P A S A H A R A U

bayu

Oleh: Muhammad Bayu Vesky (Anggota Dewan Pasa Harau)

Untuk kali kedua, Pasa Harau Art & Culture Festival, sebuah pertunjukan peristiwa seni dan budaya Minangkabau, bakal kembali digelar di Lembah Harau, Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Apa itu Pasa Harau?

Dari sekian iven penting wisata dan budaya Tanah Air, Pasa Harau yang merupakan pendatang baru dan perdana kali digelar 2016, sudah masuk radar biro perjalanan mancanegara. Bahkan, sudah tercatat sebagai satu dari 31 festival yang direkomendasikan Kementrian Pariwisata lewat Festival Indonesia Festival (Fest in Fest) awal 2017.

Sejajar dengan Solo International Performing Arts, Dieng Festival, Lima Gunung Festival, Sandeq Rase Festival Bahari Mandar, Borobudur Writer, Art Jogja, serta beberapa iven lain. Jika tak datang, rugi. Sebab, ada banyak pertunjukan ditampilkan dalam perhelatan ini.

Malahan, manjek karambia (memanjat kelapa), budaya serabutan anak nagari yang menurut kita biasa-biasa saja, kini menjadi penyumbang dolar bagi masyarakat lokal. Turis-turis yang tiba dari benua berbeda, girang melihat aksi yang terasa ‘istimewa’ ini.

Hebatnya, agar bisa menonton masyarakat lokal memanjat kelapa, turis terlebih dahulu sudah merogoh dolarnya. Selain itu, juga ada pertunjukan silek lanyah. Seni bersilat di dalam sawah tersebut, diiringi dengan lengkingan talempong pacik, gandang dan bansi.

Berbeda dari tahun lalu, Pasa Harau ke-II yang digelar pada 25-27 Agustus mendatang, justru menampilkan lebih banyak peristiwa budaya. Jumlahnya, kata Ijot Goblin dan Yusra Maiza, senior saya sesama anggota Dewan Pasa Harau, mencapai 20-an peristiwa budaya. Jumlah pengunjung ditaksir menembus 4.000 orang lebih.

Mulai dari pacu jawi, pacu itiak, randai, bermain layang-layang, bertanam padi, menyiang, berkebun, berburu babi, budaya makan bajamba, bahkan ada pula ritual minum kawa daun di sayak tempurung.

Untuk minum kawa ini, panitia Pasa Harau Art and Culture Festival bersama Pemkab Limapuluh Kota, berencana akan menembus rekor MURI. Sebanyak 1.001 orang meminum kawa daun di sepanjang jalan.

Menariknya, bagi wisatawan lokal dan mancanegara yang datang ke Limapuluh Kota untuk mengikuti Pasa Harau Art and Culture Festival, diarahkan menginap di rumah-rumah penduduk. Soal kebersihan rumah dan kamar mandinya, jangan diragukan.

Nah, paket menginap di rumah penduduk inilah, yang dibayar oleh wisatawan lokal dan mancanegara. Patennya, makanan sehari-hari yang dimakan penduduk, itu pula yang dimakan turis.
Dampak ekonominya terasa mengena.

Perhelatan Pasa Harau juga memantik kepedulian pegiat budaya dan tokoh masyarakat setempat, Ca’un, untuk mendirikan Bintang Harau, sebuah ruang belajar non formal bagi anak-anak setempat. Orang-orang yang berselimutkan kabut dan embun. Ini ditulis juga oleh penyair Iyut Fitra, didalam buku puisinya “Lelaki dan Tangkai Sapu”.

Pasa Harau sendiri, merupakan perpaduan konsep perhelatan budaya yang biasanya digelar oleh Budi Hermanto, Kusen, Dede Pramayoza dan kawan-kawannya di Dieng Festival, Ubud Festival, Borobudur Witers serta dalam waktu dekat Natuna Festival.

Para punggawa Pasa Harau, merupakan orang-orang pilihan penggerak wisata yang biasa “dipakai” oleh para tokoh sekelas Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Menariknya, ivent ini juga disupport beberapa pegiat Solo International Performing Arts (SIPA), festival yang membumikan budaya Solo sewaktu dipimpin Presiden RI saat ini, Joko Widodo.

Menuju dunia
Berpulang mujur bagi Pemkab, Pasa Harau ini menjadi pintu masuk mewujudkan Harau Menuju Dunia, program pariwisata sejak 2016, yang justru tidak tercatat di dalam destinasi pengembangan wisata Nasional.

Lantaran itu pula, usaha tidak boleh dihentikan. Bupati Limapuluh Kota Irfendi Arbi, tetap merancang pembenahan infrastruktur ke Harau. Belakangan, Kadis PU Yunire Yunirman juga sudah turun ke lapangan. Survai lahan.

Bertumpu harapan kepada Pemkab, segera mengevaluasi kinerja Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga yang terkesan mati langkah mewujudkan Harau Menuju Dunia. Salam, Pasa Harau. (*)