Kronologi Tewasnya Taruna Akpol Akibat Dianiaya Senior

Ilustrasi (net)
Ilustrasi (net)

SEMARANG – Penganiyaan yang berujung maut pada taruna Akademi Kepolisian (Akpol) bernama Brigdatar Mohammad Adam, diduga dilakukan oleh beberapa senior. Korban merupakan satuan 6, pengiriman dari Polda Maluku, mengikuti Himpunan Indonesia Timur yakni Papua, Maluku, NTT.

Kejadian nahas itu bermula pada Rabu 17 Mei 2017 sekira pukul 21.00 WIB. Saat itu, Taruna Tingkat II maupun Tingkat III melaksanakan apel malam. Untuk Taruna Tingkat III apel hingga pukul 22.30 WIB kemudian diberikan waktu cafe hingga pukul 23.00 WIB.

Sementara untuk Taruna Tingkat II apel hingga pukul 22.45 WIB kemudian diberikan waktu cafe hingga pukul 23.00 WIB. Selanjutnya para Taruna kembali ke flat masing-masing.

Dikutip dari okezone, pada pukul 00.30 WIB, Taruna Tingkat II yang tergabung dalam korps HIT (Himpunan Indonesia Timur) berjumlah 22 orang di antaranya adalah Brigdatar Mohammad Adam, menghadap Taruna Tingkat III korps HIT (Himpunan Indonesia Timur) ke flat Taruna Tingkat III (melalui jalur bukit belakang flat) dengan alasan adanya kesalahan yang dilakukan Taruna Tingkat I Kor HIT.

Setelah tiba di flat, Brigdatar Kasim Lating selaku Dansuk Korhit Taruna Tingkat II menghadap Dansuk Korhit Taruns Tingkat III Brigtutar Rinox Watimena.

Lalu seluruh Taruna Tingkat II diperintahkan untuk memanggil seluruh Taruna Tingkat III Korhit di kamarnya, untuk berkumpul di gudang flat A atas Taruna Tingkat III.Korban bersama Brigdatar Swafauzan menghadap Brigtutar Kristian Sermomes untuk membangunkan dan mengajak kumpul di flat A atas.

Kemudian pada pukul 01.00 WIB seluruh Taruna Tingkat II sejumlah 22 orang dan Taruna Tingkat III sebanyak 12 orang berkumpul di gudang flat A atas Taruna Tingkat III. Selanjutnya Taruna Tingkat III memerintahkan seluruh Taruna Tingkat II melaksanakan sikap taubat sambil diberikan arahan.

Tak berapa lama, pejabat korps Brigdatar Kasim Lating (Dansuk) dan Brigdatar R Chandra (Kasi Ops) dipisaakan untuk melakukan tobat roket (sikap standing dengan alas kepala dan kaki di atas). Kemudian Taruna Tingkat III melakukan pemukulan terhadap seluruh taruna Taruna Tingkat II, selanjutnya pada saat akhir kumpul korps tersebut, seluruh Taruna Tingkat II melaksanakan sikap mersing, dan Brigdatar Mohammad Adam ditarik oleh Brigtutar Kristian Sermoses.

Dalam posisi sikap mersing korban mendapatkan pukulan sebanyak kurang lebih 5-6 kali di ulu hati secara berturut-turut sambil disaksikan Taruna Tingkat III dan II. Setelah pukulan terakhir, korban semakin kesakitan hingga kejang-kejang.

Kemudian Taruna Tingkat III melakukan upaya untuk menyadarkan korban dengan cara membasahi mukanya dengan air. Dalam proses pemulihan tersebut korban dipindahkan dari TKP gudang ke kamar A 1.3 (kamar sebelah gudang) Taruna Tingkat III.

Kemudian pada Kamis dinihari pukul 02.20 WIB, AKP Agung Basyuni mendapat laporan dari Brigtutar Kristian Sermoses bahwa terdapat Taruna Tingkat II pingsan setelah menghadap dan diberikan tindakan oleh Taruna Tingkat III. Laporan tersebut diteruskan kepada AKP Citra Fatwa selaku Pawas Den Tingkat III.

AKP Citra lantas melakukan pengecekan, yang ternyata kondisi korban sudah tidak sadarkan diri. Pada pukul 02.25 WIB korban dibawa ke RS Akpol, namun kondisinya sudah agak kaku. Oleh dokter jaga, korban dinyatakan meninggal pada 02.45 WIB.

Dari pemeriksaan dokter, terdapat tanda-tanda kekerasan pada dada luka lebam di tempat yaitu dada tengah atas ukuran 8×3 sentimeter persegi, dada kiri ukuran 2×1 sentimeter persegi, dan dada kanan ukuran 2×1 sentimeter persegi.

Selain itu, dokter tidak menemukan luka-luka lain namun terdapat tanda mati lemas dilihat dari jaringan di bawah kuku tangan dan kaki berwarna kebiruan, bibir, dan selaput lendir mulut kebiruan.

Dugaan sementara kematian korban disebabkan kekurangan oksigen (asfiksia). Kemudian pada pukul 07.00 WIB jenazah tiba di RS Bhayangkara Semarang untuk proses autopsi sambil menunggu pihak keluarga korban. (aci)

agregasi okezone1