Pertamina Andalan Indonesia untuk Penyediaan Energi Nasional

Gas Metana Batubara untuk waktu dekat

Karena Indonesia kaya akan gas, seharusnya juga mengeksplorasi gas-gas nonkonvensional sebagai kemungkinan pilihan untuk menggantikan minyak. Gas Metana Batubara dapat menjadi salah satu pilihan yang baik.

Gas Metana Batubara adalah gas yang serba guna yang dapat memenuhi kebutuhan berbagai market. Gas ini juga sangat ekonomis, di harga setengah dari harga diesel, bersih, dan menggunakan teknik ekstraksi yang lebih efisien sehingga berdampak minimal pada lingkungan.

Selain manfaat-manfaat yang sudah disebutkan, Gas Metana Batubara juga lebih ekonomis karena biaya-biaya eksplorasi lebih rendah dibandingkan biaya eksplorasi sumur-sumur konvensional. Menurut CMB Asia Development Corp yang berbasis di Kanada, biaya pengeboran per sumur saat ini diperkirakan sekitar USD 1 juta dengan menggunakan rig berkekuatan 500 hingga 700 tenaga kuda. Biaya pengeboran ini lebih menguntungkan dibandingkan biaya pengeboran onshore convensional di Indonesia yang menelan biaya sekitar USD 10 hingga USD 30 juta per sumur.

Selain itu, cadangan Gas Metana Batubara yang diperkirakan di keenam terbesar di dunia, seharusnya membuat Indonesia meningkatkan kecepatan dalam mengembangkan sumber daya nonkonvensional ini.

Gas Metana Batubara sebagai pilihan kepercayaan Pertamina pada masa depan. Pertamina berencana untuk menginvestasi sekitar US$1,5 miliar untuk mengembangkan 200 sumur eksplorasi CBM dalam lima tahun mendatang, dengan kemungkinan untuk meningkatkan investasi jika target produksi dinaikkan.

Dalam jangka lebih panjang, Indonesia seharusnya juga merencanakan ekstrasi gas-gas nonkonvensional lainnya, seperti shale gas, yang akhir-akhir menjadi pusat perhatian sesudah Amerika Serikat berhasil dalam area ini. Namun untuk saat ini, marilah maju selangkah demi selangkah dan berkonsentrasi pada memaksimalisasi Gas Metana Batubara sebagai prioritas utama.

Indonesia harus selalu ingat bahwa gas alam tetaplah bahan bakar fosil. Meskipun gas merupakan komponen penting dalam perekonomian sekarang, gas alam tidak dapat menjadi solusi untuk seluruh kebutuhan energi. Justru gas alam haruslah bertindak sebagai jembatan yang mengantarkan kita ke ekonomi rendah-karbon berdasarkan energi terbarukan. Gas alam akan menekan ketergantungan kita pada minyak untuk saat ini.

Kedua, menciptakan energi mix yang terdiversifikasi melalui energi terbarukan. Sekitar 71% dari konsumsi energi primer di Indonesia selama 2011 adalah hidrokarbon. Tren dalam menggunakan hidrokarbon seperti minyak, gas dan batubara diprediksi akan tetap mendominasi energi konsumsi di masa depan. Indonesia harus menyadari bahwa di level konsumsi saat ini, sumber-sumber daya ini bisa segera habis.

Intensitas karbon seperti ini tidak hanya akan menyebabkan risiko yang serupa dengan ketergantungan pada minyak, namun juga kekhawatiran akan polusi berlebihan dan emisi gas rumah kaca. Contohnya, meningkatnya emisi dapat meningkatkan tekanan internasional untuk mengurangi level emisi karbon berlebihan, seperti yang dapat kita lihat di Cina dan India. Secara domestik, ketergantungan pada minyak dan gas akan memperburuk polusi di kota-kota besar, seperti Jakarta.

Oleh karena itu, energy mix seperti ini tidak dapat berlangsung dalam jangka panjang. Indonesia harus melakukan sesuatu untuk mendiversifikasikan energi mix dan mengurangi konsumsi hidrokarbon.

Generasi masa depan tidak seharusnya menanggung akibat dari ketiadaan tindakan manusia hari ini. Pemerintah Indonesia mengakui bahwa cepat atau lambat Indonesia dan seluruh dunia harus meninggalkan minyak mentah sebagai sumber listrik utama.

Alhasil, rencana-rencana jangka panjang telah dibuat untuk membangun sebuah energy mix yang melibatkan porsi sumber daya energi terbarukan yang lebih besar. Contohnya, pemerintah telah berencana untuk meningkatkan pembangkit listrik tahunan kita yang berasal dari sumber-sumber terbarukan hingga sekitar 99 juta ton setara minyak pada 2025. Saat ini, angkanya baru pada 10 juta ton setara minyak.

