Nuansa Ramadhan di Negeri Jiran

Masjid India

Di tempat lain, agak sekali di bulan Ramadhan ini mampirlah Shalat Magrib di Masjid Jamek, terletak di jantung Kuala Lumpur di sebatang jalan yang memang dikenali sebagai Jalan Masjid India. Kawasan ini terkenal di kalangan wisatawan Indonesia karena barang-barang yang dijual di sini cukup terjangkau dan bervariasi terutama kain-kain dan berbagai macam oleh-oleh. 
Suasana di daerah ini sangat kental bernuansa India, karena ini memang kawasan komunitas India muslim.

Menit-menit menjelang berbuka puasa masuklah ke lantai dasar masjid ini dan akan menemui ratusan orang India duduk berbaris (seperti makan bajamba di Minangkabau) sambil menunggu azan magrib dengan hidangan tersedia didepan masing-masing.

 

Setelah ambil wudhuk, ketika masuk ruangan, penulis celingak-celinguk kebingungan karena memang pertama kali juga masuk ke sini, tiba-tiba ada salah seorang menegur,

 

“Encik, sila ambil makanan di sana,” katanya sambil menunjuk sebuah sudut ruangan. Penulis pun menuju ke sana, antre menunggu gilir­an. Ada seseorang tukang ambil bubur, dapat bubur kemudian diberi air minum, lalu duduk bersila di tempat yang ada ruang di antara 
ratusan orang. Di depan sudah ada mie goreng, buah kurma, dan kue-kue.

Ketika azan berkumandang masing-masing berdoa, lalu menikmati 
hidangan. Bubur jagung khas India itu terasa segar di kerongkon­gan, nikmat sekali, kenyang karena porsinya memang lumayan ban­yak. Suasana terasa bersahabat, seseorang yang duduk di depan menawarkan mie goreng, terpaksa penulis ditolak karena memang sudah kenyang. Semua makanan ini disediakan manajemen masjid secara gratis sebagai sedekah kepada siapa saja orang Islam yang ingin berbuka.

Mohamad Haviz seorang pengunjung warga Melayu dari Negeri Tereng­ganu yang datang ke Kuala Lumpur untuk suatu keperluan mengaku juga baru pertama kali berbuka di situ, tadinya dia tidak tahu ada tempat itu. Haviz pun merasa senang.

“Alhamdulillah, bagi saya rezki untuk berbuka di masjid ini,” katanya.

Ada lagi Sulthoni, warga Indonesia asal Pulau Bawean, Madura. Katanya dia sering mampir, karena bekerja sebagai sopir mobil kanvas bawa barang-barang yang diantar ke beberapa toko di belakang masjid ini.

“Alhamdulillah, buburnya memang enak Mas,” katanya.

Setelah itu, kami pun naik ke lantai dua untuk Shalat Magrib bersama.

Tarawih Rabu sore (22/6) itu Kuala Lumpur diguyur hujan deras sekali. Dari Masjid India dalam cuaca dingin habis hujan penulis meluncur ke Masjid Asy-Syakirin untuk Taraweh. Terletak bersebelahan dengan Gedung Menara Kembar yang dikenali dengan Masjid KLCC.

Karena berdekatan dengan rumah, masjid ini memang tempat biasa penulis shalat. Masjid yang megah dan modern, didominasi masyara­kat Melayu. Di sini juga disediakan makanan untuk berbuka dan biasanya setelah Taweh pun masih banyak warga menikmati makanan. 
Ada mie rebus, mie goreng, bubur ayam, kue-kue Melayu dan bebera­pa jenis minuman.

Di Malaysia, memang sudah tradisi saat Ramadhan masjid-masjid menyediakan makanan untuk para musafir ketika berbuka puasa.