Menjemput Sejarah Semen Padang di Leiden

Dirut Semen Padang Benny Wendry, dosen Universitas Leiden Suryadi bersama rombongan dari Padang berbincang di sebuah kafe di Leiden
Dirut Semen Padang Benny Wendry, dosen Universitas Leiden Suryadi bersama rombongan dari Padang berbincang di sebuah kafe di Leiden

DARI kamar di lantai enam, Hotel Movenpick Amsterdam City saya memandang pelabuhan yang damai. Sebuah kapal pesiar sandar di sisi hotel. Selasa (4/10) pagi yang dingin, apalagi angin bertiup kencang.

Kanal di depan hotel berair jernih, di sisinya orang-orang belanda berjaket tebal mengayuh sepeda dengan kencang. Kereta api lewat tiap sebentar entah kemana. Kemarin kami sudah menikmati kanal-kanal di kota yang amat terkenal di Indonesia itu.

Sekarang, sepagi ini saya dan Dirut Semen Padang, Benny Wendry dan putranya, kemudian Basril Basyar, Desri Ayunda dan Asri Mukhtar hendak ke Leiden menemui doktor Suryadi. Kami diantar oleh Pak Jimmy Lontoh orang Indonesia di Belanda.

Setengah jam perjalanan dari Amsterdam ke Leiden. Kami masuk kota itu pada pagi yang manis. Janji bertemu dengan Suryadi di depan Museum Volkenkunde. Di sisi museum ini ada sebuah kanal. Di depannya kafe Van De4 Werff dengan tenda-tenda putih di halamannya. Kami duduk di sini.

Suryadi bercerita hari ini sampah agak banyak di Leiden karena malam tadi ada pesta perayaan 3 Oktober, Hari pembebasan Leiden dari Spanyol. Kota ini bebas pada 1574. Waktu itu Leiden dikepung tentara Spanyol. Setahun kemudian berdirilah Universitas Leiden. Di sinilah orang-orang hebat Indonesia belajar.

Suryadi jadi staf pengajar di Leiden sejak 18 tahun silam untuk bidang studi Bahasa dan Kebudayaan Indonesia. Dialah dosen Indonesia paling lama mengajar di sini. Dua lainnya sekitar lima tahun.

Semen Padang
Suryadi menceritakan dokumen sejarah Semen Padang lengkap di Belanda. Ada di Leiden, di balaikota Amsterdam dan di Den Haag serta di beberapa lokasi lainnya.

Dirut Semen Padang, Benny Wendry bersemangat mendengar cerita Suryadi. Perusahaan ini didirikan Belanda pada 1908 dan sekarang dirutnya hadir di Leiden hendak mengetahui lebih dalam sejarah perusahaan itu.

Menurut Suryadi, Semen Padang didirikan oleh empat orang dengan pusatnya di Amsterdam. Dokumen-dokumen awal Semen Padang disimpan di Balaikota Amsterdam. Rumitnya membongkar dokumen itu memerlukan waktu satu minggu hanya untuk melihat susunan kardus-kardusnya saja. Itu baru di satu tempat.

Catatan-catatan tentang Semen Padang itu memerlukan waktu yang panjang untuk mempelajarinya. Misalnya Jam Gadang yang dibangun 1926 apa dibangun dengan produksi Semen Padang dan berapa karung dihabiskan? Ini ada dokumennya di Belanda. Benarkah Jam Gadang dibangun dengan semen itu atau dengan cara lain.
Benny datang menjemput sejarah yang tidur amat panjang di gedung-gedung arsip Belanda.

Suryadi bisa mencari tumpukkan dokumen berharga itu. Cuma ia minta waktu yang lapang karena mencarinya sangat lama, dalam dan memerlukan keseriusan.
Jika semua dokumen didapat maka lengkaplah Semen Padang memiliki dokumennya. Sebuah penghargaan pada sejarah dan kekuatan ekonomi bangsa sendiri.

Secangkir Kopi
Duduk di kafe depan Museum Volkenkunde, seperti di teras rumah sendiri. Angin tak terlalu kencang, matahari tersenyum manyapa kami. Kopi terasa nikmat sekali ketika suhu udara 13 derajat. Semua pakai jaket. Suryadi memakai jas dengan rompi hangat serta sal yang melilit di leher. Dia mengayuh sepeda lima menit dari rumahnya.

Bersama kami dosen yang orang Pariaman ini memesan minuman hangar. Kami menikmati kopi dengan sekeping kue cokelat. Waktu di arloji saya menunjukkan pukul 17.00 WIB dan di sini baru pukul 12.00 siang.

Suryadi mengajak kami berjalan berlayar di kanal-kanal Leiden. Ah saya nikmati sejenak. (khairul jasmi)