Namun, perbincangan untuk mempromosi perkembangan energi terbarukan telah berlangsung sangat lama dan tetap masih kurang berprestasi. Karen percaya bahwa Indonesia dapat mendorong diri untuk lebih cepat mencapai target-target energi terbarukan.

Sumber panas bumi

Untuk mempercepat langkah di bidang ini, harus memanfaatkan kekuatan yang sudah ada. Tak dapat dipungkiri, Indonesia langsung diarahkan ke energi panas bumi.

Lokasi geografis yang berada di atas Cincin Api Pasifik telah menganugerahi Indonesia dengan potensi panas bumi yang tak terkira. Energi panas bumi bukan hanya bersih dan terbarukan, namun juga membutuhkan ruang yang lebih kecil dibandingkan energi terbarukan lain seperti energi surya dan energi angin. Panas bumi juga memberikan persediaan yang dapat diprediksi dan konstan, tak terpengaruh oleh kondisi cuaca maupun waktu.

Potensi sumber daya panas bumi Indonesia diestimasi dapat menghasilkan listrik sebesar 29.000 megawat jika dieksploitasi dengan sepenuhnya. Saat ini kita hanya menggunakan 1.200 megawat listrik yang berasal dari energi panas bumi, yang menunjukkan jauhnya kita dari mengambil manfaat dari kondisi alam kita.

Sebagaimana berbagai inisiatif yang ditujukan untuk mengembangkan sumber energi terbarukan, kegiatan eksploitasi panas bumi juga dipengaruhi oleh kurangnya kerangka suportif pemerintah.

Namun kabar baiknya adalah Indonesia mempunyai kesempatan besar untuk mengejar. Sejumlah investor telah memasuki sektor ini di tahun-tahun belakangan ini termasuk konglomerat Jepang Sumitomo dan konglomerat India Tata Energy.

Juga ada perkembangan di level makro. Tahun lalu, pemerintah Indonesia dan pemerintah Selandia Baru menandatangani perjanjian kerja sama energi panas bumi. Selandia Baru telah aktif dalam mengembangkan energi panas bumi, yang telah berkontribusi pada 70 persen porsi energi terbarukan mereka.

Oleh sebab itu, pengalaman mereka ditambah dengan kapasitas alami kita untuk berkembang dapat menjadi titik ubah. Saya sangat berharap dan optimistik bahwa kita akan mampu maju pesat di area energi ini untuk memperkuat ketahanan energi kita.

Sumber energi terbarukan lainnya: khususnya produksi biofuel dan bioethanol. Selain sumber panas bumi, juga ada sumber-sumber energi terbarukan lainnya yang layak dipertimbangkan pula.

Misalnya biofuel. Indonesia memiliki cadangan biomass yang besar dari industri pertanian, termasuk gula, karet dan minyak sawit. Oleh karena itu, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi pusat produksi biofuel, meskipun saat ini terbatasi oleh kenyataan bahwa sumber-sumber biofuel banyak diekspor karena harga makanan yang tinggi.

Sumber daya lainnya yang berpotensi untuk berkembang adalah bioethanol. Perkembangan bahan bakar ini telah menjadi bagian dari rencana Indonesia untuk mengurangi impor energi dan meningkatkan standar kualitas udara.

Rencana untuk memproduksi 10 persen campuran bahan bakar ethanol beroktan tinggi pada tahun 2020 telah menggantikan impor minyak tanah sebesar lebih dari 30 juta barel per tahun, umumnya untuk sektor transportasi.

Indonesia dapat mencontoh Brazil dimana pemerintah mereka sangat berhasil mengembangkan bioethanol. Pemerintah Brazil mulai berinvestasi besar-besaran untuk produksi ethanol sejak krisis minyak di tahun 1973. Keberhasilannya membuat bioethanol mampu berperan dalam membebaskan negara itu dari ketidakpastian pasar minyak.

“Tapi saya harus memperingatkan. Kita tidak boleh menunggu krisis menghantam untuk mengambil langkah serupa.”

Ada banyak sumber-sumber energi terbarukan lainnya di Indonesia yang dapat digunakan. Termasuk tenaga hidro dan tenaga laut, angin laut dan tenaga surya.

Secara keseluruhan, sektor gas alam dan energi terbarukan memiliki potensi pengembangan yang luar biasa. Langkah-langkah ini harus didukung oleh pemerintah agar mampu berkembang. Namun, satu isu yang menghantui pemerintah selama bertahun-tahun dan mengakibatkan dampak yang lebih besar daripada perkiraan membawa saya ke poin ke tiga, yaitu poin terakhir.

