Menonton Sandiwara di Kawai Lintau

Salah satu adegan dalam sandiwara Limpapeh Rumah Nan Gadang. (*)
Salah satu adegan dalam sandiwara Limpapeh Rumah Nan Gadang. (*)

LAYAR  terkembang sudah, suasana hening. Sandiwara di pentas itu segera dimulai. Apa itu  sandiwara? Drama yang dimainkan anak nagari di atas pentas berlayar yang ditarik ke kiri dan ke kanan, di desa-desa Sumatera Barat sehabis lebaran. Doeloe.

Kini juga masih ada di Jorong Kawai, Nagari Batu Bulek, Kecamatan Lintau Buo Utara, Tanah Datar. Meriah, semarak, ramai dan indah. Di zamannya pertunjukkan ini berlangsung tiga malam, dengan tiga sandiwara/drama. Masing-masingnya tiga atau empat babak.

Di Kawai, dramanya empat babak. Tak kurang tiga jam, pertunjukan sandiwara dipertontonkan untuk warga dan perantau yang pulang dalam momen Idul Fitri. Hujan tak menghalangi antusias. Jadilah sandiwara bertajuk LimpapehRumah Nan Gadang sukses menghipnotis ratusan penonton yang memadati SDN 17 Kawai, Selasa (27/ 6) malam.

Pemainnya bukanlah pekerja seni pada umumnya. Mereka kesehariannya biasa bertani, mengajar dan ada yang ibu rumah tangga. Kebanyakan tak pernah mendapat bekal ilmu seni. Pemain-pemainnya pun tak muda lagi. Mereka laki-laki dan perempuan berusia 50 – 60 an.

Mirip opera di Eropa, para pemain berdialog dengan kata-kata yang dinyanyikan, tidak dituturkan. Karena itu, para pemain tidak hanya bisa berakting, tapi juga harus bisa bernyanyi.

Diiringi dengan iringan musik gitar sederhana dan dilatari desain panggung berlatar sebuah kampung di bawah Gunung Marapi.

Tidak ada kecanggungan di atas pentas. Dialog mengalir meski hanya beberapa hari latihan. Beberapa perantau pun berdecak kagum. “Mantap, harus tetap dilestarikan,” ujar Deslim, seorang perantau.

Sandiwara ‘Limpapeh Rumah Nan Gadang’ berkisah tentang konflik antara pemuda, hubungan mamak dan kemenakan, percintaan dan tradisitradisi masyarakat Minang di zaman dahulu. Pada adegan awal, beberapa perempuan Minang sambil berdendang pergi ke tapian tempat mandi sambil membawa ‘parian’ (wadah dari bambu yang dijadikan pengangkut dan penyimpan air pada zaman dulu).

Dilanjutkan dengan adegan kebiasaan pemuda-pemuda zaman dulu seperti main layang-layang, maikek burung, sabung ayam dan lainnya. Tokoh utama bernama Intan Sari (dewasa) diperankan Yusnita, seorang ibu rumah tangga. Sementara, tokoh utama laki-laki bernama Bujang Pinang Ameh diperankan oleh Masrizal, yang sehari-hari bertani.

Pada akhir cerita, Intan Sari yang sempat ‘direbut’ pemuda lain bernama Bujang Salangik dapat kembali bersatu dengan dan Bujang Pinang Ameh bersamaan dengan Gunung Marapi meletus.

Menurut salah seorang warga, Efri Jonedi, sandiwara Limpapeh Rumah Nan Gadang seperti sudah mendarahdaging bagi warga Jorong Kawai. Karena, pada 1970-an dan 1980-an, sandiwara tersebut sudah sering dipentaskan.

Karena itu, dialog-dialognya pun sudah banyak hafal oleh warga di kampung itu.

Naskah drama pertama kali diperkenalkan oleh Muslim (alm), mantan dosen ASKI Padang Panjang (sekarang ISI, red) sekitar 1970-an. Sejak diperkenalkan itu, sandiwara tersebut sering dipentaskan tiap kali liburan sekolah.

Biasanya, sandiwara rakyat tersebut diselingi dengan acara lain, seperti penampilan nyanyi/musik, tari serta lelang kue untuk menggalang dana.

Seorang tokoh pemuda setempat, Ilham Yuliandi, menyatakan, sandiwara rakyat Limpapeh Rumah Nan Gadang ditampilkan masyarakat Jorong Kawai untuk memeriahkan Lebaran di mana banyak perantau yang pulang.

Selain untuk menghidupkan kesenian rakyat, kegiatan yang dirangkai dengan halal bihalal pada siang harinya, juga dalam bingkai menjalin silaturrahmi dan semangat persatuan warga di jorong tersebut.

Dikatakan, sekitar 1970-an dan 80-an, jorong tersebut sering mendapat penghargaan. Bahkan, pada 1979, Kawai menjadi salah satu tempat pertukaran pemuda pelajar di mana salah satu pesertanya saat itu adalah anggota DPD saat ini, Hj.Emma Yohana.

“Ini sebagai salah satu upaya pemuda bersama masyarakat untuk membangkitkan kembali‘batang tarandam’,” ujarnya.

Sebagai salah satu bentuk keseriusan membangun kampung, sejak akhir 2016, diprakarsai sejumlah pemuda, masyarakat di kampung dan di rantau membentuk sebuah gerakan bernama Gebu Kawai. Mengadopsi gagasan Gebu Minang yang telah berjalan, mereka menyisihkan dana minimal seribu rupiah sehari untuk program-program agama, pendidikan, ekonomi, dan lainnya untuk kemajuan kampung.

Gerakan pemuda itupun mendapat dukungan niniak mamak dan tokoh masyarakat setempat. Seperti diungkapkan Iskandar AP Bandaro, Usman Dt. Indo Marajo dan Syafriwal.

“Mudah-mudahan ini bisa menyatukan dan membuat kampung kita lebih maju,” ujar mereka.(melda riani)