Membangun Kembali Kejayaan Pendidikan Agama

Bersejarah

DFA ini adalah salah satu institusi pendidikan Islam bersejarah di Indonesia. Termasuk salah satu dari Sumatera Thawalib yang sangat berpengaruh pada sejarah pergerakan awal revolusi Indone­sia (The Kaum Muda movement), yang kemudian menghasilkan tokoh-tokoh penting dalam sejarah pergerakan revolusi awal Indonesia.

Pengelolaan DFA ini diteruskan oleh anak sang perintis, Syekh Abdullah Datuk Jabok, masing-masing Syekh Mustafa Abdullah “Beliau Gadang” dan Syekh Abbas Abdullah “Beliau Ketek” (1883-1957), dimasa kedua kakak beradik ini reformasi-reformasi sistem pendidikan dan modernisasi pergerakan & pendidikan islam terjadi.

Pada masa keemasannya DFA dikenal sebagai satu-satunya ataupun pionir terdepan yang merintis pengajaran pengetahuan agama dan umum, yang menjadikannya magnet bagi pelajar-pelajar dari penjuru Sumatera, tanah air dan hingga semenanjung melayu (Pattani, Malaysia, Mindanao dan lainnya).

Pengorganisasian gerakan dakwah dimulai sekitar 1920 dengan nama Sumatera Thawalib dengan tokoh-tokohnya pelopor Syekh Abbas Abdullah, Syekh Mustafa Abdullah, HAKA (ayah Buya HAMKA), Syekh Muhammad Jamil Jambek, Syekh Ibrahim Musa Parabek dan sejumlah nama lain.

Perintisan pengembangan konsep Sains dan Islam oleh Syekh Abbas Abdullah dimulai pada 1928, (yang banyak dipengaruhi oleh Jama­luddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh), diperkenalkanlah ilmu matiq (matematika), geografi, sejarah, tata negara, biologi dan bahasa asing selain bahasa arab.

Pada 1931-1932 nama Sumatera Thawalib diganti menjadi Darul Funun el-Abbasiyah dan pada 1987 direvisi menjadi Yayasan Darul Funun  el-Abbasiyah. Kemudian membuka kembali kelas untuk tingkat pendidikan Madrasah Tsanawiyah pada 1997 dan Madrasah Aliyah pada 2002.