Mereka Peduli, Mereka Pintar

Iman tahu secara keseluruhan di Indonesia ada 60juta anak-anak dan remaja yang masih bersekolah. “Dari sini kami sadar bahwa ada pasar yang luas dan belum terjamah untuk digali,” jelasnya.

Lebih lanjut dijelaskannya, muncul gagasan membangun marketplace bagi guru privat. “Nantinya, market place ini akan menjembatani pencarian antara siswa dan guru privat, membuat prosesnya menjadi lebih transparan dengan cara pemberian rating dan review,dan mempermudah prosedur pembayaran,” ucap Iman, si anak spesial yang sudah mulai menulis blog sejak masih duduk di bangku SD.

Pada usia 10 tahun, ia meluncurkan organisasi nirlaba pertamanya (mengajar teman sebaya tanpa memungut biaya).Saat ia menapaki jenjang SMP, ia mulai menjalankan bisnis online pertamanya. Tahun-tahunnya selamaberseragam sekolah dan kuliah, Iman lewati dengan gelimang pencapaian dan penghargaan atas kepemimpinannya dalam gerakan kepemudaan serta kesuksesan akademisnya.

Ia melanjutkan program pascasarjana di Columbia University dengan beasiswa penuh. Jangan berpikir kalau anak seperti Iman dibesarkan di lingkungan akademis yang berprestasi dan berorientasi global, justru sebaliknya. Iman tumbuh besar di Padang, Sumatera Barat. Jauh darihiruk-pikuk ibukota Indo-nesia, Jakarta.

Iman, putra bungsu dari enam bersaudara.Kedua orang tuanya takmengenyam pendidikan kuliah. Lingkungan dan didikan yang diperolehnya tergolong tradisional dan sederhana. Ada hal yang memantik diri Iman ketika ia masih berusia belia, ialah internet.

“Rasanya menggelikan,orang-orang selalu menduga bahwa saya terinspirasi oleh tokoh tertentu. Namun, sesungguhnya tidak demikian,”ucap penggemar Harry Pot-ter garis keras. Ia habiskan berjam-jam waktunya un-tuk berselancar di dunia maya. Chatting dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia di komunitas Harry Potter, dan memainkan game yang merupakan adaptasi dari novel-nya.

Kemudian, ia memaksa dirinya belajar Bahasa Inggris secara otodidak karena ia tak sabar menunggu buku terjemahan novel tersebut yang tak kunjung keluar. Berkat Harry Potter jugalah Iman menemukan passion untuk mengajar.

“Saya ingin orang lain memandang saya dan keluarga saya dengan cara yang berbeda. Saya ingin tunjukkan bahwa pendidikan merupakan kendaraan dalam meraih impian,” ucap Iman tertawa mengingat kembali bagai-mana tergila-gilanya ia pada Harry Potter. Namun ia tak menyangkal bahwa novel tersebut membawa pengaruh besar bagi dirinya. Persahabatan, keberanian, dan kemauan untuk belajar, itulah nilai-nilai yang ia serap selama ber-kelana di dunia fantasi. Kemampuan sosial dan akademisnya lah yang berhasilmenghadirkan nilai-nilaitersebut ke dunia nyata. (lenggogeni)