Mengembalikan Fungsi Ninik Mamak Tangkal Radikalisme

Prosesi pelewakan 16 datuk di Supayang, Tanah Datar (musriadi)
Prosesi malewakan 16 datuk di Supayang, Tanah Datar. (musriadi)

PADANG – Penangkapan terduga teroris pada Desember 2016 di Kota Payakumbuh mengejutkan masyarakat Sumatera Barat. Terduga teroris JT alias HZ (39) notabene merupakan warga asli Payakumbuh yang mengontrak rumah di Kelurahan Balai Nan Duo, Kecamatan Payakumbuh Barat, Jalan Sukarno-Hatta Koto Nan Ampek, Payakumbuh.

Penangkapan itu membuka mata masyarakat Sumbar bahwa radikalisme dan terorisme bisa mengancam siapa saja. Termasuk masyarakat Sumbar yang kental dengan nilai adat dan agama serta menganut filosofi ‘Adat Basandi Syarak Syarak Basandi Kitabullah’. Dalam tataran normatif, tak mungkin paham radikalisme dan terorisme tumbuh di Ranah Minang ini. Tapi, itu yang terjadi.

Bahkan, dari data yang disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT), Komisaris Jenderal Polisi (Komjen Pol) Suhardi Alius dalam sebuah acara di Kota Padang, 7 Agustus 2017 lalu mengatakan, secara kuantitatif , sudah ada belasan warga Sumbar yang ditangkap dari 1.200 terduga teroris yang ditangkap BNPT. Namun, mereka beraksi di luar Sumbar.

Meski sudah belasan ditangkap, tapi menurutnya, itu belum terlalu menonjol. Ia menyakini hal itu berkat kultur masyarakat Sumbar yang menjunjung tinggi adat. Lagipula, tak satupun kabupaten/kota di Indonesia yang bebas dari ancaman terorisme.

Salah seorang tokoh masyarakat, niniak mamak Suku Sikumbang di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Tomy Syamsuar Dt Tambijo kepada Singgalang mengatakan, nilai-nilai dan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Sumbar jika dilaksanakan sepenuhnya akan bisa menangkal paham menyimpang serta penyakit masyarakat. Seperti fungsi mamak terhadap kemenakan yang menjadi pengawas tingkah laku generasi muda.

Namun, yang menjadi dilema saat ini, ketika pengangkatan seoerang datuk oleh kaumnya, ia diangkat tapi lebih banyak menghabiskan waktu di rantau daripada di kampung. Cukup banyak datuk yang jarang sekali pulang kampung. Dicari susah. Ditemui payah.

“Bagaimana datuk seperti itu bisa mengasuh dan membimbing anak kemenakan di kampung?” katanya mempertanyakan.

Ia sendiri pun berada di rantau, di kabupaten berbeda masih di Sumbar. Namun ia tetap sering pulang kampung. Selain itu, ia juga memanfaatkan media sosial untuk bersilaturrahmi atau yang ia istilahkan ‘manggubaloan’ (menggembalakan, red) anak dan kemenakan. Misalnya, ia membuat grup khusus anak kemenakan di facebook dan whatsapp. Di dalam grup itu, ia memasukkan seluruh anggota keluarga sampai kaum. Dari situ, ia bisa memantau kegiatan atau keseharian anak dan kemenakan. “Jika jarang muncul di grup, akan ditanyakan. Kemana dia, kok tidak ada?” katanya.

Dt Tambijo sendiri punya kemenakan yang tinggal di Medan dan Jakarta. Tapi, pergaulannya tetap bisa dipantau. “Tidak ada yang tidak selesai jika ada keinginan,” tambahnya.

Ditekankan, pendidikan di keluarga inti dan kekerabatan di pasukuan penting diperhatikan. Anak memang dibesarkan oleh orangtuanya. Tapi, ninik mamak harus tetap berperan dalam pendidikan dan pengawasan terhadap kemenakan. “Jika itu dilakukan, maka tidak ada tempat bagi radikalisme dan terorisme di Ranah Minang ini,” katanya.

Sudah seharusnya nilai-nilai kearifan lokal di Minangkabau itu dihidupkan kembali. Selain mengembalikan fungsi mamak terhadap kemenakan ataupun fungsi datuk terhadap kaumnya, gerakan kembali ke surau juga harus digiatkan kembali. Zaman dulu, surau tidak hanya tempat mengaji, tapi juga tempat diajarkan mengaji, menulis kaligrafi, silat, mendengarkan tambo dan cerita-cerita rakyat, dan lainnya.

Sayangnya, kondisi saat ini, nilai dan kearifan lokal itu sudah banyak yang bergeser. Bahkan, kepedulian terhadap lingkungan pun sudah berkurang, terutama di perkotaan. Ernis (58) merasakan itu. Ia yang sering tinggal dengan anak-anaknya di salah satu perumahan cukup elit di kawasan Andalas, Kota Padang, merasakan betapa ‘jauh’nya tetangga yang seharusnya menjadi saudara terdekat.

