Pasca Tragedi Berdarah, Trauma Healing untuk Anak-anak Pilubang

Ilustrasi. (*)
Ilustrasi. (*)

SARILAMAK – Puluhan anak-anak dan perempuan di Pilubang, Harau, Limapuluh Kota, masih ingat betul, jika Minggu (10/9) lalu, darah berserak di perbukitan Air Suci, batas Pilubang-Taram. Seorang tewas dalam tragedi itu, dua lainnya luka parah.

“Anak-anak kami, sampai sekarang masih ketakutan,” kata Ina (44), ibu dua anak yang saat kejadian, ikut bersama ratusan anak keponakan 13 kaum adat asal Pilubang, bergotong royong membersihkan perbukitan yang mereka klaim sebagai lahannya.

Kawasan Air Suci, sejak 2015 lalu memang mulai memanas. Menyusul, dengan dikelolanya areal tersebut, oleh anak nagari dan masyarakat adat kampung tetangga, asal Taram, Kecamatan Harau. Diduga dimotori oknum anggota DPRD Tedi Sutendi.

Saking memanasnya, 11 orang niniak mamak asal Pilubang, yang mengklaim lahan itu kepunyaan mereka, melaporkan Tedi Sutendi ke Mapolres 50 Kota pada 2016. Lantaran masuk ranah pidana, laporan ini akhirnya sempat dimediasi oleh Muspida dan Muspika Harau. Buntu.

Setelah 10 kali dimediasi, namun tidak menemui titik terang, belakangan perkara tanah tersebut, diminta diputuskan di Pengadilan. Celakanya menurut Camat Harau Deki Yusman, persoalan itu juga gagal, lantaran kedua pihak diduga tidak punya bukti sah atas kepemilikan lahan.

Pemerintah Nagari Taram dan Pilubang membantah, jika kekisruhan yang berujung maut kemarin, merupakan perang nagari.

“Tidak benar, yang ada, hanya persoalan sejumlah kelompok anak keponakan kaum di Taram dengan Pilubang,” kata para Walinagari, terpisah.

Psikolog Verawati menilai, peristiwa Pilubang Berdarah, diyakini akan memukul mental anak-anak dan perempuan yang melihat kejadian tersebut dengan mata telanjangnya. Apalagi, konten video saat kejadian, beredar luas dan viral di dunia maya.

Mengantisipasi terjadinya rasa trauma yang berkelanjutan, Kepolisian Resor 50 Kota dan Pemerintah Kabupaten melalui Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana dan Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), bakal melakukan trauma healing.

“Nantinya, Satgas Melawan Kekerasan (Satgas Mekar) yang beranggotakan polwan, bekerjasama dengan psikolog dari Pemkab, akan mengidentifikasi anak-anak yang ada saat kejadian,” kata Kepala Kepolisian Resor 50 Kota, Ajun Komisaris Besar Haris Hadis, tadi malam.

Dari identifikasi itu, kata Haris, akan diketaui anak maupun perempuan yang mengalami trauma agak berat, cemas, sangat sedih, kecewa maupun marah. “Nanti, Satgas Mekar bekerjasama dengan P2TP2A Pemkab, serta pihak terkait,” sambung Haris.

Satgas Mekar yang beberapa waktu lalu keberadaannya diapresiasi Menteri PP-PA RI Profesor Yohana Yambise, lantaran dinilai pro terhadap isu-isu anak dan perempuan serta penanganan kasus kejahatan anak serta perempuan, dipastikan akan hadir di Pilubang.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana dan Perlindungan Perempuan dan Anak (DPPKB-PPA) Yenni Elvi juga memastikan, akan menurunkan beberapa orang psikolognya. “Kami akan koordinasi dengan Kepolisian, dalam hal ini serta Pemnag,” kata Yenni Elvi.

Dia berujar, penanganan terhadap kasus anak dan perempuan baik menjadi korban kejahatan maupun yang menyaksikan sebuah tragedi, harus serius dilakukan. “Apalagi, Limapuluh Kota ini Kabupaten Layak Anak. Hak-hak anak dan perempuan harus kita penuhi,” jelas Yenni Elvi. (bayu)