Konsumsi Obat Pengecer Darah Setiap Hari Bisa Picu Stroke

Ilustrasi (net)
Ilustrasi (net)

PASIEN kelainan irama jantung atau atrial fibrillation pasti mengonsumsi obat pengencer darah agar fungsi jantungnya tetap normal. Tapi dalam jangka panjang, obat tersebut bisa menimbulkan banyak dampak buruk.

Saat terjadi gangguan irama jantung pasien akan sangat tidak nyaman dengan kondisi jantungnya. Apalagi di saat melakukan aktivitas yang berat, membuat kinerja jantung berpengaruh.

Bila seseorang mengalami penyakit ini, gumpalan darah di sekitar pembuluh darah terjebak. Kondisi ini sangat sulit kembali normal jika tak dilakukan tindakan intervensi.

Tapi oleh sebagian dokter malah disarankan untuk minum obat pengencer darah. Secara tak langsung, obat ini dapat membahayakan pasien.

“Obat pengencer yang diberikan pada orang yang sudah serangan jantung atau yang pasang ring. Tujuannya supaya tidak timbul kembali atau dirawat kembali,” kata Spesialis Jantung Pembuluh Darah, dr Achmad Sunarya Soerianata SpJP di Jakarta, Sabtu (14/10).

Adapun obat pengencer darah ini sifatnya melawan vitamin K, sehingga vitamin tersebut tak diserap tubuh dengan baik. Pasien pun akan mengalami denyut jantung tak normal.

Bahkan, dalam jangka panjang penggunaan obat ini dapat memicu penyumbatan pembuluh darah di sekitar otak. Pasien bukannya malah sembuh, tapi justru kena serangan stroke.

Maka itu, pasien tidak disarankan minum obat pengencer seumur hidupnya. Dokter pun harus mempertimbangkan dampak ini supaya tak membahayakan pasien.

“Pas minum obat pengencer darah, jantungnya bukan bulat. Dia ada satu tempat yang bentuknya seperti telinga. Sebabkan denyut jantung tidak teratur,” imbuh dr Achmad dikutip dari okezone.

Untuk itu, pasien gangguan irama jantung bisa melakukan pencegahan dengan intervensi minim risiko. Ada satu terapi untuk mengatasi kelainan irama jantung.

Namanya yakni metode Left Atrial Appendage Closure (LAAC) atau implan untuk pencencer darah. Metode ini sangat aman dilakukan oleh pasien yang menderita kelainan jantung dalam waktu yang lama.

Tindakan LAAC juga dapat menormalkan katup jantung yang sudah bocor. Pasien pun tak harus membutuhkan waktu lama agar kondisinya normal kembali.

“Kalau pasien menjalani LAAC tidak usah minum obat pengencer darah. Kondisi jantungnya sudah normal dan nyaman beraktivitas,” paparnya.

Adapun faktor risiko dari penyakit gangguan kelainan irama jantung yakni karena usia, riwayat keluarga, hingga kebiasaan merokok dan makan junk food terlalu sering.

Penyakit ini bisa diderita oleh orang-orang bertahun-tahun lamanya bila tak mencegah faktor risikonya. Karena itu, sebelum melakukan tindakan intervensi dari segala-galanya, lebih baik hindari faktor risiko penyakit jantung.

“Aktivitas fisik, tidak merokok, rajin olahraga, sampai menjaga pola makan dengan baik menjadi pilihan cara untuk mencegah kelainan jantung, terutama di usia produktif. (aci)

agregasi okezone1