Toko Taki
Menu Click to open Menus
Home » Opini » Pendekatan Scientific

Pendekatan Scientific

(47 Views) July 12, 2013 7:30 am | Published by | No comment

Feri Fren (Widyaiswara LPMP Sumbar) – Mulai tahun pelajaran baru ini, akan segera diberlakukan Kurikulum 2013. Dalam pelaksanaannya, baru diberlakukan untuk sekolah sasaran yang telah ditetapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, itupun belum untuk semua tingkatan kelas.
Pada sekolah dasar (SD) baru dilaksanakan untuk kelas I dan kelas IV. Sementara  untuk sekolah menengah pertama di kelas VII  dan di sekolah menengah tingkat atas pada kelas X.
Jumlah sekolah sasaran di seluruh Indonesia untuk tingkat SD adalah 2.598, SMP 1.436, SMA 1.270 dan SMK 1.021 dengan jumlah 6.325 sekolah. Untuk Sumatra Barat sekolah sasaran untuk tingkat SD sebanyak 163, SMP 66, SMA 34 dan SMK 14 dengan jumlah keseluruhan 277 sekolah (data LPPKS-BPSDMPK, Juni 2013).
Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan scientific (pendekatan ilmiah). Pendekatan ini meliputi mengamati, menanya, menalar, mencoba, mengolah (Sudarwan, 2013).
Langkah-langkah tersebut tidak selalu dilalui secara berurutan, terlebih pada pembelajaran tematik terpadu untuk sekolah dasar yang pembelajarannya menggunakan tema sebagai pemersatu beberapa muatan pelajaran.  Agar pembelajaran yang dilakukan guru bisa lebih bermakna, perlu diberikan contoh-contoh agar dapat lebih memperjelas penyajian pembelajaran dengan menggunakan pendekatan scientific.
Langkah-langkah pendekatan scientific dapat kita uraikan dalam contoh berikut. Pertama, mengamati. Dalam penyajian pembelajaran di kelas satu sekolah dasar misalnya, guru dan peserta didik perlu memahami apa yang hendak dicatat, melalui kegiatan pengamatan.
Pengamatan bisa dilakukan dengan menggunakan media gambar. Sebagai contoh  pada tema kegiatanku. Peserta didik diajak mengamati gambar rumah di waktu pagi hari, kemudian mereka diajak mengidentifikasi, tentang ciri-ciri rumah.
Dilanjutkan dengan mengajukan berbagai pertanyaan, misalnya apakah di gambar itu termasuk rumah yang bersih, apa syaratnya atau kriterianya rumah yang sehat dan bersih dan sebagainya. Dengan mengamati gambar, peserta didik akan dapat secara langsung menceritakan kondisi sebagaimana yang di tuntut dalam kompetensi dasar dan indikator.
Berbagai muatan pelajaran pun dapat dipadukan dengan media gambar tersebut. Peserta didik akan dapat memperoleh ilmu pengetahuan dengan mengamati gambar rumah yang ditayangkan.
Kedua, menanya. Peserta didik yang masih duduk di kelas satu sekolah dasar tidak mudah diajak bertanya jawab apabila tidak  dihadapkan dengan media yang menarik. Guru yang efektif seyogyanya mampu menginspirasi peserta didik untuk meningkatkan dan mengembangkan ranah sikap, keterampilan dan pengetahuannya.
Pada saat guru bertanya, pada saat itu pula dia membimbing atau memandu peserta didiknya belajar dengan baik. Ketika guru menjawab pertanyaan peserta didiknya, ketika itu pula dia mendorong peserta didiknya untuk menjadi penyimak dan menjadi pembelajar yang baik.
Dalam memberikan pertanyaan, guru juga bisa memadukan dan mengakomodasi muatan pelajaran Bahasa Indonesia, apakah untuk aspek mendengarkan dan berbicara. Demikian juga untuk muatan pelajaran IPA guru bisa menayakan apa ciri-ciri rumah bersih dan sehat, demikian juga untuk muatan pelajaran  Matematika tentang bangun datar dan bangun ruang.
Ketiga, menalar. Apabila dikaitkan dengan contoh yang disajikan di atas, maka istilah menalar dalam kerangka proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah yang dianut dalam Kurikulum 2013 adalah untuk menggambarkan guru dan peserta didik merupakan pelaku aktif.
Titik tekannya tentu dalam banyak hal dan situasi peserta didik harus lebih aktif dari pada guru. Penalaran adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-kata empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Penalaran dimaksud merupakan penalaran ilmiah, meski penalaran non ilmiah tidak selalu tidak bermanfaat.
Istilah menalar di sini merupakan kemampuan mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan beragam peristiwa untuk kemudian memasukannya menjadi penggalan memori. Selama mentransfer peristiwa-peristiwa khusus ke otak, pengalaman tersimpan dalam referensi dengan peristiwa lain dalam kegiatan eksplorasi dan elaborasi.
Keempat, mencoba. Untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau otentik, peserta didik harus mencoba atau melakukannya sendiri, terutama untuk materi atau substansi yang sesuai. Pada mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas satu misalnya, peserta didik harus memahami konsep-konsep IPA yang ada dalam Bahasa Indonesia dan kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.
Peserta didik pun harus memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam sekitar, serta mampu menggunakan metode ilmiah dan bersikap ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari.
Kelima, mengolah. Pada tahapan ini peserta didik  sedapat mungkin dikondisikan belajar secara kolaboratif. Pada pembelajaran kolaboratif fungsi guru lebih bersifat direktif atau manajer belajar, sebaliknya, peserta didiklah yang harus lebih aktif. (*)

Categorised in:

No comment for Pendekatan Scientific

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>