Membangun Masa Depan Kelautan Sumbar

Kepala BP2IP Surabaya, Marihot Simanjuntak saat menerima Bupati Ali Mukhni yang berkunjung ke Surabaya, menyebutkab awalnya memang bernama BP2IP. Namun karena tingginya peminat generasi muda untuk melanjutkan pendidikanya di Bp2IP dan beratnya tantangan ke depan yang akan dihadapi, akhirnya pemerintah pusat meningkatkan status BP2IP menjadi Politeknik Pelayaran Surabaya.”Saya yakin akan hal itu juga akan terjadi di Tiram,” jelas dia.

Marihot menginformasikan, BP2IP Tiram telah terdaftar pada Organisasi Pelayaran Dunia, yang tentunya akan mampu mengenalkan potensi Padang Pariaman ke dunia internasional. Saat ini, dunia butuh 84.000 pelaut. Namun yang baru terpenuhi baru 34.000 pelaut, sehingga masih terdapat kekurangan sebanyak 50.000 ribu pelaut untuk memenuhi permintaan kebutuhan pelayaran tersebut.

BP2IP di Padang Pariaman ini adalah BP2IP ketujuh di Indonesia dan yang ketiga di Sumatera. Di Sumatera sebelumnya telah dibangun BP2IP di Palembang dan Aceh. Sementara tiga lagi ada di Barombong, Sorong, Surabaya, Jayapura. Kenapa Sumbar dapat prioritas di tengah berpacunya provinsi lain untuk mendapatkannya, terutama provinsi yang memiliki wilayah laut.

“Pak Mulyadi adalah tokoh berperan besar dalam pembangunan BP2IP itu. Sebagai pimpinan Komisi V DPR, Pak Mulyadi punya kekuatan mendorong mitra kerjanya (Kementerian Perhubungan) untuk membangun BP2IP di Sumbar. Apalagi kesiapan pemerintah daerah ada pula. Pembebasan tanah tuntas, sehingga penggiringan pembangunan BP2IP lebih mudah,” kata Anggota DPRD Sumbar, Nofrizon.

Wakil Ketua DPRD Padang Pariaman, Yanuar Bakri juga membenarkan. Dia yakin benar, perjuangan Pak Mulyadi untuk menggiring pembangunan BP2IP ke tujuh di Indonesia, patut diacungkan jempol. Berjuang sepenuh hati untuk kemajuan negeri.

“Wajar jika ada orang yang menyebut, pak Mulyadi adalah tokoh representatif wakil rakyat yang sesungguhnya. Kepedulian kepada daerah dipujikan dan ditauladani,” ujar politisi Demokrat ini. (pepen)