Ketiga, Beban subsidi bahan bakar harus dikurangi untuk membebaskan pendanaan penting. Banyak pengamat selama beberapa tahun terakhir telah menyuarakan bahwa Indonesia tengah bermain api dengan program subsidi bahan bakarnya.

Subsidi bahan bakar telah meningkat sejak diperkenalkan pada era 1960an. Tak hanya semakin sulit untuk mempertahankan level yang diinginkan masyarakat Indonesia, subsidi ini telah menjadi penghalang terbesar bagi efisiensi di pasar energi. Pada akhirnya, subsidi ini menghalangi inisiatif-inisiatif penting karena dua hal.

Pertama, subsidi-subsidi ini sangat mahal dimana 20 persen dari APBN saat ini digunakan untuk mendanai subsidi bahan bakar, yang juga berdampak pada budget di masa depan karena membengkaknya pinjaman untuk membiayai defisit anggaran.

Dalam APBN 2013 yang disahkan pada Oktober 2012, pemerintah mengumumkan anggaran sebesar Rp 193 triliun untuk mengsubsidi bahan bakar sebanyak 46 juta kiloliter.

Meskipun sudah besar, kuota yang disediakan setiap tahun tidak mampu mengikuti peningkatan permintaan konsumen. Contohnya, bahan bakar sebanyak 44 juta kiloliter yang dialokasi untuk tahun 2012 telah habis pada bulan November, sehingga membutuhkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat untuk menyetujui penambahan 1,2 juta kiloliter untuk memenuhi permintaan.

Hal ini membuktikan bahwa subsidi telah memutus hubungan antara harga energi dari realitas suplai dan permintaan yang sesungguhnya, membuat masyarakat Indonesia tidak sadar akan harga bahan bakar yang sesungguhnya dan mengkonsumsi dengan berlebihan dan boros.

Kedua, ada misalokasi sumber daya karena subsidi membuat bahan bakar dijual dengan harga yang sangat murah dengan mengorbankan area-area penting lainnya seperti pemberantasan kemiskinan, penyediaan layanan kesehatan dan pembangunan infrastruktur. Contohnya, subsidi-subsidi dalam APBN 2013 melebihi pengeluaran nasional untuk gabungan edukasi, layanan kesehatan dan pekerjaan umum.

Dampaknya besar pada sektor energi. Sebab utama mengapa sektor ini tetap kurang berkembang adalah karena Indonesia mengalami masalah infrastruktur menahun yang membuat investor asing berputar haluan.

Dengan belanja negara untuk infrastructure terus menerus di bawah 3 persen dari GDP, tak heran Indonesia tidak mampu menarik investor asing. Dan seperti yang sudah Karen sebutkan, Indonesia memerlukan partisipasi perusahaan-perusahaan asing untuk memfasilitasi transfer teknologi dan pengetahuan. Mengurangi alokasi dana untuk subsidi bahan bakar akan membebaskan dana untuk pembangunan-pembangunan seperti ini.

Namun menghapus skema ini bukanlah opsi mudah bagi pemerintah karena masyarakat Indonesia sudah terbiasa dengan subsidi bahan bakar. Mungkin diperlukan waktu lama sebelum kita melihat perubahan nyata. Dengan pemilu 2014 yang semakin dekat, partai berkuasa dan oposisi kemungkinan tidak akan membuat kebijakan yang mengurangi subsidi bahan bakar. Tanggung jawab ini mungkin harus ditanggung oleh presiden baru kita.

“Saya berharap saat itu, setidaknya pemerintah dapat meningkatkan harga bahan bakar bersubsidi untuk mengurangi beban subsidi. Hal ini akan membuat harga bahan bakar meningkat sehingga mengerem permintaan karena konsumen harus menanggung sebagian dari beban bahan bakar sementara pemerintah menghemat triliunan rupiah,” ujar Karen.

Tak hanya itu, pemotongan subsidi juga akan menyamaratakan kesempatan bagi sumber-sumber energi lainnya untuk berkompetisi dengan bahan bakar bersubsidi. Hal ini akan mendorong perkembangan energi terbarukan.

Keluar dari sektor energi, pengurangan beban subsidi bahan bakar juga akan membantu masyarakat untuk hidup lebih baik karena dana-dana lebih tersedia dalam membantu mereka mencapai kemajuan berkualitas.

Subsidi bahan bakar hanyalah kelegaan sesaat bagi beban hidup mereka. Dalam jangka panjang, tindakan-tindakan yang lebih berdampak seperti kebijakan edukasi, infrastruktur untuk bisnis dan kehadiran layanan kesehatan yang terjangkau akan jauh lebih meningkatkan kualitas hidup bangsa Indonesia. Hal ini akan membantu kita mencapai Millennium Development Goals kita yang akan mencapai deadline pada tahun 2015.