Pertamina Andalan Indonesia untuk Penyediaan Energi Nasional

Masalah-masalah Timur Tengah

Pergolakan-pergolakan dramatis di Timur Tengah sejak Arab Spring mulai. Semua prihatin akan apa yang terjadi di sana. Sebagai sesama manusia yang mengasihi saudara-saudari yang dirundung bahaya.

Indonesia juga harus peduli karena peristiwa-peristiwa di sana dapat mempengaruhi harga minyak yang berimbas secara masif pada ketahanan energi, serta kesejahteraan perekonomian.

Beberapa bulan terakhir, media sudah tidak menyoroti kejadian-kejadian karena sudah bosan dengan Arab Spring. Namun ketegangan di sana terus mengeskalasi di banyak wilayah. Begitu banyak eksportir minyak utama telah terekspos secara langsung maupun secara tidak langsung oleh turbulansi politik sehingga harus mengikuti perkembangan di daerah rawan itu dengan seksama.

Menurut laporan World Energy Outlook 2012 oleh International Energy Agency, Asia diprediksi akan menyerap 90 persen ekspor minyak Timur Tengah di masa mendatang.

Oleh karena itu, Indonesia sangat bergantung pada perkembangan-perkembangan seperti ini. Runtuhnya salah satu dari negara-negara yang sedang mengalami masalah politik ini dapat menular ke negara-negara lain di region itu, menyebabkan gelombang di seluruh region: ketergantungan pada minyak impor juga tidak akan melewatkan Indonesia.

Oleh karena itu Indonesia harus secara proaktif mengatasi risiko ini. Untungnya, Indonesia berada di posisi yang lebih baik dibandingkan negara-negara lainnya dalam menekan ketergantungan pada minyak karena Indonesia menikmati berbagai anugerah sumber daya energi alternatif. Salah satu contohnya adalah gas alam, yang terbukti dapat menjadi penyelamat dalam situasi minyak saat ini.

Fokus pada gas alam dan gas-gas nonkonvensional

Menurut badan regulasi minyak dan gas terdahulu, BP Migas, perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Indonesia memproduksi 8,8 miliar cubic feet gas alam per hari di tahun 2011, atau 1,5 juta barel setara minyak, yaitu dua-pertiga lebih banyak daripada produksi minyak. Terlebih, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pada tahun 2011 memperkirakan bahwa Indonesia mempunyai sumber daya gas sebesar 335 triliun cubic feet, setara dengan 59,6 miliar barel minyak.

Jika semua data ini akurat, seharusnya meningkatkan kecepatan dalam mengalihkan energy mix untuk merefleksi konsumsi gas alam yang lebih tinggi. Untuk itu, kita pertama-tama harus memastikan bahwa ada keberlangsungan di sektor tersebut, terutama karena kegiatan ekplorasi telah stagnan di beberapa tahun belakangan ini dan tidak cukup untuk menggantikan lapangan-lapangan yang menua.

“Saya yakin bahwa untuk mencapai potensi maksimum kita, kita tidak boleh takut untuk berhubungan dengan ahli-ahli asing dan kerjasama dengan pihak asing yang dapat membantu kita meningkatkan infrastruktur dan pengetahuan energi kita,” ujarnya.

Penemuan gas di Selat Makassar baru-baru ini, yaitu blok Masela dan blok Natuna Timur menunjukkan potensi yang menjanjikan. Blok Natuna Timur sendiri, memiliki gas alam sebesar 46 triliun cubic feet yang diperkirakan dapat diekstrak untuk processing.

Menilik kegiatan-kegiatan semacam itu di masa mendatang, kerjasama dengan pihak asing akan memungkinkan untuk mengadopsi praktek terbaik dan teknologi yang ada di dunia, memotong kurva belajar secara signifikan.

Contohnya, Pertamina telah memimpin sebuah konsorsium termasuk Exxon Mobil dan Total sejak 2010 untuk mengamankan pasar bagi gas dari lapangan Natuna Timur. Kesimpulan dari studi konseptual dan analisa cadangan yang dapat dihasilkan yang diharapkan akan rampung dalam tahun ini, dimana rencana-rencana yang lebih mendetil akan dihasilkan.

Kerjasama seperti ini memberikan efek knock-on pada perusahaan-perusahaan lokal karena mereka belajar dari pengalaman-pengalaman rekan-rekan asing, sehingga membantu proyek-proyek lain, seperti blok Mahakam di Kalimantan Timur dimana pengetahuan akan operasi di laut dalam sedang dikembangkan.

Pemerintah hendaknya membantu mencari cara dimana dapat meningkatkan kerjasama dengan perusahaan-perusahaan asing sehingga dapat mengembangkan sektor ini lebih lanjut, untuk menggantikan minyak sebagai sumber energi yang berkelanjutan dalam jangka panjang.