Optimalisasi Energi Gas untuk Mencegah Ekonomi Biaya Tinggi

Oleh Hendri Nova, Wartawan Harian Singgalang
Cadangan gas bumi di Indonesia sangat mengembirakan dan bisa diandalkan di masa datang. Seperti dirilisbphmigas.go.id, cadangan gas Indonesia sebesar 188 TSCF, sementara penggunaan saat ini hanya sebesar 8,2 BCFD. Potensi yang dimiliki cukup untuk kebutuhan ekspor dan domestik selama 50 tahun.
Kepala Badan Pemasaran Hilir minyak dan gas (BPH MIgas), Tubagus Haryono menyatakan, gas bumi menghasilkan gas yang lebih bersih dari BBM dan batubara, hingga kedepan penggunaannya akan meningkat. Potensi gas yang dimiliki Indonesia akan terus dieksploitasi dalam memenuhi kebutuhan industri di dalam negeri dan pembangkit listrik.
Di abad ke-21 ini, kecendrungan pemakanan bahan bakar akan bergerak dari yang mengandung banyak atom karbon menuju bahan bakar yang mengandung sedikit atom karbon (Decarbonization).
Ia menyatakan, pemanfaatan gas bumi di Indonesia belum lagi optimal. Lebih dari 55% hasil gas bumi digunakan untuk keperluan ekspor.
Lokasi persediaan gas bumi di Indonesia ada di beberapa pulau seperti Sumatera, Kalimantan dan Irian terletak jauh dari lokasi potensial permintaan gas bumi yang kini berada di Jawa.
Peningkatan gas bumi di dalam negeri terhambat oleh minimnya infrastruktur berupa jaringan transmisi dan distribusi. Harga gas bumi tidak diatur sebagaimana harga BBM, kecuali harga gas bumi untuk rumah tangga dan pelanggan kecil.
Tubagus menyatakan, jual beli gas bumi biasanya dilakukan melalui kontrak jangka panjang. Dimasa datang produksi gas bumi di Indonesia akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan pasar didalam negeri.
Kecendrungan lainnya adalah gas bumi akan makin banyak untuk keperluan kendaraan berupa BBG, pembangkit listrik, bahan baku industri pertokimia dan pupuk serta indsutri rumah tangga.
Gas bumi disalurkan melalui pipa dalam bentuk gas alam cair begitu juga untuk keperluan ekspor. Pihaknya juga makin membuka kesempatan swasta untuk berpartisipasi dalam membangun infrastruktur jaringan gas bumi berupa lelang ruas transmisi dan wilayah distribusi.
Hemat Energi Total Bersama Gas
Besarnya potensi energi gas yang dimiliki Indonesia, seharusnya bisa menjadi solusi banyak masalah yang terjadi saat ini. Ekonomi biaya tinggi yang terjadi di setiap lini kehidupan, seharusnya bisa terselesaikan oleh adanya energi gas.
Tingginya biaya listrik karena bergantung pada BBM (Bahan Bakar Minyak) membuat ongkos produksi tinggi dan berakibat harga jual tinggi. Jika ditambah dengan tingginya harga BBM, maka akan menambah tinggi harga jual produk begitu ia sampai di tangan masyarakat sebagai target pasar.
Listrik biaya tinggi di sebagian daerah malah telah menjadi penghambat investasi. Apalagi dengan keadaan listrik yang sering mengalami pemadaman bergilir, telah membuat tingkat kenyamanan dan lingkungan usaha jadi tidak kondusif.
Maka dari itu, pembangunan infrastruktur gas di setiap lini kehidupan harus segera jadi prioritas utama. Pemerintah harus tegas dengan produsen kendaraan, agar di masa datang hanya mengeluarkan kendaraan dengan Bahan Bakar Gas (BBG).
Sementara kendaraan yang sudah kadung pakai BBM, harus dicarikan teknologi yang memungkinkannya segera beralih pula ke energi gas. Jika semua kendaraan sudah memakai gas, tentu BBM tidak akan lagi menjadi penyumbang keruwetan ekonomi.
Ekonomi Indonesia tidak lagi direpotkan dengan naik turunnya harga minyak dunia dan akan terus stabil sepanjang waktu. Industri akan hidup 24 jam seiring dengan lancarnya distribusi gas.
Maka dari itu, pembangunan pipa-pipa gas yang menjangkau industri dan rumah tangga harus dikebut. Semua rumah tangga hendaknya sudah terpasang instalasi gas, dengan tingkat keamanan tinggi.
Gas yang terpasang harus diusahakan gas pra bayar, sehingga negara tidak dirugikan dengan tungakan masyarakat yang lalai dalam membayar kewajiban.
Tentu saja dalam aspek keamanan dan kenyamanan juga harus dijaga. Jangan sampai kebocoran gas di satu tempat, bisa mengakibatkan kebakaran hebat di setiap daerah yang terjangkau layanan gas.
Sistem blokir canggih harus diterapkan, sehingga jika terjadi kebakaran akibat kebocoran gas di satu tempat, tidak memberikan efek ke tempat lain. Kebocoran juga lebih cepat ditangani sehingga tidak membuat masyarakat takut memakai gas.
Jika pemerintah tidak sanggup mengerjakan percepatan pembangunan pipa gas di seluruh Indonesia dalam waktu cepat, pihak swasta tentu bisa digandeng, agar target tercapai gemilang. Hasilnya nanti, tentu akan terjadi optimalisasi pemakaian gas di dalam kehidupan masyarakat.
Indonesia akan menjadi negara mandiri dalam pembangunan energi. Industri tumbuh subur, ekonomi masyarakat menggeliat dan otomatis kesejahteraan akan meningkat.
Inilah yang akan menjadi titik awal kegemilangan Indonesia di mata dunia, dengan adanya kemandirian di bidang energi. Indonesia akan jadi negara yang disegani dan diperhitungkan di kancah internasional. (*)