Naikkan Level Kreativitas

JS Khairen
JS Khairen

Oleh J.S. Khairen

Sehabis lebaran lalu, saya dan teman-teman mengunjungi kawasan Mandeh. Ada yang mengatakan Mandeh, adalah Raja Ampat dari barat. Ada pula yang bilang biasa saja. Mau seperti apapun, tak bisa dipungkiri kawasan ini, memiliki potensi pariwisata yang besar. Bisa menyedot wisawatan lokal maupun luar negeri. Ujung-ujungnya, dengan ramai orang datang, maka berputarlah uang di Sumatera Barat.

Namun sayang sekali kalau kawasan itu tak dikelola dengan cepat dan cara-cara yang lebih kreatif. Termasuk pemanfaatan sosial media. Namun akankah itu cuma angan-angan mengingat jalan By Pass yang merupakan salah satu akses ke sana, dari zaman saya masih bayi sampai sekarang tak selesai-selesai dilebarkan. Semoga janji Jokowi untuk membentangkan jalan ke sana segera terwujud.

Sebab begini, bisa saja banyak orang gencar di sosial media, tapi kalau aksesnya buruk, tetap saja sedikit yang datang. Pernah saya mendengar bisikan, Andrinof Chaniago tengah bergerak mencari investor, namun apa daya ia lengser duluan.

 

Lemahnya kesadaran digital

September kemarin, setelah mengisi seminar bedah novel saya di Universitas Andalas, saya menyempatkan berbincang dengan salah satu admin pengelola akun sosial media. Teman saya ini, pengelola akun yang mempromosikan segala sesuatu tentang Sumatera Barat. Awalnya, saya kira dia hanyalah staf yang dipekerjakan oleh pemerintah daerah atau Kementerian Pariwisata.

Saya kaget ternyata akun ini tak ada sangkut pautnya dengan pemerintah. Mereka semua terdiri dari anak muda yang bekerja dalam tim kecil. Uang untuk operasional mereka dapatkan dari iklan dan promosi acara. Sekarang, mereka sudah bisa hidup dari mengelola akun ini.

Saat saya tanya kenapa tak ada kerja sama dengan pemerintah, miris hati saya mendengar,”bahkan kami sudah kasih gratis untuk pemerintah Sumatera Barat, mempromosikan apa saja termasuk pari­wisata, mereka tidak mau.”

Setelah kami diskusikan lebih lanjut, ternyata penyebab ini semua adalah budaya birokratis dan keengganan untuk menambah pekerjaan dari para pejabat. “Mereka yang sudah nyaman di dalam pemerinta­han tak punya kesadaran digital,” kata teman saya itu. Padahal sekarang, apa-apa serba sosial media. Lihat Bandung bisa maju dengan pesat akhir-akhir ini karena walikotanya adalah anak sosial media. “Pejabat-pejabat kita itu malas, takuik pitih kalua, “ tambah teman saya.

Saat semua orang menggunakan internet, Sumatera Barat terlena. Anak mudanya aktif tapi tidak dengan pemerintahnya. Kalau berla­gak, “Oh tidak akan terjadi apa-apa,” maka Anda sangat salah. Sebagai contohnya, Matahari Mall yang dulu kita kenal punya gedung besar di tiap kota, sekarang sudah pindah ke penjualan online. Di mana-mana orang sekarang belanja dan berpromosi lewat smartphone. Saya menantang semua calon walikota, bupati dan gubernur di Sumatera Barat aktif dengan sosial medianya. Tapi, jangan pakai cara kreatif yang sekadar melepas syarat saja, tapi berikanlah kami sesuatu yang lebih.

 

Kota Batu

Sebuah kota kecil di Jawa Timur bernama Batu, telah berhasil bertransformasi menjadi kota wisata. Usianya saja baru 14 tahun. Sejak dilepaskan dari Kabupaten Malang, Batu  gencar melakukan pembangunan dan promosi yang kreatif.

