Nuansa Ramadhan di Negeri Jiran

Surga makanan

Berubahnya peta demografi, menjadikan Malaysia semakin kokoh sebagai food paradise atau surga makanan. Negara dengan penduduk yang semakin multi-etnis dan multi-kultural ini menyajikan berba­gai macam rasa dan variasi makanan. Masakan Melayu, masakan Cina, 
India, Jepang, Vietnam dan masakan Barat/Eropa. Tapi di bulan suci ini resto-resto Arab terlihat sangat digemari.
Sangat mudah mencarinya, ada beberapa buah di pusat turis sekitar jalan Bukit Bintang, di Jalan Ampang dan juga di daerah Kampung Baru, semua terlihat penuh. Masakan Iran termasuk banyak pemi­natnya, termasuk penulis tentunya.

Pasar Ramadhan atau pasa pabukoan di kawasan Melayu Kampung Baru lebih meriah lagi, juga di Jalan Raja Alang/Chow Kit serta kawa­san Pasar Minggu. Kawasan-kawasan ini pada sore hari menjelang waktu berbuka akan penuh sesak oleh pengunjung, tak jarang para pemimpin negara pun juga sering menyempatkan diri datang ke sana, berbaur dengan rakyat badarai sambil membeli berbagai makanan. 
Karena kawasan ini daerah Melayu maka di bulan Ramadhan akan terlihat bermacam makanan Melayu dari yang modern hingga tradisi. Ada yang menarik, sebenarnya makanan dan masakan tradisi Melayu tidak jauh beda dengan masakan Minangkabau, tapi dari segi rasa sudah tentu ada perbedaan. Tapi kalau jenis kebanyakan kue-kue hampir tidak ada bedanya baik bentuk ataupun rasa, hanya saja Malaysia melalui Kementerian Kebudayaan tetap memelihara makanan tradisi sebagai khazanah produk budaya ciri khas Melayu supaya tidak hilang. Sumbar perlu mendata dan mempromosikan kembali makanan tradisi kita, ini penting sebagai bahagian dari jati diri.

Jadi, bagi Anda yang ingin dan rindu mencicipi makanan/masakan tradisi Melayu lama, maka bulan puasa adalah saat yang tepat mengunjungi Kuala Lumpur. Datanglah ke pasar-pasar pabukoan seperti kawasan Kampung Baru ini misalnya. Kampung Baru kawasan unik, yakni sebuah Kampung yang terletak di tengah pusat Kota Kuala Lumpur, hanya ratusan meter dari menara kembar KLCC. Di dunia ini, mungkin inilah satu-satunya kampung yang berada di tengah-tengah kota metropolis yang modern. (*)