Toko Taki
Menu Click to open Menus
Home » Opini » Pendidikan Karakter dan Kurikulum 2013

Pendidikan Karakter dan Kurikulum 2013

(66 Views) June 25, 2013 8:05 am | Published by | No comment

H.M. Farid Wajri R.M (Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SMP Islam Raudhatul Jannah Kota Payakumbuh) – Pendidikan karakter dan Kurikulum 2013 jelas berbeda, namun ada kesamaan antara keduanya. Bila pendidikan karakter atau lebih tepatnya karakter bangsa berupaya menerapkan nilai-nilai luhur bangsa, maka semangat Kurikulum 2013 dilandasi oleh perlunya pembentukan karakter.  

Secara hukum, Pendidikan karakter diawali dari Instruksi Presiden No.1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010 Prioritas 2 Pendidikan dengan sasaran terwujudnya kurikulum dan metode pembelajaran aktif berdasarkan nilai-nilai budaya bangsa untuk membentuk daya saing dan karakter bangsa. Tanggung jawab ini diamanahkan kepada Kementerian Pendidikan Nasional –sekarang bernama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Melalui Badan yang ada di bawahnya –yaitu Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum– , Kementerian Pendidikan berhasil menyelesaikan tugasnya mengembangkan pendidikan budaya dan karakter bangsa.
Karakter bangsa yang dihasilkan itu berjumlah 18, yakni: 1. Religius 2. Jujur 3. Toleransi 4. Disiplin 5. Kerja Keras 6. Kreatif 7. Mandiri 8. Rasa Ingin Tahu 9. Demokratis 10. Semangat Kebangsaan 11. Cinta Tanah Air 12. Menghargai Prestasi 13. Bersahabat/Komuniktif 14. Cinta Damai 15. Gemar Membaca 16. Peduli Lingkungan 17. Peduli Sosial 18. Tanggungjawab.
Sekolah mengintegrasikan nilai-nilai ini kedalam mata pelajaran, pengembangan diri, dan budaya sekolah. Guru dan sekolah mengintegrasikan nilai-nilai ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Silabus dan Rencana Program Pembelajaran (RPP) yang sudah ada.
Terlepas sudah sejauhmana sosialisasinya ke seluruh wilayah nusantara dan seberapa persen keberhasilan penerapannya serta seberapa pula mutu dari pada kesuksesan yang baru berjalan lebih kurang 2 tahun itu, dunia pendidikan khususnya di tingkat sekolah dihadapkan pada tantangan pengaplikasian kurikulum baru. Kurikulum yang dianggap sebagai penyempurnaan dari pada KTSP 2006.
Kurikulum 2013 SMP
Mata pelajaran adalah unit organisasi terkecil dari Kompetensi Dasar. Untuk kurikulum SMP/MTs, organisasi Kompetensi Dasar dilakukan dengan cara mempertimbangkan kesinambungan antarkelas dan keharmonisan antarmata pelajaran yang diikat dengan Kompetensi Inti. Berdasarkan pendekatan ini maka terjadi reorganisasi Kompetensi Dasar mata pelajaran sehingga Struktur Kurikulum SMP/MTs menjadi lebih sederhana karena jumlah mata pelajaran dan jumlah materi berkurang.
Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dituliskan bahwa Kompetensi Dasar adalah kemampuan untuk mencapai Kompetensi Inti yang harus diperoleh Peserta Didik melalui pembelajaran. Kompetensi Inti adalah tingkat kemampuan untuk mencapai Standar Kompetensi Lulusan yang harus dimiliki seorang Peserta Didik pada setiap tingkat kelas atau program. Standar Kompetensi Lulusan adalah kriteria mengenai kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Kompetensi Inti merupakan terjemahan atau operasionalisasi Standar Kompetensi Lulusan dalam bentuk kualitas yang harus dimiliki mereka yang telah menyelesaikan pendidikan pada satuan pendidikan tertentu atau jenjang pendidikan tertentu. Ia sebagai gambaran mengenai kompetensi utama yang dikelompokkan ke dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan (afektif, kognitif, dan psikomotor) yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas dan mata pelajaran. Kompetensi Inti harus menggambarkan kualitas yang seimbang antara pencapaian hard skills dan soft skills.
