Perjalanan Religi , Kang Anom Gowes dari Bandung ke Aceh

Kang Anom bersama sahabat, Otong Rosadi dan Ketua Paguyuban Warga Sunda Sumbar, Kang Aji. (lenggogeni)

PADANG – Ratusan kilomer sudah dilalui Supriadi dengan mengayuh sepeda. Demi perjalanan religi dari Bandung ke Masjid Baiturahman, Aceh. Rabu, (12/12) Kang Anom begitu sapaan akrabnya baru sampai di Padang. Setelah menyeberang laut Jawa dan beberapa kota di Pulau Sumatera. Masih ada ribuan kilometer lagi untuk sampai tujuan.

“Saya memulai perjalanannya dari KM Nol Bandung di Jalan Asia Afrika, atau tepatnya di depan Kantor Dinas Binamarga, Jawa Barat menuju Banda Aceh,” kata Kang Anom didampingi sahabatnya Dekan Fakultas Hukum Universitas Ekasakti, Otong Rosadi.

Kepergian Kang Anom dilepas teman-teman dari komunitas sepeda dan sesama alumni sekolahnya dulu, SMAN 15 Bandung angkatan 88. Selama perjalanan di beberapa kota, Kang Anom disambut hangat sahabat-sahabatnya. Tak terkecuali, di Padang. Ia disambut hangat Otong Rosadi, sahabat semasa SMA dulu dan Ketua Paguyuban Warga Sunda Sumbar, Kang Aji.

Tingginya hasrat di dada Supriadi melihat kekokohan Masjid Baiturahman membulatkan tekadnya mengayuh sepeda dari Bandung menuju Banda Aceh.

“Saya ingin sholat di Masjid Baiturahman. Masjid yang tidak
hancur dan hanyut diterjang gempa bumi disertai tsunami 2014 silam. Itu tanda kebesaran sang pencipta kepada umatnya,” ciloteh ayahanda dari Oscar Aldita, Norman Aldita.

Kang Anom merealisasikan tersebut dengan mengayuh sepeda dari Bandung hingga Aceh. Perjalanan ibadah itu tidak mudah baginya, karena umurnya sudah tidak muda lagi, 49 tahun.

Ia beralasan, perjalanan ini merupakan salah satu rasa kagum dan syukur kepada Allah.  sekaligus, sebuah upaya mempertebal keimanan dengan cara menjelajahi kekayaan alam hasil ciptaan-Nya.

“Dengan mengayuh sepeda, saya bisa melihat keindahan dan kebesaran Allah SWT. Mulai dari keindahan alam dan karakter orang Sumatera. Terutama pelajaran hidup selama  perjalanan,” jelas suami Rita Jatmika yang mendukung keinginannya.

Sebelum berangkat, ia mempersiapkan segala sesuatu terlebih dahulu. Mulai memodifikasi sepeda, berlatih keras, serta menguji sejauh mana kemampuan saat bersepeda. Bukan hanya sekadar mengayuh, Kang Anom pun memberi beban pada sepedanya sebagai latihan supaya lebih kuat. Kemudian membawa bekal seadanya, mulai dari pakaian, makanan, radio kecil hingga jas hujan. Berat barang bawaan Kang Anom sekitar 22 kilogram.

“Dengan perlengkapan seadanya, alhamdullilah perjalanan saya dilancarkan dan dilindungi Allah,” ucap Kang Anom yang tampak segar bugar setelah menempuh perjalanan jauh.

Selama perjalanan ada pertolongan sang pencipta melalui hambanya di muka bumi ini.

“Ada saja pengalaman yang saya temui. Allah memperlihatkan kuasanya. Itu dimudahkan,” kata Kang Anom yang istirahat setiap Jumat. Selama perjalanan ia tak lupa shalat lima waktu. Malam tiba ia pun istirahat di masjid terdekat.

Sekitar 3.200 kilometer jarak tempuh akan dilalui Kang Anom. Diperkirakan, menghabiskan waktu satu bulan untuk sampai di Banda Aceh. Rutenya, melalui beberapa tempat wisata di Sumatera. Seperti  pantai barat Sumatera, dari Bakauheni, Lampung, menuju Bengkulu, kemudian melewati jalur Sumatera Barat dan Sumatera Utara.

Perjalanan yang bermakna ini telah diniatkannya sebagai ibadah. Karena di akhir tujuan, dirinya ingin sesegera mungkin melaksanakan shalat di masjid yang dibangun Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam pada 1022 H/1612 M ini. Ia pun berharap, supaya diberi kelancaran dalam perjalanan religinya ini. (lenggo)