Pengusaha Hari Ichlas Berbagi Kisah Sukses kepada Mahasiswa Unand

Wakil Rektor II Unand, Asdi Agustar menyerahkan penghargaan kepada Hari Ichlas (ist)
Wakil Rektor II Unand, Asdi Agustar menyerahkan penghargaan kepada Hari Ichlas (ist)

PADANG – Kesuksesan yang diraih tidak datang begitu saja. Butuh kerja keras dan merasakan bagaimana yang namanya sulit itu. Dia juga harus jujur, berkomitmen, serta mau belajar dari orang-orang sukses. Dan yang terpenting adalah bersyukur kepada Allah SWT.

“Setelah sukses, jangan pula cepat puas diri. Justru di sini yang diminta betul bagaimana dapat menjaga ambisi, punya visi ke depan serta membangun dan menjaga koneksi antar manusia,” kata Bos Kestrelindo Group, Hari Ichlas di hadapan ratusan mahasiswa di Vonvention Hall Universitas Andalas, Limau Manis, Padang, Selasa (22/11).

Dalam kuliah umum kewirausahaan itu, pengusaha sukses asal Minang di perantauan ini memberikan kisi-kisi sukses bagi mahasiswa yang ingin menjadi pengusaha muda. Paparannya yang lugas, mantap dan adakalanya sedikit nyeleneh membuat ratusan mahasiswa yang memadati ruangan itu, asyik mengikutinya.

“Ada kebiasaan yang biasa kita lihat, kalau sudah sukses, merasa puas dan tidak mau lagi berimprovivasi. Bahkan tak jarang pula, gadang lagak. Berpenghasilan cukup tinggi Rp10 juta, tapi tampilannya seperti Rp20 juta. Ini harus dihilangkan. Menjadi entrepreneur (wirausahawan), sikap itu tidak ada,” terang Hari.

Hari sendiri untuk bisa sukses dan berada di level nasional saat ini tidaklah mudah. Medan sangat berat dilalui. Hambatan dan tantangan banyak dihadapi. Tapi tekad dan komitmen yang ditanamkan dalam diri membuat dia harus melepaskan diri dari belenggu ‘kemiskinan’ untuk menjadi seorang entrepreneur.

Dia bercerita, saat lulus kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara (USU) pada 1980, hatinya senang, termasuk orang tuanya. Namun di tahun kedua, Hari mulai berpikir apalagi keadaan orangtua tidak mampu dan adiknya juga butuh biaya sekolah sehingga sulit rasanya menamatkan kuliah.

Akhirnya dia balik ke Padang dan menyampaikan niat kepada orang tuanya untuk merantau ke Jakarta mencari kerja agar bisa membantu keluarga.

“Awalnya orang tua saya menolak, karena mengharapkan saya menjadi pegawai. Apalagi ibu saya seorang guru. Tapi karena tekad sudah bulat, akhirnya orang tua mengikhlaskan saya merantau. Dengan catatan, jangan mengadu ke sanak famili selama di rantau,” kenang Hari.

Hari muda merantau ke Jakarta dengan modal Rp35 ribu. Itupun bantuan teman yang memiliki bengkel ban. Temannya itu memberikan lima unit ban bekas kepada Hari untuk dijual. Uang ini tidak dipakai untuk ongkos, tapi cadangan selama di jalan. “Saya berangkat ke Jakarta dengan kapal ikan dan Alhamdullillah selamat tiba di Pelabuhan Tanjung Priok,” katanya.

Tiga bulan pertama di perantauan, Hari membantu temannya berjualan di Tanah Abang, sambil mencari koneksi. Dan akhirnya diterima bekerja di perusahaan distributor pecah belah di Pasar Glodok yang kebetulan bosnya orang Padang.

“Selama bekerja di sana, saya selalu meningkatkan performance dan mendedikasikan diri untuk perusahaan tersebut dengan menganggapnya sebagai perusahaan sendiri, akhirnya bos simpatik dan mempercayakan saya. Inilah yang saya pegang teguh,” tuturnya.

Karena selama di sana, relasi perusahaan kebanyakan orang Tiongha, maka Hari pun mulai membangun networking dengan pengusaha-pengusaha Tionghoa dan daerah lainnya. Dari sini, dia terus kembangkan sayap dan berkenalan dengan berbagai pengusaha hebat sekaligus juga menggarap bisnis di sektor lain. “Utamanya saya wajib dan selalu bersyukur kepada Allah SWT, karena semua itu datang dari-Nya,” kata dia.

Tak hanya itu, di berbagai perusahaan lain, Hari tidak hanya memperkerjakan orang Indonesia saja. Bahkan beberapa tenaga teknisi ahli dari Eropa saat ini juga bekerja untuknya di salah satu pabrik aluminium.

Sekarang Hari mengibarkan sayap pula di bidang kesehatan, dengan mendirikan rumah sakit Satria Medika di Bekasi, Jawa Barat. Fasilitas berkelas dan lengkap, tapi tarif di bawah rata-rata karena Hari ingin di sini juga mengedepankan nilai sosial.

“Jadi untuk menjadi enterpreneur itu harus kuat mental dan pandai cari mementum. Dalam menjalani, wajib menjaga pentingnya membangun brand image personality dibanding financial, seperti bersyukur kepada Allah SWT, berkomitmen, harus mengenal kekuatan kita, jangan cepat puas diri, dapat menjaga ambisi,” tuturnya.(pen)