Kompetensi Inti berfungsi sebagai unsur pengorganisasi (organising element) Kompetensi Dasar. Sebagai unsur pengorganisasi, Kompetensi Inti merupakan pengikat untuk organisasi vertikal dan organisasi horizontal Kompetensi Dasar. Organisasi vertikal Kompetensi Dasar adalah keterkaitan antara konten (baca: isi) Kompetensi Dasar satu kelas atau jenjang pendidikan ke kelas/jenjang di atasnya sehingga memenuhi prinsip belajar yaitu terjadi suatu akumulasi yang berkesinambungan antara konten yang dipelajari siswa. Organisasi horizontal adalah keterkaitan antara konten Kompetensi Dasar satu mata pelajaran dengan konten Kompetensi Dasar dari mata pelajaran yang berbeda dalam satu pertemuan mingguan dan kelas yang sama sehingga terjadi proses saling memperkuat.
Kompetensi Inti dirancang dalam empat kelompok yang saling terkait yaitu berkenaan dengan sikap keagamaan (Kompetensi Inti 1), sikap sosial (Kompetensi Inti 2), pengetahuan (Kompetensi Inti 3), dan penerapan pengetahuan (Kompetensi Inti 4). Keempat kelompok itu menjadi acuan dari Kompetensi Dasar dan harus dikembangkan dalam setiap peristiwa pembelajaran secara integratif. Kompetensi yang berkenaan dengan sikap keagamaan dan sosial dikembangkan secara tidak langsung (indirect teaching) yaitu pada waktu peserta didik belajar tentang pengetahuan (Kompetensi Inti 3) dan penerapan pengetahuan (Kompetensi Inti 4).
Kompetensi Inti SMP/MTs untuk semua mata pelajaran sama. Juga Kompetensi Inti 1 dan 2 sama, bahkan di tingkat kelasnya. Masing-masingnya ialah: Kompetensi Inti 1 Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya dan Kompetensi Inti 2 Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya. Kompetensi Inti 3 dan 4 berbeda antara kelas VII di satu sisi dan kelas VIII serta IX di sisi lain. Untuk di kelas VII tiap-tiapnya ialah: Kompetensi Inti 3 Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata dan Kompetensi Inti 4 Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, mem baca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori.
Sementara di kelas VIII serta IX dibedakan Kompetensi Inti 3 dan 4, yaitu (3-nya) dengan kalimat “Memahami dan menerapkan pengetahuan”, jadi ada menerapkan. Dan (4-nya) dengan kalimat “Mengolah, menyaji, dan menalar” jadi ada penghilangan kata mencoba dan diganti dengan menalar.
Mata pelajaran terbagi dalam dua kelompok. Kelompok A adalah kelompok mata pelajaran yang kontennya dikembangkan oleh pusat. Terdiri atas 7 mata pelajaran, yaitu: 1. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, 2. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, 3. Bahasa Indonesia, 4. Matematika, 5. Ilmu Pengetahuan Alam, 6. Ilmu Pengetahuan Sosial, dan 7. Bahasa Inggris. Mata pelajaran Kelompok B adalah kelompok mata pelajaran yang kontennya dikembangkan oleh pusat dan dilengkapi dengan konten lokal yang dikembangkan oleh pemerintah daerah, yang terdiri atas 3 mata pelajaran, yakni: 1) Seni Budaya, 2) Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan, dan 3) Prakarya
