Nuansa Ramadhan di Negeri Jiran

Suasana sehabis tarawih di Masjid KLCC, Kuala Lumpur, Rabu (22/6.(dirwan ahmad darwis)
Suasana sehabis tarawih di Masjid KLCC, Kuala Lumpur, Rabu (22/6.(dirwan ahmad darwis)

Seperti di Arab

Ramadan kali ini penulis sempatkan diri shalat Jumat di Interna­tional Islamic University Malaysia (IIUM), sebuah kampus terkenal nan megah dengan jumlah mahasiswa sekitar 30.000 orang. Di samp­ing mahasiswa lokal, di IIUM ini paling banyak mahasiswa asing belajar kebanyakan dari Timur Tengah dan Afrika. Setiap Ramadhan kebanyakan mahasiswa lokal pulang, sehingga lingkungan didominasi pelajar asing, terasa sekali nuansa Arabnya.

Suasana shalat Jumat siang itu dalam masjid yang terletak di ten­gah kampus ini memang terasa seperti berada di negeri Arab, khutbah pun dalam bahasa Arab oleh khatib dari kalangan pelajar Arab dengan kostum pakaian Arab. Tidak heran karena bahasa pen­gantar resmi di Kampus ini adalah Inggris dan Arab.

Menurut Na­wridho Alfi Smartienez mahasiswa tahun dua jurusan Hubungan Internasional asal Agam, Sumbar, setiap waktu berbuka puasa Masjid IIUM juga menyediakan makanan tapi hanya makanan Melayu. Sedangkan kantin-kantin kampus yang biasanya ramai menyajikan 
berbagai macam makanan kebanyakan bulan puasa tutup karena seba­gian besar mahasiswa Melayu pulang, dan mahasiswa asing juga ada yang pulang.

“Shalat Tarawih seperti di Masjidil Haram, ayat yang dibaca pan­jang dan shalatnya 20 rakaat plus witir tiga rakaat, namun terasa khusuk dan tidak membosankan, karena pihak IIUM mengundang imam-imam dari luar dengan bacaan suara yang merdu menenangkan,” papar Nawridho.