman pertama ‘tanaman kehidupan’ dilakukan Bupati Kepulauan Meranti, Irwan Nasir. (*)