Menikmati Leiden dari Kanal

Suasana di kanal-kanal Leiden, Belanda (kj)
Suasana di kanal-kanal Leiden, Belanda (kj)

PANDANGLAH Belanda dari air bukan darat. Tips ini diberikan Suryadi, dosen Universitas Leiden kepada kami, Selasa (4/10). Maka, kami naik boat Rondvaart Leiden dengan membayar per orang 10 euro untuk pelayaran 45 menit.

Naik di Leiden Centrum, perahu bergerak menyusuri kanal, meliuk lembut, membuat kanal berombak. Masuk ke bawah jembatan yang sampai waktu habis, berikan penjelasan kepada kami betapa orang Belanda adalah orang air. Maka tak heran dia memberi tips pandanglah Belanda dari air.

Tapi saya tak bisa mengelakkan memandang Belanda dari Indonesia. Dengan kekayaan Indonesialah, kota-kota di Belanda dibangun. Saya bercanda bilang, Belanda adalah MKW, mamak kapalo waris.

Tapi sudahlah, masa lalu nan panjang yang gelap adalah sejarah pahit sepahit empedu. Sekarang saya di Belanda “menikmati” negeri itu. Menikmati kanal-kanal dan panoramanya. Tak jemu mata memandang.

Universitas Leiden
Universitas Leiden adalah mata air sejarah bagi Indonesia. Perguruan tinggi ini didirikan 1575 oleh Pangeran Willem van Oranje. Sampai sekarang, universitas ini terkenal sebagai universitas riset yang terkemuka di dunia. Saya sudah dua kali ke sini, namun masuk lebih jauh baru kemarin.

Suryadi membawa kami ke Fakultas Humaniora, menunjukkan ruang kerjanya juga ruang kerja Harry Poeze penulis sejarah Tan Malaka. Universitas ini sedang membangun museum untuk Asia. Universitas ini memang merupakan satu dari sekian lokasi penyimpanan dokumen tentang Indonesia yang tersimpan umumnya di ruangan bawah tanah.

Di luar kampus ini sepi-sepi saja, jika pun ramai hanya oleh sepeda bak halaman SMA di Padang yang penuh oleh motor. Tatkala kami masuk ke dalam ruangan, ternyata di dalam ada taman besar yang diatap transparan. Mahasiswa belajar atau ngobrol di sana. Ramai sekali. Belum lagi di ruang kuliah. Tiap pekan setidaknya ada lima ujian doktor.

Ada ratusan mahasiswa Indonesia di sini dengan tiga orang dosen berasal dari Indonesia, yang terlama tentu Suryadi yaitu 18 tahun. Saat ini di sana ada 5.500 dosen dengan 25.800 mahasiswa. Siapa mau belajar ke sini?

Volendam
Desa nelayan itu bernama Volendam. Lagi secangkir kopi di teras sebuah kafe tua dan disapu2 angin di bawah suhu 14 derajat, adalah sesuatu yang nikmat.
Tentu saja kami berfoto di sana setelah nuansa intelektual yang kami rasakan di Leiden.

Di studio foto yang kami pilih, rombongan kecil kami disapa dalam bahasa Indonesia yang fasih. Kenapa tidak, 70 persen pengunjungnya orang Indonesia dalam grup-grup wisata. Sehari Selasa lalu saja 7 grup yang masing-masingnya tak kurang dari 20 orang.

Berfoto dengan pakaian tradisional Belanda dan sandel kayu menjadi kenangan yang tak terlupakan. Juga tak terlupakan suasana indahnya desa itu, dam yang dibuat Belanda dan keteraturan.

Jalan yang mulus dan lurus sama lurusnya dengan kanal yang membentang di sebelah jalan menuju desa tersebut. Sebuah desa bak miniatur di arena pameran, benar-benar sempurna.

Maka sempurnalah perjalanan ke negeri orang tatkala mainan kunci diborong untuk oleh-oleh. Saya terutama, daripada tidak, atau diganti nasi bungkus sesampai di Padang.

Tapi yang terpenting ke raun-raun bukan hal utama bagi saya. Yang prioritas ke Leiden membuat komitmen dengan Suryadi untuk urusan sejarah. (khairul jasmi)