IPA dan IPS dikembangkan sebagai mata pelajaran integrative science dan integrative social studies, bukan sebagai pendidikan disiplin ilmu. Keduanya sebagai pendidikan berorientasi aplikatif, pengembangan kemampuan berpikir, kemampuan belajar, rasa ingin tahu, dan pengembangan sikap peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sosial dan alam. Di samping itu, tujuan pendidikan IPS menekankan pada pengetahuan tentang bangsanya, semangat kebangsaan, patriotisme, serta aktivitas masyarakat di bidang ekonomi dalam ruang atau space wilayah Indonesia. IPA juga ditujukan untuk pengenalan lingkungan biologi dan alam sekitarnya, serta pengenalan berbagai keunggulan wilayah nusantara.
Seni Budaya terdiri atas empat aspek, yakni seni rupa, seni musik, seni tari, dan seni teater. Masing-masing aspek diajarkan secara terpisah dan setiap satuan pendidikan dapat memilih aspek yang diajarkan sesuai dengan kemampuan (guru dan fasilitas) pada satuan pendidikan itu. Substansi muatan lokal termasuk bahasa daerah diintegrasikan ke dalam mata pelajaran Seni Budaya. Substansi muatan lokal yang berkenaan dengan olahraga serta permainan daerah diintegrasikan ke dalam mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan. Prakarya terdiri atas empat aspek, yakni kerajinan, rekayasa, budidaya, dan pengolahan. Masing-masing aspek diajarkan secara terpisah dan setiap satuan pendidikan menyelenggarakan pembelajaran prakarya paling sedikit dua aspek prakarya sesuai dengan kemampuan dan potensi daerah pada satuan pendidikan itu. Prakarya merupakan mata pelajaran yang berdiri sendiri.
Selain kegiatan intrakurikuler seperti yang tercantum di dalam struktur kurikulum diatas, terdapat pula kegiatan ekstrakurikuler SMP/MTs antara lain Pramuka (Wajib), OSIS, UKS dan PMR.
Dalam struktur kurikulum SMP/MTs ada penambahan jam belajar per minggu. Sekarang untuk masing-masing kelas VII, VIII, dan IX berjumlah 32, 32, dan 32. Maka nanti menjadi 38, 38 dan 38 Sedangkan lama belajar untuk setiap jam belajar di SMP/MTs tetap yaitu 40 menit.
Dengan adanya tambahan jam belajar ini dan pengurangan jumlah Kompetensi Dasar, guru memiliki keleluasaan waktu untuk mengembangkan proses pembelajaran yang berorientasi siswa aktif belajar. Misalnya belajar perkalian. Bila selama ini proses pembelajaran berupa ‘dua kali dua sama dengan berapa? Maka nanti akan berubah dalam bentuk pertanyaan ‘berapa kali berapakah yang sama dengan 4? Jawabannya dapat berupa satu kali empat, empat kali satu, dua kali dua, setengah kali delapan, atau serempat kali enam belas.
Tentu saja kita berharap fenomena-fenomena negatif yang mengemuka seperti perkelahian pelajar, narkoba, korupsi, plagiarism, kecurangan dalam ujian, gejolak masyarakat (social unrest) berkurang dan dapat diturunkan. Jangan ada lagi kekerasan sebagai satunya cara memecahkan masalah.
Empati dan simpati yang dibiasakan dapat mencairkan kebisuan juga bisa menjernihkan kekeruhan. Komunikasi yang bersahabat.
Kurikulum yang akan diterapkan ini memandang peserta didik sebagai pelaku (baca: subjek). Guru sebagai fasilitator. Siswa aktif. Guru bertugas memfasilitasi atau merencanakan dan melaksanakan pembelajaran untuk menjadikan aktifnya peserta didik sebagai jaminan. Guru mengerahkan kemampuannya merangsang siswa agar aktif selama PBM berlangsung. Berhasilkah harapan ini? Kita tunggu. Bravo Kurikulum 2013. (*)

Categorised in:

No comment for Pendidikan Karakter dan Kurikulum 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>