“Bahkan, dengan tetangga sebelah rumah pun, sudah dua tahun anak-anak tinggal di sini, belum pernah berkomunikasi dengan istri pemilik rumah. Di lingkungan ini, kalau siang sepi, dan sore tak ada duduk-duduk berkumpul seperti di kampung,” ceritanya kepada Singgalang.

Hal yang sama dirasakan Nova (36) yang tinggal di kawasan Nanggalo, Padang. “Kalau tempat tinggal kami, lebih banyak ‘siapa lu siapa gue’ saja. Di satu sisi memang ada untungnya, orang tidak usil dengan urusan orang lain. Tapi, kadang-kadang, tidak enak juga dengan kondisi kurang bermasyarakat itu,” ujarnya.

Meski demikian, tak semua tempat, terutama perumahan, yang sudah mulai luntur kepedulian lingkungannya. Di kawasan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, misalnya, beberapa perumahan di sana aktif dengan kegiatan kemasyarakatan, seperti Majelis Taklim, Dasa Wisma, arisan bulanan, kegiatan-kegiatan peringatan hari besar Islam dan lain-lain. Sebagian, memperkuat hubungan bertetangga dengan membuat grup di media sosial whatsapp.

Ketua RT 02 RW 13 Kompleks Villa Anggrek, Kelurahan Balai Gadang, Arman S, mengatakan, tak seharusnya nilai-nilai kepedulian lingkungan atau bertetangga itu hilang. Karena bagaimanapun, setiap warga menjadi kontrol sosial bagi tetangganya masing-masing. Bukan bermaksud mencampuri urusan tetangga itu. Tapi, semisal ada orang yang berniat jahat terhadap rumah salah satu warga, maka tetangga terdekat lah yang pertama mengetahuinya. Apalagi pernah ada kejadian di perumahan yang tak jauh dari perumahan itu dimana sebuah rumah dibobol maling di siang hari. Tak hanya membawa satu dua barang saja, tapi semua barang yang ada di atas rumah itu layaknya pindah rumah.

“Kalau kepedulian lingkungan tinggi, mungkin itu tak kan terjadi. Karena, tentu butuh waktu lama untuk mengangkut barang-barang seiisi rumah ke atas mobil,” ujarnya.

Meski demikian, diakuinya, ada satu dua warga yang enggan berbaur dengan warga lainnya. Yang sering seperti itu adalah warga yang mengontrak rumah. Ada pula warga yang sudah beberapa lama tinggal, tapi tak kunjung menyerahkan kartu identitasnya pada RT.

“Yang menghadapi seperti ini agak susah juga,” keluhnya.

Di samping kesadaran ninik mamak untuk mengembalikan perannya seperti semula serta menumbuhkan kepedulian lingkungan, perlu juga intervensi dari pemerintah daerah agar nilai-nilai kearifan lokal itu kembali tumbuh. Apa yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Agam patut diapresiasi, yakni me-launching Gerakan Nagari Madani, Sabtu (30/9). Gerakan Nagari Madani yang dipimpin Bupati Agam, Indra Catri dan diikuti perwakilan berbagai unsur serta ribuan masyarakat itu mengikrarkan komitmen.

Di antaranya mengoptimalkan pendidikan informal terutama Alquran bagi masyarakat nagari,  meningkatkan peranan masjid, mushala dan surau sebagai sentra kehidupan sosial masyarakat nagari, melaksanakan perlindungan atas kampung dan masyarakat nagari dari penyakit masyarakat, menerapkan adat, seni budaya dan olah raga yang sesuai dengan filosofi ABS-SBK bagi masyarakat nagari serta meningkatkan kesalehan individu dan sosial masyarakat nagari. Tak kalah penting adalah meningkatkan rasa kepedulian sosial, ukhuwah Islamiyah, kekeluargaan, dan gotong royong masyarakat nagari serta meningkatkan peran serta lembaga dan organisasi masyarakat nagari.

Tak main-main, Bupati Agam telah membuat Peraturan Bupati Agam (Perbup) nomor 74 tahun 2016 yang mengatur hal itu. “Intinya menciptakan kehidupan masyarakat yang sejahtera dan agamais,” kata Sekretaris Daerah Kabupaten Agam, Martias Wanto.

Setiap daerah pastinya punya kearifan lokal sendiri, termasuk Sumbar. Yang paling mangkus adalah pertahanan dalam keluarga sendiri. Di Sumbar, selain pertahanan keluarga, pertahanan di dalam kaum pun harus diperkuat. Dengan pertahanan keluarga serta pertahanan kaum yang kuat ditambah kearifan lokal lainnya, apapun jenis penyakit masyarakatnya, termasuk paham radikalisme dan terorisme tentunya bisa diantisipasi. (Eriandi; Penulis adalah wartawan Harian Singgalang, Padang)