Sebut saja Jatim Park I dan II yang apabila kita ke sana sudah serasa di Eropa. Belum lagi Museum Angkut yang jika dari namanya terdengar kurang asyik, tapi cobalah ke sana, Anda pasti ingin kembali lagi. Konsep kreatif yang mereka terapkan sungguh luar biasa. Kita bisa mengelilingi dunia beserta semua alat transpor­tasi dan sejarahnya hanya dengan membayar Rp80.000. Museum kita? Apakah sudah bisa jadi tempat wisata yang unik dan bikin candu?

Saat ulang tahun kota Batu ini, saya berkunjung ke sana. Waliko­tanya muda, energik dan gerak cepat. Seharian acara ulang tahun itu tak rasanya selesai. Dari pagi sampai malam. Pagi, anak sekolah mengelilingi kota dengan arak-arakan marching band, semua lomba diadakan. Sore hingga malam artis-artis nasional didatang­kan. Panggung dan bazar ramai dan itu tidak hanya di satu titik Alun-Alun, tapi sepanjang jalanan kota. Mereka benar-benar bangga menjadi warga Kota Batu. Semua tumpah ruah ke jalanan. Pengantin baru, penjual gorengan, polisi, semua unsur berbahagia. Bisakah Anda bayangkan, betapa hebohnya dunia digital dengan hal ini?

 

Zaman Pelayanan

Kemarin saya dikabari oleh seorang teman yang melakukan perjala­nan sendirian ke Sumatera Barat. Katanya “tidak bisa ke Kawasan Mandeh karena dibatalkan oleh biro perjalanan.” Penyebabnya ada dua, pertama kabut asap. Kedua, karena sedikit yang menggunakan jasa biro ini sehingga tak memenuhi kuota. Jadi dari pada rugi, mending dibatalkan saja.

Untuk alasan pertama, saya tidak terlalu paham. Rasa-rasanya tidak masuk akal menghubungkan kabut asap dengan naik kapal satu jam ke Kawasan Mandeh. Lagi pula, ke sana tidak pakai pesawat tapi pakai kapal. Kalau teman saja dari Jakarta saja yang naik pesawat bisa mendarat dengan aman di Padang, lantas kenapa kapal tidak aman? Tak tahulah.

Kedua soal tak terpenuhinya kuota. Kita tentu tak bisa meletakkan kesalahan sepenuhnya pada pemilik biro itu. Kalau tak cukup kuota tentu ia akan rugi. Namun gerakannya memang terbatas untuk men­cari wisatawan, ia mendapatkan promosi hanya dari mulut ke mulut. Beberapa biro cukup beruntung karena ada orang baik yang mencan­tumkan nomor kontak mereka di internet. Di Instagram dan Kaskus kita bisa lihat, anak-anak muda kreatif yang gencar melakukan promosi terhadap biro yang mereka kelola. Tapi sekali lagi, masih parsial dan tak mendapat dukungan dari pemerintah.

Sekarang adalah zamannya pelayanan. Komentar satu orang begitu berarti bagi keberlanjutan bisnis dan usaha Anda. Jika kita memang memiliki pandangan Sumatera Barat ini memiliki potensi yang luar biasa, maka semua unsur yang selama ini terbiasa kaku, harus lebih fleksibel untuk melayani. Kalau pemerintah mengaku sudah melayani dengan baik, maka ke depannya harus lebih melayani lagi atau service 2.0. Sehingga dengan pelayanan yang lebih baik, akan tercipta efek word of mouth yang baik pula.

Meski dari tadi seakan saya menuntut pemerintah, justru sekarang saya ingin menyampaikan, jangan melulu tunggu pemerintah bertin­dak. Sudah terlalu banyak urusan mereka, termasuk menghancurkan budaya malas dan birokratis di beberapa sudut. Rakyat ini pin­tarnya mengeluh saja namun tidak memberi solusi dan aksi nyata. Lalu apa yang mesti kita lakukan?

Cobalah konkritkan apa yang terpikirkan. Dari hal kecil saja. Kalau berwisata misalnya, apabila bertemu bule, atau orang dari luar Sumatera Barat, jangan langsung dikerjain. Ramah adalah kunci untuk mereka kembali lagi ke tanah kita ini. Atau dengan tidak membuang sampah sembarangan.**

(penulis adalah novelis & chief creative officer di Rumah Peruba­han Rhenald Kasali. Bisa dilacak di twitter & tnstagram: @JS_Khairen)